
KUDUS, SERAYUNEWS-Di sebuah desa di Kudus, Jawa Tengah, Mbah Riyan dikenal warga sebagai sosok yang ramah dan bersahaja. Sehari-hari ia bekerja sebagai tukang bangunan dan menghabiskan waktu senggangnya dengan memancing di sungai.
Namun, di balik penampilan sederhananya tanpa gelar keagamaan yang mencolok, ia menyimpan rekam jejak intelektual yang luar biasa. Belum lama ini, di ajang MUI Award 2026, Ibnu Harjo Al Jawi menerima penghargaan kategori Karya Tulis Keislaman.
Di dunia keilmuan Islam internasional, ia dikenal dengan nama Ibnu Harjo Al-Jawi, seorang mu’alliq dan muhaqqiq, pakar yang memberikan catatan kritis serta penelitian mendalam terhadap kitab-kitab klasik.
Deretan Karya Monumental Ibnu Harjo Al-Jawi
Hingga saat ini, Ibnu Harjo telah melahirkan lebih dari 12 jilid kitab dan 100 naskah ilmiah yang diakui oleh ulama dunia serta menjadi bahan studi di berbagai lembaga internasional.
Beberapa karya dan ta’liqat (catatan ilmiah) monumental yang ditulisnya antara lain:
Kajian ilmiah yang ditulisnya mencakup berbagai disiplin keilmuan Islam, mulai dari ushul fiqh, hadis, akidah, hingga tasawuf.
Membangun Rumah Warga Sekaligus Merawat Peradaban Ilmu
Kisah Mbah Riyan menghadirkan sebuah kontras yang mendalam. Tangan dinginnya tidak hanya terampil menyusun batu bata untuk membangun rumah-rumah warga di desa, tetapi penanya juga tekun membangun pilar-pilar peradaban ilmu Islam.
Proses kreatif dan keahlian akademisnya lahir bukan demi mengejar popularitas atau sorot kamera, melainkan atas dasar keikhlasan dalam merawat khazanah keilmuan ulama klasik agar dapat terus dipelajari oleh generasi mendatang.
Pelajaran Penting dari Sosok Ulama Tersembunyi
Kehidupan Mbah Riyan menjadi cermin bagi kita bahwa kemuliaan sejati tidak selalu diukur dari pengakuan publik atau status sosial. Meski masyarakat sekitar hanya mengenalnya sebagai tukang bangunan yang gemar memancing, sejarah akan mencatat nama Ibnu Harjo sebagai ulama muhaqqiq yang karya-karyanya melintasi batas negara dan zaman.