
SERAYUNEWS- Kabar besar datang dari industri teknologi global. Realme, merek smartphone yang selama beberapa tahun terakhir berdiri sebagai brand independen, dikabarkan akan kembali berada di bawah naungan Oppo.
Informasi ini mencuat dari laporan sejumlah media teknologi internasional dan sumber internal perusahaan yang menyebutkan adanya restrukturisasi besar dalam manajemen dan strategi bisnis.
Dalam skema baru tersebut, Oppo akan berperan sebagai merek induk utama, sementara Realme dan OnePlus diposisikan sebagai submerek strategis dengan segmentasi pasar yang berbeda.
Langkah ini dinilai sebagai upaya konsolidasi untuk memperkuat daya saing global di tengah tekanan pasar smartphone yang semakin kompetitif.
Meski kembali menjadi submerek, Realme tidak kehilangan arah kepemimpinan. Sky Li, pendiri sekaligus CEO Realme, dipastikan tetap memimpin brand ini.
Keputusan tersebut memberi sinyal bahwa Realme masih akan mempertahankan identitasnya sebagai merek yang dekat dengan anak muda, inovatif, dan agresif dalam harga.
Manajemen Oppo disebut hanya akan mengambil peran strategis dalam koordinasi sumber daya, rantai pasok, serta ekspansi global, tanpa mengintervensi arah pengembangan produk secara langsung.
Salah satu perubahan paling signifikan dari integrasi ini adalah bergabungnya sistem layanan purnajual Realme ke jaringan Oppo.
Dengan lebih dari 5.000 pusat layanan fisik di China dan jaringan global yang luas, konsumen Realme diprediksi akan menikmati layanan purna jual yang lebih cepat, merata, dan efisien.
Langkah ini sekaligus menjadi solusi atas tantangan layanan purnajual yang kerap dihadapi merek-merek agresif di segmen harga menengah dan entry-level.
Realme bukan pemain instan di industri smartphone. Brand ini lahir pada 2018 sebagai subbrand Oppo yang difokuskan untuk pasar online dan segmen anak muda. Strategi ini memungkinkan Oppo bereksperimen tanpa mengganggu citra premiumnya.
Tak lama berselang, Sky Li memutuskan membawa Realme berdiri sendiri sebagai merek independen dengan slogan Dare to Leap.
Keputusan tersebut terbukti tepat. Produk perdana Realme 1 sukses besar di India dan menjadi titik awal ekspansi agresif ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Dalam waktu singkat, Realme hadir di lebih dari 20 negara dan mencatat pertumbuhan tercepat di industri smartphone.
Pada puncaknya, kuartal III-2021, Realme berhasil mengirimkan 16,2 juta unit secara global dan masuk jajaran 10 besar vendor smartphone dunia.
Di Indonesia, Realme tumbuh sebagai merek favorit anak muda berkat strategi harga agresif, spesifikasi tinggi, serta peluncuran produk yang konsisten di berbagai segmen.
Tidak hanya fokus pada smartphone, Realme juga membangun ekosistem perangkat pintar melalui strategi 1+4+N dan kemudian 1+5+T. Strategi ini melahirkan berbagai produk seperti TWS, smartwatch, smart TV, tablet, hingga laptop yang memperkuat ekosistem AIoT Realme.
Pendekatan ini memperluas pangsa pasar sekaligus meningkatkan loyalitas pengguna.
Memasuki 2026, dinamika industri berubah drastis. Persaingan makin ketat, margin menipis, dan dominasi merek China seperti Transsion mulai menggeser pemain lama. Integrasi Realme ke Oppo dinilai sebagai langkah strategis untuk:
1. . Menyatukan sumber daya riset dan produksi
2. Menekan biaya operasional
3. Memperkuat posisi global
4. Meningkatkan kualitas layanan purnajual
Strategi ini mirip dengan pendekatan Xiaomi yang menaungi Redmi dan Poco dalam satu ekosistem bisnis terintegrasi.
Kembalinya Realme ke Oppo menandai satu siklus penuh perjalanan sebuah brand teknologi. Dari subbrand, tumbuh mandiri, hingga kembali bersinergi demi menghadapi tantangan global.
Ke depan, Realme diproyeksikan tetap menjadi ujung tombak Oppo untuk pasar anak muda dan segmen value-for-money, sementara Oppo fokus pada inovasi dan kelas menengah ke atas.
Di tengah persaingan yang semakin ketat, tekanan margin, serta perubahan perilaku konsumen, sinergi antar merek dinilai lebih efektif dibanding berjalan sendiri.
Dengan dukungan infrastruktur, jaringan layanan purnajual, dan kekuatan riset Oppo, Realme memiliki peluang lebih besar untuk mempertahankan daya saing sekaligus memperkuat posisinya di segmen anak muda dan pasar value-for-money.
Ke depan, Realme tidak hanya dihadapkan pada tantangan untuk menjaga identitasnya, tetapi juga pada peluang besar untuk tumbuh lebih stabil dan berkelanjutan.
Jika integrasi ini dijalankan dengan tepat, Realme berpotensi menjadi senjata strategis Oppo dalam menghadapi dominasi rival seperti Xiaomi dan Transsion, sekaligus memperluas pengaruhnya di pasar utama seperti India dan Indonesia.
Babak baru ini akan menjadi ujian penting bagi Realme dan Oppo dalam membuktikan bahwa kolaborasi mampu melahirkan kekuatan yang lebih besar di era kompetisi global.