
SERAYUNEWS- Kehilangan orang tercinta seperti badai yang merenggut segalanya. Di tengah isak tangis, pertanyaan polos dari teman tentang bagaimana caranya pergi sering kali jadi pisau kedua yang menusuk hati.
dr. Sera Livia, Psikolog Klinis Dewasa dari Universitas Indonesia, sering mendengar keluhan serupa dari pasiennya.
“Hindari menanyakan detail kematian pada orang yang sedang berduka,” ujarnya.
Alasannya? Pertanyaan itu memaksa korban trauma mengulang adegan mengerikan, seperti memutar ulang film horor di kepala.
Bayangkan seorang ibu yang baru saja mengubur anaknya. Matanya merah, suaranya parau, tapi tiba-tiba dikerumuni tetangga penasaran.
“Sakit apa? Kecelakaan? Atau apa?” Tanpa disadari, itu memperpanjang proses berduka yang seharusnya alami.
Proses duka menurut psikologi bukanlah garis lurus. Ada tahap denial, marah, tawar-menawar, depresi, hingga penerimaan seperti yang digambarkan Elisabeth Kübler-Ross.
“Mereka belum siap, atau malah tak ingin mengingat sama sekali,” jelas Sera Livia.
Di budaya kita, gotong royong kuat untuk urusan pemakaman. Tapi pasca itu, ruang emosional sering terabaikan.
Psikolog menganjurkan active listening, yaitu anggukkan kepala, tatap mata, hindari interupsi. Ini tips berduka sehat yang bisa kita terapkan.
Hindari juga frasa klise seperti sabar ya, pasti ada hikmahnya. Itu meminimalkan rasa sakit mereka. Lebih baik diam, peluk, atau kirim makanan via ojek online. Hal ini menjadi gestur kecil yang bicara banyak.
Untuk diri sendiri yang berduka, Sera mengingatkan untuk membatasi cerita pada orang terpercaya.
Jika terjebak pertanyaan, jawab singkat dengan kalimat nanti aku cerita kalau sudah siap. Ini melindungi kesehatan mental.
Psikologi duka modern menekankan self-care. Olahraga ringan, jurnal harian, atau terapi bisa percepat pemulihan.
Di Jakarta, layanan seperti Riliv atau Halodoc menawarkan konseling online murah untuk kasus berduka.
Berikut adalah kisah lain dari Sera. Seorang klien kehilangan ayah akibat penyakit. Keluarga besar membombardir detail medis, hingga ia trauma rumah sakit.
Kini, ia pulih berkat terapi CBT (Cognitive Behavioral Therapy) yang membantu reframing ingatan buruk.
Mengapa kita sulit berhenti bertanya? Psikolog bilang, itu bentuk information seeking alami manusia. Namun, saat berhadapan duka orang lain, tahanlah. Prioritaskan empati atas rasa penasaran.
Di era media sosial, tantangan baru muncul. Posting duka sering dibanjiri komentar penasaran, “Kok tiba-tiba?”
Batasi privasi atau nonaktifkan sementara. Itu langkah bijak. Akhirnya, ingat pepatah lama. Duka seperti luka, butuh waktu sembuh.
Dengan menghindari pertanyaan detail kematian, kita jadi penyembuh, bukan penambah beban. Jadilah teman yang hadir dengan hati, bukan lidah cerewet.***