
SERAYUNEWS – Memasuki periode krusial Ramadan dan Idulfitri 2026, Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, tak mau main-main soal stabilitas ekonomi warganya. Ia secara tegas mewanti-wanti agar harga pangan jelang Lebaran di seluruh wilayah Jawa Tengah tetap terkendali dan bebas dari praktik curang para spekulan maupun permainan mafia pasar.
Peringatan keras ini disampaikan Luthfi saat memimpin High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) di Semarang, Rabu (11/2/2026). Menurutnya, potensi lonjakan harga akibat permintaan yang tinggi adalah hal wajar, namun tidak boleh diperparah oleh sumbatan distribusi yang disengaja.
“Jangan sampai ada sumbatan distribusi, apalagi permainan harga yang merugikan rakyat. BUMD harus turun tangan dan hadir di tengah masyarakat,” tegas Gubernur Luthfi.
Gubernur meminta para Bupati dan Wali Kota di 35 daerah untuk “pasang badan” mengawasi komoditas strategis seperti beras, minyak goreng, cabai, dan bawang merah. Salah satu instruksi khususnya adalah kewajiban memasang papan informasi (dashboard) harga digital di setiap pasar induk dan pasar tradisional besar.
“Dashboard harga itu wajib ada dan datanya harus update setiap hari. Ini demi transparansi, biar masyarakat tahu harga aslinya dan tidak ada celah bagi pedagang nakal untuk memainkan harga,” imbuhnya.
Luthfi juga menyoroti ironi yang sering terjadi, di mana daerah sentra produksi justru mengalami kelangkaan barang. Ia memerintahkan agar distribusi dikawal ketat agar pasokan di lumbung pangan tetap aman.
Selain fokus pada harga pangan jelang Lebaran, mantan Kapolda Jateng ini juga menekankan perlindungan jangka panjang terhadap 1,3 juta hektare Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). “Lahan pertanian tidak boleh tergerus. Produksi pangan harus digenjot lewat teknologi,” pesannya.
Di sisi lain, Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah, Mohamad Noor Nugroho, melaporkan bahwa kondisi inflasi Jateng per Januari 2026 masih cukup aman di angka 2,83 persen (yoy). Meski terjadi deflasi bulanan sebesar 0,35 persen pasca-Nataru, BI mengingatkan pemerintah daerah untuk tetap waspada.
“Secara historis, beras dan cabai sering jadi biang kerok inflasi saat momen HBKN (Hari Besar Keagamaan Nasional). Kunci utamanya ada pada kelancaran distribusi dan ketersediaan pasokan,” tutup Nugroho.