
SERAYUNEWS-Tuberkulosis (TBC) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang penting di Indonesia. Sebagai negara dengan beban TBC tertinggi kedua di dunia setelah India, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam upaya penemuan kasus, pengobatan, dan pencegahan penularan penyakit ini. Menurut laporan World Health Organization (WHO), keberhasilan eliminasi TBC sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat melalui peningkatan literasi kesehatan, deteksi dini, dan perubahan perilaku pencegahan penularan (WHO, 2024). Oleh karena itu, promosi kesehatan menjadi salah satu strategi yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terkait TBC.
Sebagai bentuk implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, tim Pengabdian kepada Masyarakat (Pengabmas) melaksanakan kegiatan Promosi Kesehatan dan Perilaku Pencegahan Penyebaran Tuberkulosis (TBC) pada hari Jumat, 19 Juni 2026 di Aula Balai Desa Karangtengah. Kegiatan ini diikuti oleh 50 peserta yang terdiri atas kader kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, Forum Kesehatan Desa (FKD), pengurus RW dan RT, serta keluarga atau kontak erat pasien TBC. Kegiatan diawali dengan registrasi peserta dan pengisian kuesioner pre-test untuk mengukur tingkat pengetahuan awal peserta mengenai TBC dan perilaku pencegahan penularannya. Selanjutnya, peserta mengikuti sesi edukasi yang disampaikan oleh tiga narasumber yang memiliki kompetensi dalam bidang pengendalian TBC dan promosi kesehatan, yaitu:

Materi yang disampaikan meliputi pengenalan penyakit TBC, faktor risiko, tanda dan gejala, mekanisme penularan, pentingnya skrining kontak erat, kepatuhan pengobatan, serta perilaku pencegahan penyebaran TBC di lingkungan keluarga dan masyarakat. Metode yang digunakan berupa ceramah interaktif, diskusi kelompok, tanya jawab, demonstrasi etika batuk, dan penggunaan media edukasi berupa leaflet serta presentasi audiovisual. Setelah seluruh materi selesai disampaikan, peserta kembali mengisi kuesioner post-test untuk mengukur perubahan tingkat pengetahuan setelah mendapatkan edukasi kesehatan.
Berdasarkan hasil evaluasi melalui kuesioner pre-test dan post-test, terjadi peningkatan pengetahuan peserta mengenai TBC dan perilaku pencegahan penyebaran TBC setelah mengikuti kegiatan edukasi kesehatan. Sebagian besar peserta menunjukkan peningkatan pemahaman terkait gejala TBC, cara penularan, pentingnya pemeriksaan dini bagi kontak erat, penggunaan masker, penerapan etika batuk, serta pentingnya menyelesaikan pengobatan hingga tuntas. Peningkatan pengetahuan tersebut menunjukkan bahwa promosi kesehatan yang diberikan mampu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai TBC. Selain itu, peserta juga menyatakan lebih memahami peran keluarga dalam mendukung keberhasilan pengobatan pasien TBC dan mencegah penularan di lingkungan rumah tangga. Antusiasme peserta terlihat dari tingginya partisipasi selama sesi diskusi. Beberapa pertanyaan yang banyak diajukan berkaitan dengan risiko penularan TBC dalam keluarga, pemeriksaan kontak serumah, penggunaan masker, dan langkah-langkah yang perlu dilakukan ketika terdapat anggota keluarga yang terdiagnosis TBC.
Hasil kegiatan menunjukkan bahwa edukasi kesehatan melalui promosi kesehatan mampu meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai TBC. Temuan ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Abdelhafiz et al. (2024) yang menyatakan bahwa program edukasi berbasis komunitas secara signifikan meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang gejala, penularan, dan pencegahan TBC serta meningkatkan kemauan masyarakat untuk melakukan pemeriksaan dini ketika mengalami gejala yang mengarah pada TBC. Peningkatan pengetahuan peserta setelah edukasi juga sesuai dengan teori promosi kesehatan yang dikemukakan oleh Notoatmodjo (2022), bahwa pengetahuan merupakan faktor predisposisi yang memengaruhi terbentuknya perilaku kesehatan seseorang. Individu yang memiliki pengetahuan yang baik mengenai suatu penyakit cenderung lebih mampu menerapkan tindakan pencegahan yang tepat dibandingkan mereka yang memiliki pengetahuan rendah.
Materi mengenai etika batuk, penggunaan masker, dan ventilasi rumah yang diberikan dalam kegiatan ini merupakan bagian dari strategi pengendalian infeksi TBC yang direkomendasikan oleh WHO. Laporan WHO menyebutkan bahwa penerapan kontrol infeksi sederhana di tingkat rumah tangga dapat secara signifikan mengurangi risiko penularan TBC pada anggota keluarga yang tinggal serumah dengan pasien TBC aktif (WHO, 2024). Selain itu, keterlibatan keluarga dan kontak erat pasien TBC dalam kegiatan ini menjadi aspek yang sangat penting. Menurut penelitian Datiko et al. (2024), edukasi yang melibatkan keluarga terbukti meningkatkan kepatuhan terhadap pemeriksaan kontak serumah dan mempercepat penemuan kasus TBC baru. Kontak erat yang mendapatkan informasi yang benar mengenai TBC cenderung lebih bersedia menjalani skrining dan menerapkan perilaku pencegahan penularan.
Kehadiran tokoh agama, tokoh masyarakat, pengurus RT/RW, dan kader kesehatan dalam kegiatan ini juga memiliki nilai strategis. Penelitian yang dipublikasikan dalam BMC Public Health (2024) menunjukkan bahwa keterlibatan tokoh masyarakat dan kader kesehatan dalam promosi kesehatan berbasis komunitas mampu meningkatkan penerimaan pesan kesehatan serta mengurangi stigma terhadap penderita TBC. Stigma yang berkurang akan mendorong penderita untuk mencari pengobatan lebih dini dan menjalani terapi hingga selesai. Metode ceramah interaktif yang dikombinasikan dengan diskusi dan media audiovisual dalam kegiatan ini juga terbukti efektif. Menurut hasil studi Rahman et al. (2023), penggunaan media edukasi yang variatif dapat meningkatkan retensi informasi hingga lebih dari 60% dibandingkan metode ceramah konvensional. Hal ini dapat menjelaskan peningkatan skor pengetahuan yang diperoleh peserta setelah mengikuti kegiatan edukasi.
Secara keseluruhan, hasil pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa promosi kesehatan merupakan strategi yang efektif untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai TBC dan perilaku pencegahan penularannya. Peningkatan pengetahuan diharapkan dapat berlanjut menjadi perubahan sikap dan perilaku yang mendukung keberhasilan program eliminasi TBC di Tingkat komunitas.
Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat berupa Promosi Kesehatan dan Perilaku Pencegahan Penyebaran TBC yang dilaksanakan pada tanggal 19 Juni 2026 di Aula Balai Desa Karangtengah berhasil meningkatkan pengetahuan peserta mengenai TBC dan upaya pencegahan penularannya. Kegiatan diikuti oleh 50 peserta yang terdiri dari kader kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, FKD, pengurus RW dan RT, serta keluarga atau kontak erat pasien TBC. Edukasi yang disampaikan oleh Yugo Suprapto, A.MK, Vin Isnaini Sholihah, S.K.M., dan Dr. Walin, S.ST., M.Kes. memberikan dampak positif yang ditunjukkan melalui peningkatan hasil post-test dibandingkan pre-test. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan peran masyarakat dalam deteksi dini, pencegahan penularan, serta dukungan terhadap keberhasilan pengobatan pasien TBC sehingga dapat membantu mewujudkan target eliminasi TBC di Indonesia
Penulis:
Dr. Walin., S.ST., M.Kes (Dosen Poltekkes Kemenkes Semarang)
Sumiyati., S.Kep.NS., MPH (Dosen Poltekkes Kemenkes Semarang)
Anita Widiastuti., S.Kep.Ns., M.Kes (Dosen Poltekkes Kemenkes Semarang)
Hesti Kurniasih., S.ST., M.Tr.Keb (Dosen Poltekkes Kemenkes Semarang)