
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Nama R.M. Margono Djojohadikoesoemo kembali menjadi perhatian publik.
Tokoh kelahiran Banyumas yang dikenal sebagai pendiri Bank Negara Indonesia (BNI) tersebut diusulkan untuk mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Margono bukan hanya dikenal sebagai kakek dari Presiden Prabowo Subianto.
Ia memiliki perjalanan panjang dalam sejarah Indonesia, mulai dari birokrasi pemerintahan, persiapan kemerdekaan, hingga membangun fondasi perbankan nasional pada masa awal Republik Indonesia.
R.M. Margono Djojohadikoesoemo lahir di Banyumas pada 16 Mei 1894. Ia berasal dari keluarga bangsawan Jawa dan merupakan keturunan Raden Joko Kaiman, tokoh yang dikenal sebagai pendiri sekaligus bupati pertama Banyumas.
Margono merupakan putra Raden Tumenggung Mangkuprodjo. Ia mendapatkan pendidikan di Europeesche Lagere School (ELS) sejak 1901 dan menyelesaikannya pada 1907.
Setelah itu, Margono melanjutkan pendidikan di Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA) di Magelang hingga 1911.
Pendidikan tersebut menjadi bekal bagi Margono untuk memulai kariernya sebagai pegawai pemerintahan.
Ia kemudian bekerja di departemen kepolisian sebelum bergabung dengan Volkscredietwezen atau Dinas Kredit Rakyat pada 1917.
Kariernya di bidang perkreditan terus berkembang hingga ia dipercaya menempati sejumlah posisi di Madiun, Malang, dan Batavia.
Menjelang kemerdekaan, Margono turut terlibat dalam proses persiapan berdirinya Indonesia. Ia menjadi anggota Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK).
Setelah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945, Margono dipercaya menduduki posisi sebagai Ketua Dewan Pertimbangan Agung.
Jabatan tersebut dijalaninya sejak 25 September 1945 sebelum kemudian mengundurkan diri sekitar dua bulan setelahnya.
Perannya tidak berhenti pada pemerintahan. Di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang masih belum stabil, Margono memiliki gagasan untuk membangun bank nasional milik Republik Indonesia.
Gagasan mendirikan bank nasional sempat mendapat penolakan dari Wakil Menteri Keuangan Surachman Tjokroadisurjo.
Namun, Margono kemudian menyampaikan gagasannya kepada Wakil Presiden Mohammad Hatta dan mendapatkan persetujuan.
Margono selanjutnya bergerak mengumpulkan dana dan mempersiapkan berbagai kebutuhan untuk membangun lembaga perbankan nasional. Ia juga merekrut pegawai serta mempersiapkan kantor bank.
Upaya tersebut kemudian melahirkan Bank Negara Indonesia (BNI) pada 5 Juli 1946. Margono menjadi presiden pertama BNI dan memimpin bank tersebut hingga Oktober 1953.
Peran tersebut membuat Margono dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah awal perbankan Indonesia.
Selain BNI, ia juga pernah menjadi presiden Bank Industri Negara sejak 1951 hingga 1953.
Perjalanan Margono juga berlangsung di tengah situasi politik dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Setelah Operasi Kraai pada 1948, ia sempat dipenjara oleh pasukan Belanda.
Setelah dibebaskan, Margono kemudian bergabung dalam delegasi Indonesia pada Konferensi Meja Bundar (KMB).
Ia juga melanjutkan kiprahnya dalam dunia politik sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Sementara dari Partai Indonesia Raya.
Nama Margono semakin dikenal masyarakat luas karena hubungan keluarganya dengan Presiden Prabowo Subianto.
Margono merupakan ayah dari Sumitro Djojohadikusumo dan dengan demikian menjadi kakek dari pihak ayah Prabowo.
Namun, perjalanan hidup Margono jauh lebih panjang dibanding sekadar hubungan keluarganya dengan presiden.
Ia tercatat sebagai tokoh yang terlibat dalam persiapan kemerdekaan, pernah memimpin Dewan Pertimbangan Agung, serta menjadi pendiri dan presiden pertama BNI.
Pada masa tuanya, Margono sempat tinggal di luar negeri bersama keluarganya akibat situasi politik yang berkaitan dengan keterlibatan putranya, Sumitro Djojohadikusumo, dalam Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI).
Ia kemudian kembali ke Indonesia setelah perubahan politik pada 1966.
Margono juga menuangkan perjalanan hidup dan keluarganya dalam sebuah memoar berjudul Reminiscences from 3 Historical Periods: A Family Tradition Put in Writing yang diterbitkan pada 1973.
R.M. Margono Djojohadikoesoemo meninggal dunia di Jakarta pada 25 Juli 1978 dalam usia 84 tahun. Ia kemudian dimakamkan di makam keluarga Djojohadikoesoemo di Banyumas.
Jejak panjang Margono dalam sejarah Indonesia menjadi salah satu alasan munculnya usulan agar dirinya dianugerahi gelar Pahlawan Nasional.
Bagi masyarakat Banyumas, sosok Margono menjadi bagian dari sejarah daerah yang memiliki kontribusi dalam perjalanan bangsa.
Kiprahnya di bidang pemerintahan, politik, dan terutama pembangunan perbankan nasional membuat namanya tetap relevan untuk dikenang hingga kini.
Dengan demikian, R.M. Margono Djojohadikoesoemo bukan sekadar dikenal sebagai kakek Presiden Prabowo Subianto.
Ia merupakan salah satu tokoh dari Banyumas yang turut mengambil bagian dalam perjalanan awal Republik Indonesia. (Mathew Bagus)***