
SERAYUNEWS – Awal tahun 2026 menjadi periode yang penuh tantangan bagi Iran setelah nilai mata uang nasionalnya, rial Iran, terperosok ke posisi terendah dalam sejarah modern negara itu dan kembali menarik perhatian pasar global.
Para pengamat ekonomi menyebutkan bahwa penurunan ini merupakan cerminan langsung dari tekanan sanksi internasional serta kelemahan kebijakan ekonomi dalam negeri yang berdampak signifikan terhadap stabilitas sektor keuangan Iran.
Tekanan itu semakin nyata ketika nilai rial mencapai sekitar 1.470.000 untuk setiap 1 dolar AS, jauh lebih rendah dibandingkan awal tahun 2025 yang masih berada di kisaran 817.500 rial per dolar AS.
Penurunan lebih dari 70 persen dalam satu tahun ini tidak hanya menurunkan daya beli masyarakat, tetapi juga memicu ketidakpastian ekonomi yang memaksa Gubernur Bank Sentral Iran mengundurkan diri.
Di sejumlah negara Eropa, rial bahkan hampir tidak memiliki nilai tukar karena tidak lagi dipakai dalam transaksi resmi dan tidak diterima oleh lembaga keuangan akibat risiko dan sanksi yang masih berlaku.
Penurunan tajam nilai tukar rial Iran merupakan hasil dari kombinasi faktor struktural dan eksternal berikut:
Iran sangat bergantung pada ekspor minyak untuk memperoleh devisa. Namun, sanksi internasional yang diperketat telah membatasi kemampuan negara ini menjual minyak ke pasar global, sehingga mengurangi aliran devisa dan mempersempit cadangan valas.
Larangan akses ke jaringan perbankan global telah membuat transaksi lintas negara semakin sulit bagi lembaga keuangan Iran. Dampaknya, pasokan devisa menjadi sangat terbatas dan permintaan terhadap dolar AS terus meningkat.
Tingkat inflasi yang melonjak di Iran memperlemah daya beli masyarakat. Ketika harga barang dan jasa meningkat cepat, kepercayaan publik terhadap rial otomatis menurun, mempercepat depresiasi nilai tukar.
Perbedaan yang signifikan antara nilai tukar resmi yang ditetapkan pemerintah dan nilai tukar pasar bebas menciptakan peluang arbirase serta spekulasi. Hal ini semakin meruntuhkan kepercayaan pasar terhadap stabilitas moneter Iran.
Kelemahan nilai rial tidak hanya tercermin melalui angka statistik, tetapi telah berubah menjadi krisis nyata yang dirasakan langsung oleh warga Iran, antara lain:
Inflasi pangan melonjak tajam, dengan beberapa laporan menunjukkan kenaikan hingga 75 persen.
Harga kebutuhan pokok seperti daging, telur, dan produk susu kini bisa mencapai dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, membuat banyak keluarga kesulitan mencukupi kebutuhan harian.
Krisis nilai tukar memengaruhi sektor kesehatan. Penghapusan subsidi nilai tukar untuk impor barang penting menyebabkan harga obat-obatan meroket, membuat akses menjadi semakin sulit terutama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.
Untuk menutup defisit anggaran, pemerintah Iran menaikkan target penerimaan pajak secara signifikan dalam Anggaran 2026, hingga 62 persen.
Langkah ini membebani usaha kecil dan menengah, memaksa banyak bisnis tutup dan pekerja kehilangan mata pencaharian mereka.
Masalah nilai tukar rial Iran terus membebani warga dan struktur ekonomi nasional. Harga barang kebutuhan meningkat, daya beli menurun, dan banyak usaha kecil yang berjuang bertahan dalam kondisi tidak menentu.
Sampai solusi permanen diterapkan, masyarakat Iran tetap harus beradaptasi menghadapi ketidakpastian ekonomi yang membawa tekanan sosial dan finansial yang berat.