Sabtu, 18 September 2021

Rel Panjang, Penyambung Napas KAI di Tengah Pandemi

Angkutan rel panjang di Cilacap merupakan salah satu adaptasi PT KAI untuk meningkatkan pendapatan di tengah pandemi. (Hermiana E.Effendi)

Derit suara rem kereta api (KA) melengking, seiring berhentinya rangkaian gerbong. Sesaat kemudian rel-rel panjang mulai digerakan masuk dalam gerbong dan keretapun mulai melaju kembali. Selepas kepergian kereta tersebut, kesibukan di Stasiun Cilacap pun sedikit berkurang.


Purwokerto, serayunews.com

Rel panjang milik PT Kereta Cepat Indonesia Cina ini sekarang mendominasi angkutan kereta barang di wilayah Daop 5 Purwokerto. Sudah 120 perjalanan KA berlangsung untuk mengangkut rel-rel tersebut dari Cilacap menuju ke Stasiun Rancaekek di wilayah Daop 2.

“Selama pandemi Covid-19 ini, kita memang bertahan dengan cara mengoptimalkan angkutan barang, serta menggali potensi-potensi aset yang kita miliki, sebab jika hanya mengandalkan penumpang saja, sudah sangat tidak mencukupi,” kata Manager Humas Daop 5 Purwokerto, Ayep Hanapi, Senin (13/9/2021).

PT Kereta Api Indonesia (KAI) sebenarnya sangat terdampak pandemi, sebab seluruh perjalanan KA sempat dihentikan untuk waktu yang cukup lama. Setelah diperbolehkan beroperasi, sampai saat ini pun jumlah KA yang jalan masih sangat terbatas, dengan jumlah penumpang yang dibatasi pula.

Manager Humas Daop 5 Purwokerto, Ayep Hanapi, dikantornya, Senin (13/9/2021). (Hermiana E.Effendi)

Saat ini KA jarak jauh yang semasa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) darurat dihentikan, sudah mulai dioperasikan kembali, namun hanya pada periode tertentu. Misalnya KA Wijayakusuma relasi Cilacap-Ketapang pp, kemudian KA Serayu Pagi dan Serayu Malam relasi Kiaracondong-Pasarsenen pp dan KA Kutojaya Selatan relasi Kutoarjo-Kiaracondong pp. Selain itu juga ada beberapa KA jarak jauh lain yang melintas di wilayah Daop 5 Purwokerto.

Dibatasinya pengoperasian KA ini, membuat PT KAI, termasuk Daop 5 harus memutar otak untuk bisa meningkatkan pendapatan dari sektor lain. Berbagai adaptasi dan inovasi dilakukan, antara lain dengan mengoptimalkan KA barang serta menggali potensi-potensi aset yang dimiliki.

Pada awal pandemi, KA barang di Daop 5 mulai berinovasi dengan mengadakan kerjasama lintas sektoral. Diantaranya dengan Dinas Tenaga Kerja Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Dinakerkop UKM) Banyumas dalam hal pengangkutan produk-produk UMKM. Setelah MoU bergulir,produk UMKM mulai membanjiri gerbong-gerbong KA barang. Dan Daop 5 memberikan diskon hingga 60 persen untuk pengangkutan produk UMKM.

“Diskon tersebut kita berikan karena UMKM juga terdampak, sehingga kita sebisa mungkin tetap memberikan suport kepada mereka dengan memberikan diskon,” jelasnya.

Awal tahun 2021, saat pandemi tidak juga usai, PT KAI berupaya untuk lebih fokus terhadap angkutan barang, sehingga pengelolaan angkutan barang kemudian dikelola khusus oleh KA logistik yang juga merupakan anak perusahaan PT KAI. Di bawah pengelola baru ini, KA barang terus digenjot. Selain angkutan rel panjang yang sudah sampai ratusan kali pengiriman, juga terdapat angkutan barang lain yang menonjol. Seperti angkutan semen yang sekarang sudah mencapai 5 keberangkatan secara rutin, yaitu 4 keberangkan ke arah Lempuyangan dan Solo dan satu keberangkatan ke arah Cirebon. Total angkutan semen ini mencapai 64.320 ton. Selain itu, juga ada angkutan ketel, angkutan motor juga masih berjalan serta produk UMKM.

“Yang merupakan terobosan baru adalah kerjasama kita dengan PT Pusri, sekarang ini masih dalam tahap kajian,” terang Ayep.

Salah satu potensi aset Daop 5 Purwokerto yang akan dibangun sebagai Purwokerto City Center (PCC). (Hermiana E.Effendi)

Optimalkan Potensi Aset

Sebagaimana diketahui, PT KAI Daop 5 Purwokerto juga memiliki berbagai macam aset yang tersebar di beberapa kabupaten, terutama aset tanah dan bangunan. Di wilayah Banyumas misalnya, Daop 5 memiliki lahan seluas 4.000 hektar yang saat ini sedang tahap persiapan untuk membangun Purwokerto City Center (PCC), kemudian aset di Lapangan Porka yang sudah siap untuk dibangun, aset rumah dinas serta beberapa aset lain yang tersebar dalam bentuk ruko ataupun tanah.

Di Kabupaten Wonosobo, Daop 5 juga memiliki aset berupa Wisma Wonosobo yang akan dikembangkan menjadi tempat wisata. Selain itu, seluruh aset tanah dan bangunan di sepanjang jalur Purwokerto – Slawi, Purwokerto – Kutoarjo, Purwokerto – Kroya, semua ditertibkan dan dikontrakan sesuai aturan kepada para penyewa.

“Penertiban aset-aset ini juga sangat menunjang pendapatan KAI, sehingga terus kita lakukan dan cukup membantu di tengah pandemi ini, saat jumlah penumpang menurun dratis. Pada awal pandemi, kita pernah sangat kerepotan, kemudian dilakukan efisiensi anggaran dan upaya lainnya, sehingga sampai dengan saat ini, PT KAI masih bertahan dan yang membanggakan tidak sampai terjadi pengurangan gaji karyawan ataupun sampai Pemutusan Hubungan Kerja (PHK),” tutur Ayep.

Menurunnya pendapatan PT KAI dari sektor angkutan penumpang juga tidak menyurutkan BUMN tersebut untuk memberikan fasilitas protokol kesehatan (prokes) demi memutus penyebaran Covid-19. Mulai dari pemasangan tempat mencuci tangan di tiap stasiun, pembagian face shield serta masker gratis untuk para penumpang, pengadaan hand santizer, penyemprotan disinfentan secara berkala, pemeriksaan suhu tubuh, hingga tes GeNose serta tes antigen yang dilaksanakan di stasiun. PT KAI juga pernah menerapkan aturan pemakaian baju lengan panjang, hingga ketentuan dilarang mengobrol di dalam kereta.

Pengadaan sarana prokes tersebut, tentu menelan biaya yang tidak sedikit, terlebih dilakukan di tengah menurunnya pendapatan. Termasuk pemberian diskon untuk angkutan produk UMKM hingga 60 persen, merupakan langkah konkrit PT KAI dalam menunjukan kepedulian serta dukungan terhadap pelaku UMKM yang terdampak, walaupun dirinya sendiri juga tengah terdampak.

“Saat ini yang terbaru, kita terintegrasi dengan aplikasi peduli lindungi, untuk mencegah pemalsuan dokumen, sehingga saat melakukan scan barcode, akan terlihat dokumen tersebut asli atau palsu,” jelas Ayep.

Salah satu penumpang KA di Stasiun Purwokerto, Ambarana mengatakan, selama pandemi, ia hanya merasa aman dan nyaman bepergian dengan menggunakan KA. Sebab, aturan jaga jarak dan pembatasan jumlah penumpang diberlakukan dengan sangat ketat dan semua penumpang juga harus melakukan tes antigen terlebih dahulu.

“Jadi meskipun berada dalam satu gerbong, tetap berjarak dan dipastikan semua penumpang sehat, sebab jika ada yang positif Covid-19, akan diminta untuk membatalkan perjalanan dan seluruh biaya tiket dikembalikan, sehingga lebih merasa aman bepergian menggunakan kereta,” ucapnya.

Berita Terkait

Berita Terkini