
SERAYUNEWS – Media sosial TikTok kembali diramaikan oleh tren gaya hidup sehat bernama fibermaxxing. Tren ini menekankan peningkatan konsumsi makanan tinggi serat dalam menu harian.
Berbeda dengan sejumlah tren diet ekstrem yang kerap menuai kritik, fibermaxxing justru mendapat banyak dukungan dari para profesional kesehatan.
Pola makan ini dinilai sejalan dengan prinsip gizi seimbang karena mendorong konsumsi sayur, buah, biji-bijian, dan kacang-kacangan yang kaya serat.
Secara sederhana, fibermaxxing adalah pola makan yang memprioritaskan asupan serat.
Fenomena ini menarik perhatian karena dikaitkan dengan berbagai manfaat, mulai dari melancarkan pencernaan, membantu menjaga berat badan ideal, hingga menurunkan risiko penyakit serius seperti kanker usus besar.
Setelah mengenal konsep fibermaxxing, pertanyaan yang sering muncul adalah: berapa sebenarnya kebutuhan serat harian tubuh?
Berdasarkan panduan USDA, kebutuhan serat berbeda menurut usia dan jenis kelamin. Perempuan dewasa dianjurkan mengonsumsi sekitar 25–28 gram serat per hari, sedangkan laki-laki sekitar 31–34 gram per hari.
Namun dalam praktiknya, sebagian besar masyarakat masih jauh dari angka tersebut. Rata-rata asupan serat harian hanya berkisar 10–15 gram, bahkan di negara maju.
Kekurangan ini membuat manfaat serat bagi kesehatan pencernaan dan metabolisme tidak diperoleh secara optimal.
Para ahli gizi umumnya menyebut kisaran 25–30 gram serat per hari sebagai jumlah ideal dan relatif aman.
Dari kesenjangan antara rekomendasi dan pola makan inilah tren fibermaxxing muncul sebagai upaya meningkatkan asupan serat secara sadar.
Serat sendiri terbagi menjadi dua jenis utama:
Pemenuhan kebutuhan serat harian terbukti memberikan beragam manfaat kesehatan.
Berbagai studi menunjukkan bahwa asupan serat yang adekuat berkaitan dengan penurunan risiko penyakit kardiovaskular, diabetes melitus tipe 2, serta kanker kolorektal.
Sejumlah klaim populer seperti kulit tampak lebih sehat atau kondisi emosional yang lebih stabil sejatinya merupakan efek tidak langsung.
Asupan serat yang cukup berkontribusi terhadap keseimbangan mikrobiota usus, yang kemudian memengaruhi kerja gut–brain axis dalam mengatur respons peradangan dan stabilitas suasana hati.
Meski demikian, pengaruhnya bersifat bertahap dan tidak seinstan maupun sedramatis seperti yang sering digambarkan dalam konten media sosial.
Di samping itu, serat meningkatkan rasa kenyang dan memperlambat pengosongan lambung, sehingga berperan dalam pengendalian berat badan dan pengaturan kadar glukosa darah.
Perannya sebagai prebiotik juga mendukung pertumbuhan bakteri baik di usus, yang penting bagi fungsi metabolik dan imunitas tubuh.
Meski bermanfaat, konsumsi serat yang berlebihan juga dapat menimbulkan gangguan. Beberapa keluhan yang mungkin muncul antara lain perut kembung, mual, kram, sembelit, hingga diare.
Asupan serat yang terlalu tinggi juga berpotensi menghambat penyerapan mineral penting seperti kalsium, zat besi, dan zinc karena serat dapat mengikat zat-zat tersebut di saluran cerna.
Dalam kondisi ekstrem, konsumsi serat berlebihan bahkan bisa memicu sumbatan usus. Karena itu, keseimbangan tetap menjadi kunci.
Kekurangan serat juga tidak kalah berisiko, seperti menyebabkan sembelit, rasa penuh di perut, kenaikan berat badan, serta terganggunya keseimbangan bakteri baik di sistem pencernaan.