
SERAYUNEWS – Setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan, umat Muslim dianjurkan melanjutkan ibadah dengan puasa sunnah di bulan Syawal.
Namun, muncul pertanyaan yang kerap dibahas, yakni mana yang harus didahulukan antara puasa Syawal atau qadha puasa Ramadhan.
Pertanyaan ini umumnya muncul dari mereka yang memiliki utang puasa Ramadhan karena alasan tertentu, seperti sakit, haid, atau bepergian. Di sisi lain, puasa Syawal memiliki keutamaan besar sehingga banyak yang ingin segera melaksanakannya.
Dalam ajaran Islam, qadha puasa Ramadhan merupakan kewajiban (fardhu) yang harus ditunaikan. Sementara itu, puasa Syawal bersifat sunnah, sehingga tidak wajib, tetapi sangat dianjurkan karena keutamaannya yang besar.
Mayoritas ulama berpendapat bahwa qadha puasa Ramadhan sebaiknya didahulukan sebelum melaksanakan puasa Syawal.
Hal ini didasarkan pada prinsip utama dalam ibadah:
Dengan menyelesaikan qadha terlebih dahulu, seseorang dinilai telah menunaikan kewajibannya sebelum mengejar pahala tambahan dari ibadah sunnah.
Meski mayoritas ulama menyarankan mendahulukan qadha, terdapat beberapa perbedaan pandangan:
Sebagian ulama memperbolehkan mendahulukan puasa Syawal, dengan alasan:
Ada pendapat yang menyebutkan bahwa seseorang tetap bisa mendapatkan keutamaan puasa Syawal meskipun belum menyelesaikan qadha, namun nilainya tidak sempurna seperti yang disebutkan dalam hadis.
Terdapat perbedaan pendapat terkait menggabungkan niat:
Banyak ulama menyarankan agar puasa dilakukan secara terpisah agar memperoleh keutamaan maksimal.
Berbeda dengan puasa wajib, niat puasa sunnah Syawal dapat dilakukan pada malam hari maupun siang hari selama belum makan dan minum sejak terbit fajar.
Berikut bacaan niat puasa Syawal:
Niat di malam hari:
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَوَّالٍ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma ghadin ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Syawal esok hari karena Allah SWT.”
Niat di siang hari:
نَوَيْتُ صَوْمَ هَذَا الْيَوْمِ عَنْ أَدَاءِ سُنَّةِ شَوَّالٍ لِلَّهِ تَعَالَى
Nawaitu shauma hâdzal yaumi ‘an adâ’i sunnatis Syawwâli lillâhi ta‘âlâ
Artinya: “Aku berniat puasa sunah Syawal hari ini karena Allah SWT.”
Pemahaman mengenai niat ini penting agar puasa tetap sah dan sesuai dengan ketentuan syariat.
Puasa Syawal memiliki keutamaan yang sangat besar. Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan kemudian diikuti enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa sepanjang tahun.”
Keutamaan ini membuat banyak umat Muslim berusaha menjalankannya segera setelah Idul Fitri.
Selain itu, puasa Syawal juga memiliki manfaat lain:
Agar kedua ibadah tetap bisa dijalankan, berikut strategi yang bisa dilakukan:
Dengan perencanaan yang baik, kedua jenis puasa ini tetap dapat dilaksanakan tanpa saling mengabaikan.
Perbedaan pendapat mengenai puasa Syawal dan qadha memberikan kemudahan bagi umat Muslim untuk menyesuaikan dengan kondisi masing-masing.
Namun, menyelesaikan kewajiban qadha terlebih dahulu tetap menjadi pilihan yang paling dianjurkan oleh mayoritas ulama.
Yang terpenting, setiap ibadah dilakukan dengan niat yang ikhlas serta sesuai dengan kemampuan.
Dengan demikian, baik puasa wajib maupun sunnah dapat memberikan manfaat spiritual yang maksimal.