SERAYUNEWS – Apakah individu dengan obesitas identik dengan penyakit?
Para ahli membahas isu ini dan akhirnya mengelompokkan obesitas menjadi dua kategori serta menggunakan hasil diagnosis untuk memperoleh hasil yang tepat.
Mereka berharap tidak ada lagi prasangka atau diskriminasi terhadap penderita obesitas, yang diperkirakan dialami oleh lebih dari 1 miliar orang di dunia.
Di satu pihak, obesitas juga menjadi faktor peningkat risiko diabetes tipe 2, penyakit jantung, beberapa jenis kanker, dan masalah kesehatan lain.
Itulah sebabnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan obesitas sebagai salah satu penyakit kronis yang rumit.
Setelah menjadi topik diskusi selama bertahun-tahun, komisi ahli mencari jalan tengah dan memperkenalkan dua kategori baru untuk individu yang mengalami obesitas.
Obesitas memang dapat mempengaruhi fungsi organ dari penderitanya, tetapi kondisi ini juga dapat dianggap sebagai suatu penyakit tertentu atau disebut sebagai obesitas klinis.
Kriteria diagnosis untuk obesitas klinis meliputi masalah jantung, hati, pernapasan, kadar kolesterol tinggi, sleep apnea, serta nyeri pada pinggul, lutut, dan kaki, atau masalah-masalah lain yang berdampak pada kehidupan sehari-hari penderitanya.
Individu yang tidak mengalami masalah tersebut dapat dianggap sebagai obesitas praklinis, yang perlu pemantauan tetapi bukan intervensi medis.
Ada banyak faktor yang menyebabkan obesitas, bukan hanya karena pola makan yang buruk.
Sebagaimana melansir dari Healthline, terdapat beberapa pemicu obesitas.
Yang pertama adalah faktor genetik, kondisi obesitas dapat meninggalkan jejak pada silsilah keluarga.
Anak-anak yang lahir dari orang tua yang mengalami obesitas memiliki potensi lebih tinggi untuk mengalami hal serupa daripada anak-anak dari orang tua dengan berat badan normal.
Namun demikian, kondisi ini tidak sepenuhnya mutlak karena apa yang dikonsumsi dapat mempengaruhi gen yang diwariskan atau tidak.
Pemicu selanjutnya adalah makanan olahan dan cepat saji. Makanan olahan sering kali mengandung berbagai zat tambahan, seperti pewarna, pemanis, dan pengawet.
Produk-produk tersebut memang menarik perhatian, banyak orang mengonsumsi, tahan lama, serta dapat membuat ketagihan.
Penyebab berikutnya adalah kecenderungan untuk makan. Secara umum, orang cenderung kecanduan terhadap makanan olahan karena biasanya tinggi kadar gula dan lemak yang akan merangsang otak untuk terus mengonsumsinya.
Ketika seseorang sudah kecanduan makanan olahan, tubuh akan menyimpan semua zat yang berlebih.
Efek samping dari obat juga bisa menjadi pemicu obesitas. Ada beberapa jenis obat yang memiliki efek samping berupa peningkatan nafsu makan.
Pada pasien yang kesulitan dalam mengendalikan nafsu makan, bisa jadi mereka akan mengalami peningkatan berat badan.
Selain itu, memiliki banyak persediaan makanan di rumah dapat mendorong seseorang untuk terus makan, termasuk kemudahan dalam mengakses makanan cepat saji melalui ponsel.
Seringkali obesitas memerlukan perhatian serius dan penanganan yang intensif.
Tindakan utama adalah menerapkan pola hidup yang sehat dan menyesuaikan kebutuhan kalori sehari-hari.
Di samping itu, tetaplah aktif berolahraga agar tubuh dapat membakar kalori. Anda juga bisa menghindati obesitas dengan mengatur asupan kalori dari makanan.
Kurangi konsumsi makanan cepat saji dan yang tinggi gula serta tingkatkan asupan makanan yang lebih sehat seperti sayuran dan buah-buahan.
Apakah Anda siap untuk memulai perjalanan menuju hidup yang lebih sehat?
Dengan memahami penyebab dan solusi obesitas, Anda dapat mengambil kendali atas kesehatan dan menciptakan perubahan positif yang berkelanjutan. Semoga membantu.***