
SERAYUNEWS – Pemanfaatan listrik dan teknologi digital mulai diterapkan dalam pembibitan mangrove di Desa Bunton, Kecamatan Adipala, Kabupaten Cilacap Regency.
Program kolaborasi Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Electrifying Agriculture yang melibatkan PT PLN (Persero) dan PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) ini bertujuan meningkatkan efisiensi serta kualitas bibit mangrove berbasis masyarakat.
Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan menjelaskan bahwa program ini dirancang untuk mendorong modernisasi sektor pembibitan melalui pemanfaatan energi listrik dan teknologi digital.
“Melalui program electrifying agriculture, kami mendorong pengelolaan pembibitan mangrove yang lebih efisien dan modern. Pemanfaatan listrik dan sistem digital memungkinkan proses berjalan lebih optimal tanpa mengganggu aktivitas masyarakat,” ujar Mamit.
Ia menambahkan, sistem berbasis Internet of Things (IoT) memungkinkan penyiraman otomatis dan terjadwal, serta dapat dipantau melalui perangkat ponsel.
Teknologi ini membantu menghemat air, mengurangi kerja manual, dan menjaga kualitas bibit secara konsisten.
“Bapak-bapak tidak perlu lagi repot setiap hari menyiram, cukup dimonitor dari HP karena sistemnya sudah diatur mengikuti pola pasang surut air,” katanya.
Program ini juga sejalan dengan upaya rehabilitasi pesisir. Mangrove berperan penting dalam menahan abrasi, menyerap karbon, serta menjaga keseimbangan ekosistem.
Selain manfaat lingkungan, digitalisasi pembibitan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat melalui produksi bibit berkualitas dan pengembangan usaha turunan berbasis mangrove.
Sekretaris Camat Adipala, Subianto menyambut baik program tersebut dan menilai kolaborasi ini memberikan dampak nyata bagi masyarakat serta lingkungan.
“Kami berharap program ini dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi penguatan ekonomi masyarakat serta pelestarian lingkungan di wilayah pesisir,” ujarnya.

Ketua Kelompok Tani Hutan Wana Lestari, Jaban Sukarto mengungkapkan bahwa sistem listrik dan digitalisasi membuat pekerjaan lebih ringan dan teratur.
“Dengan adanya sistem listrik dan digitalisasi ini, pekerjaan kami menjadi lebih ringan dan teratur. Kami juga lebih percaya diri dalam menghasilkan bibit yang berkualitas dan siap tanam,” ujarnya.
Ia menambahkan, program ini turut membuka peluang peningkatan pendapatan melalui pengembangan usaha bibit mangrove serta produk olahan seperti keripik, sirup, selai, dodol, hingga sabun berbasis mangrove.
Sebagai bagian dari implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), PLN EPI menempatkan program ini tidak hanya sebagai inisiatif lingkungan, tetapi juga sebagai bentuk pemberdayaan sosial dan penguatan tata kelola berkelanjutan.
Melalui pendekatan terintegrasi antara teknologi, lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat, PLN EPI menegaskan komitmennya dalam mendukung transisi energi sekaligus memperkuat ketahanan ekosistem pesisir.