
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS– Semangat kebersamaan terasa begitu kental saat ratusan warga Desa Gumingsir, Kecamatan Pagentan, Kabupaten Banjarnegara, kembali menggelar tradisi tahunan Grebek Sura, Senin (6/7/2026).
Tradisi ini tidak sekadar menjadi perayaan menyambut bulan Sura dalam penanggalan Jawa. Masyarakat menjadikannya sebagai upaya menjaga warisan budaya leluhur agar tetap hidup di tengah derasnya arus modernisasi.
Sejak pagi, warga dari berbagai kalangan usia memadati jalan-jalan desa untuk mengikuti rangkaian prosesi adat. Mereka mengiringi gunungan hasil bumi yang tersusun dari aneka sayuran, buah-buahan, dan hasil pertanian lainnya.
Gunungan tersebut menjadi simbol rasa syukur masyarakat atas rezeki dan hasil panen yang diberikan Tuhan.
Kirab gunungan menempuh rute mengelilingi desa sejauh sekitar tiga kilometer. Sepanjang perjalanan, warga menyambut rombongan dengan antusias.
Suasana semakin khidmat ketika prosesi berlanjut dengan ziarah bersama ke makam para leluhur desa. Kegiatan ini menjadi bentuk penghormatan sekaligus doa bagi para pendahulu yang telah mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada generasi sekarang.
Setelah ziarah, masyarakat berkumpul untuk makan bersama sebagai simbol persaudaraan tanpa memandang status sosial.
Momen yang paling dinanti pun tiba ketika warga memperebutkan gunungan hasil bumi. Mereka meyakini hasil bumi yang telah didoakan tersebut membawa keberkahan bagi keluarga dan kehidupan mereka.
Selain prosesi adat, kemeriahan Grebek Sura juga diwarnai berbagai pertunjukan seni tradisional yang menghibur masyarakat.
Kehadiran kesenian lokal menjadi bagian penting dalam mempertahankan identitas budaya sekaligus mengenalkan tradisi kepada generasi muda.
Kepala Desa Gumingsir, Bejo Suroso, mengatakan Grebek Sura merupakan tradisi turun-temurun yang terus dipertahankan sebagai ungkapan syukur atas hasil pertanian sekaligus penghormatan kepada leluhur desa.
“Rangkaian kegiatan diawali dengan kirab gunungan hasil bumi, kemudian ziarah ke makam leluhur, makan bersama, hingga rebutan gunungan. Semua ini merupakan bentuk rasa syukur masyarakat atas hasil panen yang melimpah sekaligus doa agar diberikan keberkahan di masa mendatang,” ujarnya.
Bagi masyarakat Desa Gumingsir, tradisi ini memiliki makna lebih dalam daripada sekadar perayaan tahunan.
Salah seorang warga, Ani Jumiati, mengaku selalu menantikan momen Grebek Sura setiap tahunnya. Ia merasa bahagia karena dapat mengikuti seluruh rangkaian acara, terlebih saat mendapatkan buah dan sayuran dari rebutan gunungan yang dipercaya membawa berkah.
“Sejak dulu tradisi ini selalu dilaksanakan setiap tahun. Kami senang karena bisa berkumpul bersama, menjaga kebersamaan, sekaligus melestarikan budaya yang diwariskan oleh para leluhur,” katanya.
Di tengah perubahan zaman yang begitu cepat, Grebek Sura di Desa Gumingsir menjadi bukti bahwa tradisi lokal masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Lebih dari sekadar ritual budaya, kegiatan ini menjadi ruang untuk mempererat silaturahmi, memperkuat rasa syukur, sekaligus memastikan warisan leluhur tetap lestari dan terus dikenal oleh generasi mendatang.