
PURWOKERTO, SERAYUNEWS-Universitas Terbuka terus membuktikan komitmennya sebagai perguruan tinggi yang membuka akses pendidikan seluas-luasnya bagi seluruh masyarakat Indonesia — sebuah misi yang tidak berhenti pada slogan, melainkan tecermin langsung dalam skala dan jangkauan layanannya.
Semangat tersebut kembali ditegaskan dalam kegiatan Orientasi Studi Mahasiswa Baru (OSMB) Universitas Terbuka Purwokerto yang digelar pada 26 Juli 2026 di Kantor UT Purwokerto dengan diikuti oleh 616 mahasiswa baru. Direktur Universitas Terbuka Purwokerto Dr. Prasetyarti Utami, S.Si., M.Si menyampaikan bahwa UT mengusung prinsip pendidikan yang inklusif. Siapa pun memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh pendidikan tinggi, tanpa dibatasi usia, pekerjaan, domisili, maupun kondisi lainnya.
Sebagai pelopor Pendidikan Tinggi Terbuka dan Jarak Jauh sejak tahun 1984, UT telah menjangkau mahasiswa di seluruh wilayah Indonesia, dari Sabang hingga Merauke, bahkan masyarakat Indonesia yang berada di luar negeri. Ini berarti mahasiswa yang tinggal di daerah terpencil sekalipun, yang mungkin tidak memiliki akses ke perguruan tinggi konvensional di sekitar tempat tinggalnya, tetap dapat menempuh pendidikan tinggi berkualitas tanpa harus merantau meninggalkan keluarga dan pekerjaan.
Kemampuan menjangkau mahasiswa dalam skala nasional tersebut didukung oleh sistem pembelajaran berbasis teknologi yang terus dikembangkan. Bahkan, ketika pembelajaran daring mulai diterapkan secara luas oleh berbagai perguruan tinggi lain — terutama sejak beberapa tahun terakhir — Universitas Terbuka telah memiliki pengalaman puluhan tahun dalam mengelola pendidikan jarak jauh, jauh sebelum istilah “kuliah online” menjadi hal yang lazim.
Pada kesempatan tersebut juga disampaikan bahwa UT saat ini terus mengembangkan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas lulusan dan memperkuat langkah menuju universitas berkelas dunia. Hal ini menegaskan bahwa jangkauan yang luas tidak dicapai dengan mengorbankan mutu pendidikan — keduanya justru dirancang untuk berjalan beriringan.
Kegiatan OSMB tidak hanya memperkenalkan lingkungan akademik, tetapi juga membangun rasa memiliki terhadap Universitas Terbuka sebagai rumah belajar bagi seluruh masyarakat Indonesia. Rasa memiliki ini penting, sebab tanpa pertemuan fisik rutin seperti di kampus konvensional, ikatan emosional antara mahasiswa dan almamaternya perlu dibangun secara sengaja sejak awal masa studi.
Melalui semangat kebersamaan yang diawali dengan penampilan Ormawa dan antusiasme ratusan mahasiswa baru, OSMB menjadi momentum untuk menegaskan bahwa pendidikan berkualitas dapat diakses oleh siapa saja, di mana saja — sebuah janji yang telah dibuktikan UT selama lebih dari empat dekade perjalanannya.