
SERAYUNEWS- Saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) kembali mencuri perhatian pelaku pasar modal setelah mencatatkan rekor fenomenal di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sejak resmi melantai melalui penawaran umum perdana (IPO) pada 8 Desember 2025, saham RLCO berhasil menyentuh Auto Reject Atas (ARA) selama 17 hari perdagangan berturut-turut, sebuah pencapaian yang belum pernah terjadi sebelumnya di pasar saham domestik.
Lonjakan harga yang konsisten ini menjadikan RLCO sebagai emiten dengan reli terpanjang pasca-IPO, sekaligus mematahkan rekor yang sebelumnya dipegang oleh PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) dan PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU).
Fenomena ini memicu diskusi luas di kalangan investor, analis, hingga regulator pasar modal. Melansir berbagai sumber, berikut kami sajikan ulasan selengkapnya:
RLCO menawarkan saham perdananya di harga Rp168 per saham. Sejak hari pertama perdagangan, minat beli investor langsung membludak dan membawa saham ini menyentuh ARA tanpa jeda.
Dalam waktu kurang dari satu bulan, harga RLCO melesat hingga ke kisaran Rp3.200 per saham, mencerminkan kenaikan lebih dari 1.800 persen dibandingkan harga IPO.
Kenaikan agresif ini menempatkan RLCO sebagai salah satu saham dengan performa terbaik sepanjang awal 2026.
Volume transaksi yang padat dan antrean beli yang menumpuk menunjukkan kuatnya sentimen pasar terhadap emiten pengolahan sarang burung walet tersebut.
Seiring dengan volatilitas ekstrem yang terjadi, BEI mengambil langkah pengawasan dengan memberlakukan suspensi perdagangan saham RLCO sebanyak dua kali.
Selain itu, saham ini juga sempat dimasukkan ke dalam Papan Pemantauan Khusus dan diperdagangkan menggunakan mekanisme full call auction (FCA).
Meski berada dalam pengawasan ketat, tekanan beli terhadap saham RLCO tidak mereda. Setelah keluar dari papan FCA, saham RLCO kembali melanjutkan reli harga dan tetap mencatat ARA, menunjukkan kuatnya keyakinan investor terhadap potensi perusahaan.
Salah satu faktor utama yang mendorong lonjakan harga saham RLCO adalah tingginya minat investor saat masa penawaran umum. Dalam proses IPO, saham RLCO mengalami oversubscription hingga ratusan kali, baik pada porsi ritel maupun penjatahan terpusat.
Kondisi ini menciptakan kelangkaan saham di pasar reguler, sementara permintaan terus meningkat. Ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan tersebut menjadi katalis utama terjadinya reli harga beruntun sejak hari pertama perdagangan.
Dari sisi fundamental, RLCO bergerak di sektor pengolahan sarang burung walet bernilai tambah dengan merek kesehatan premium Realfood. Perusahaan menargetkan ekspansi agresif ke pasar global, khususnya Tiongkok, Hong Kong, Amerika Serikat, Vietnam, dan Thailand.
Dana hasil IPO senilai lebih dari Rp100 miliar direncanakan untuk memperkuat modal kerja, memastikan pasokan bahan baku, serta meningkatkan kapasitas produksi anak usaha.
Strategi ini memperkuat persepsi pasar bahwa RLCO tidak sekadar mengandalkan sentimen, tetapi juga memiliki rencana pertumbuhan jangka panjang.
Kinerja keuangan RLCO turut memperkuat optimisme investor. Hingga Mei 2025, perseroan membukukan lonjakan laba bersih lebih dari 600 persen secara tahunan.
Pertumbuhan pendapatan juga ditopang oleh kontribusi ekspor yang mendominasi penjualan, mencerminkan daya saing produk di pasar internasional.
Pendapatan terbesar masih berasal dari penjualan sarang burung walet olahan, sementara produk konsumen berkontribusi sebagai penopang diversifikasi bisnis. Kombinasi kinerja keuangan dan prospek ekspansi menjadi fondasi kuat bagi kepercayaan pasar.
Di luar faktor fundamental, psikologi pasar turut berperan besar. Tren kenaikan harga tanpa koreksi memicu efek Fear of Missing Out (FOMO), terutama di kalangan investor ritel.
Banyak pelaku pasar memilih ikut masuk demi mengejar momentum, sehingga tekanan beli tetap terjaga di level ARA.
Namun, kondisi ini juga menuntut kehati-hatian. Reli tajam dalam waktu singkat berpotensi diikuti volatilitas tinggi ketika sentimen pasar berubah atau aksi ambil untung mulai mendominasi.
Fenomena RLCO menjadi studi kasus menarik tentang dinamika pasar saham Indonesia, khususnya pada emiten baru.
Kombinasi antara fundamental, ekspektasi pertumbuhan, kelangkaan saham, dan sentimen pasar mampu menciptakan reli ekstrem, meskipun berada dalam pengawasan ketat regulator.
Investor diharapkan tetap mengedepankan analisis rasional, manajemen risiko, serta pemahaman terhadap profil perusahaan sebelum mengambil keputusan investasi di tengah euforia pasar.