
SERAYUNEWS- Fenomena megatsunami setinggi hampir 200 meter yang pernah menghantam Greenland kembali menarik perhatian dunia.
Selain mengungkap ancaman bencana ekstrem akibat perubahan iklim, peristiwa ini juga menghidupkan kembali diskusi geopolitik tentang ketertarikan Amerika Serikat terhadap pulau es tersebut.
Greenland bukan sekadar wilayah terpencil di Kutub Utara. Di balik lanskap esnya, pulau ini menyimpan nilai strategis yang membuat negara-negara besar terus memantau perkembangannya termasuk ketika mantan Presiden AS Donald Trump sempat menyatakan minat untuk membelinya.
Megatsunami terjadi jauh dari kawasan padat penduduk, dampaknya berpotensi meluas secara global. Para ahli memperingatkan bahwa peristiwa serupa bisa memicu gangguan lingkungan, ekonomi, hingga stabilitas iklim dunia jika terjadi berulang.
Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya:
Megatsunami itu terjadi pada September 2023 di Dickson Fjord, wilayah timur laut Greenland. Bencana dipicu oleh longsoran batu raksasa yang jatuh ke fjord sempit dan memicu tsunami dengan ketinggian mencapai sekitar 200 meter.
Material longsor yang mencapai puluhan juta meter kubik menghantam gletser sebelum akhirnya masuk ke perairan dan menghasilkan gelombang ekstrem. Getaran dari peristiwa tersebut bahkan terdeteksi oleh instrumen seismik di seluruh dunia selama lebih dari sepekan.
Para ilmuwan menilai pemanasan global berperan besar dalam meningkatkan risiko longsor di kawasan Arktik. Suhu yang terus naik mempercepat pencairan es serta melemahkan permafrost lapisan tanah beku yang selama ini menjaga kestabilan lereng pegunungan.
Wilayah Arktik diketahui memanas lebih cepat dibandingkan banyak kawasan lain di bumi. Kondisi ini membuat gletser mundur dan struktur tanah menjadi tidak stabil, sehingga longsor besar lebih mungkin terjadi.
Ketika material raksasa jatuh ke perairan sempit seperti fjord, air terdorong secara tiba-tiba dan membentuk gelombang jauh lebih tinggi dibanding tsunami biasa yang dipicu gempa.
Meski tidak menimbulkan korban besar, para peneliti menyebut kejadian ini sebagai peringatan serius bahwa bencana serupa dapat terulang jika krisis iklim terus memburuk.
Walau lokasi Greenland jauh dari kawasan padat penduduk, efek tidak langsungnya berpotensi global. Perubahan besar di wilayah kutub dapat memengaruhi sistem laut, pola cuaca, hingga stabilitas ekonomi internasional.
Fenomena ekstrem di Arktik juga menjadi indikator bahwa planet ini sedang mengalami transformasi cepat sesuatu yang pada akhirnya dapat dirasakan negara-negara lain, termasuk kawasan kepulauan yang rentan terhadap perubahan iklim.
Di tengah ancaman alam tersebut, Greenland tetap dipandang sebagai aset strategis. Pulau ini berada di jalur penting Arktik dan diyakini memiliki sumber daya alam bernilai tinggi.
Ketertarikan Amerika Serikat terhadap Greenland sempat menjadi sorotan global ketika Donald Trump mengusulkan pembelian wilayah tersebut gagasan yang langsung ditolak oleh Denmark selaku pihak yang berwenang.
Meski tidak pernah terealisasi, wacana itu menunjukkan bahwa Greenland bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga bagian dari persaingan geopolitik masa depan.
Menguasai wilayah yang rentan terhadap bencana tentu memunculkan pertanyaan besar. Di satu sisi, Greenland menawarkan keuntungan strategis dan ekonomi. Namun di sisi lain, perubahan iklim membuat kawasan itu semakin tidak terduga.
Para analis menilai kombinasi antara ancaman alam dan kepentingan politik bisa menjadi tantangan global baru. Dunia kini dihadapkan pada realitas bahwa wilayah paling terpencil sekalipun dapat memainkan peran penting dalam stabilitas internasional.
Megatsunami Greenland menjadi pengingat bahwa krisis iklim bukan lagi ancaman masa depan melainkan realitas yang sudah terjadi.
Para ilmuwan menekankan pentingnya investasi pada riset kebencanaan, sistem peringatan dini, serta kerja sama internasional untuk mengurangi risiko korban jika bencana ekstrem kembali muncul.
Kewaspadaan tanpa kepanikan adalah kunci. Dengan memahami ancaman sejak awal, dunia memiliki peluang lebih besar untuk beradaptasi dan melindungi generasi mendatang.
Peristiwa di Greenland memperlihatkan bagaimana bencana di wilayah terpencil sekalipun dapat menjadi isu internasional. Transparansi data ilmiah dan kesiapan menghadapi perubahan iklim menjadi faktor krusial dalam menjaga stabilitas global.
Negara-negara juga didorong meningkatkan investasi pada riset kebencanaan agar mampu memprediksi fenomena ekstrem lebih akurat.
Megatsunami Greenland adalah pengingat bahwa bumi sedang berubah lebih cepat dari yang dibayangkan. Ancaman mungkin tidak datang langsung, tetapi efek berantainya dapat menyentuh hampir semua negara.
Kewaspadaan tanpa kepanikan menjadi kunci. Dengan memahami risiko sejak dini, dunia memiliki peluang lebih besar untuk beradaptasi dan melindungi generasi mendatang.