
PURWOKERTO, SERAYUNEWS-Langkah strategis diambil oleh Library of Congress (Perpustakaan Kongres Amerika Serikat) untuk memperkaya arsipnya terkait Banyumas. Lembaga dokumentasi asal AS ini terjun langsung menggalang karya-karya lokal dengan mendatangi para penulis, penerbit, perguruan tinggi, hingga instansi pemerintahan di kawasan Purwokerto dan sekitarnya.
Langkah ini dipicu oleh anggapan bahwa 464 judul koleksi yang telah dihimpun sejak perpustakaan tersebut hadir di Jakarta pada 1964 belum memadai untuk merepresentasikan sejarah dan kebudayaan Banyumas secara komprehensif. Perburuan langsung ke lapangan ini berfokus pada penghimpunan karya-karya langka serta terbitan yang tidak dipasarkan secara umum, seperti dokumen riset milik Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Banyumas.
“Pada kesempatan kali ini saya mengunjungi Banyumas untuk menghimpun terbitan-terbitan yang mempunyai muatan lokal tentang kebanyumasan dan budaya Panginyongan,” kata Acquisitions Southeast Asia Regional Office, Narfiyan Wahyudi usai menemui pengurus Dewan Kesenian Kabupaten Banyumas (DKKB) di ruang transit Gedung Kesenian Soetedja Purwokerto, Kamis (13/8/2026).
Narfiyan—yang akrab disapa Fian—menjelaskan bahwa materi yang terkumpul tidak hanya akan tersimpan di Washington DC, tetapi juga ditargetkan sebagai rujukan riset akademik berbagai universitas di AS yang mengkaji ilmu sosial, bahasa, dan sejarah Indonesia.
“Koleksi yang dihimpun juga berpotensi menjadi bahan promosi budaya Banyumas sekaligus bacaan bagi masyarakat umum di Amerika Serikat,” ujarnya.
“Target kami adalah menghimpun sebanyak-banyaknya terbitan mengenai Banyumas,” ujarnya.
Dalam penelusurannya, Fian turut menemui penulis lokal, Nasirun, guna mendalami literatur sejarah. Salah satu fokus utamanya adalah riset terkait Babad Banyumas, di mana dari sekitar 170 naskah yang terdeteksi, baru kurang lebih 100 naskah yang telah berhasil dibukukan.
“Sebisa mungkin kami ingin melengkapi koleksi-koleksi yang sebelumnya sudah ada, kemudian melanjutkannya, khususnya untuk karya-karya yang tidak bisa kami datangkan dari tempat lain,” katanya.
Fian menekankan bahwa aksesibilitas terhadap literatur dapat memicu minat akademis secara global, tanpa terbatas pada keturunan biologis atau latar belakang etnis.
“Dengan adanya buku-buku tentang Banyumas di Amerika, nanti ada orang-orang atau masyarakat Amerika yang tertarik dengan Banyumas, bisa meneliti lebih lanjut ataupun mengunjungi langsung Banyumas,” katanya.
Respons positif mengalir dari pihak lokal. Saat menerima kunjungan tim Library of Congress, pengurus DKKB secara simbolis menyerahkan sejumlah buku karya penulis daerah. Ketua Harian DKKB, Edi Romadhon, mengapresiasi inisiatif ini sebagai sarana diplomasi budaya.
“Karya-karya seniman Banyumas yang dalam bentuk buku itu pasti akan dipajang di Library of Congress, sehingga dapat menjadi referensi bagi para pengunjung bahkan dapat dijadikan sarana penelitian tentang budaya Banyumas,” katanya.
Edi juga mendorong agar kolaborasi ini berkembang menjadi kemitraan kebudayaan yang lebih luas, termasuk pertunjukan seni secara langsung.
“Kami juga siap untuk melaksanakan tugas misalnya melakukan hibah budaya atau apa dari Banyumas ke Amerika Serikat. Apalagi, kesenian pertunjukan Banyumas memiliki ciri khas sendiri yang berbeda dengan Solo ataupun Yogyakarta,” terangnya.