
SERAYUNEWS- Nilai tukar mata uang Iran kembali mencetak rekor kelam. Awal 2026 menjadi momen paling suram ketika 1 dolar Amerika Serikat menembus level 1,45 juta rial, menandai kejatuhan ekonomi yang kian dalam.
Kondisi ini bukan sekadar fluktuasi biasa, melainkan refleksi dari krisis struktural yang telah berlangsung puluhan tahun.
Pelemahan drastis rial memperlihatkan rapuhnya fondasi ekonomi Iran di tengah tekanan geopolitik, sanksi internasional, dan instabilitas domestik.
Kepercayaan publik terhadap sistem moneter perlahan runtuh, seiring daya beli masyarakat yang tergerus tanpa ampun.
Melansir berbagai sumber, berikut kami sajikan ulasan selengkapnya mengenai
Rial Iran runtuh ke titik terendah, 1 Dolar AS tembus 1,45 juta: Ini dampak sanksi, Trump, dan ancaman konflik terbuka:
Sejarah mencatat, saat Revolusi Iran tahun 1979, 1 dolar AS hanya setara 70 rial. Empat dekade berselang, nilai tersebut melonjak lebih dari 20.000 kali lipat, sebuah angka yang mencerminkan kegagalan berulang dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Lonjakan nilai dolar terhadap rial tidak terjadi secara tiba-tiba. Inflasi kronis, salah urus kebijakan fiskal, dan isolasi diplomatik berlapis menjadi penyebab utama yang terus menekan mata uang nasional Iran.
Pemberlakuan kembali sanksi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September 2025 menjadi pukulan telak. Sanksi ini mencakup embargo senjata, pembatasan program rudal balistik, pembekuan aset, hingga larangan perjalanan bagi pejabat tertentu.
Uni Eropa dan Amerika Serikat memperketat tekanan dengan dalih pelanggaran HAM serta keterlibatan Iran dalam konflik Ukraina melalui pasokan drone ke Rusia. Kombinasi sanksi ini mempersempit ruang gerak ekonomi Iran di pasar global.
Ketegangan meningkat setelah Presiden AS Donald Trump melontarkan ancaman terbuka. Trump tidak hanya mengisyaratkan opsi militer, tetapi juga meluncurkan tarif 25 persen bagi negara yang masih berdagang dengan Iran.
Langkah ini menciptakan efek domino. Negara mitra dagang seperti China, Rusia, Turki, dan Brasil menghadapi dilema besar, sementara Iran semakin terisolasi dari sistem perdagangan internasional.
Data jurnalisme Iran Open Data mengungkapkan bahwa Iran kehilangan sekitar 20 persen potensi pendapatan ekspor minyak akibat upaya menghindari sanksi AS.
Penjualan minyak melalui jalur tidak langsung meningkatkan biaya transaksi dan memangkas keuntungan negara.
Pendapatan yang menurun mempersulit pemerintah menjaga cadangan devisa, sehingga tekanan terhadap nilai rial semakin tak terbendung.
Inflasi tahunan Iran mencapai 42,2 persen pada Desember 2025, termasuk yang tertinggi di dunia.
Harga pangan, perumahan, dan barang impor melonjak tajam, memukul rumah tangga kelas menengah dan bawah.
Masyarakat berbondong-bondong menukar tabungan mereka ke dolar AS, emas, atau properti sebagai langkah penyelamatan nilai aset. Fenomena ini justru mempercepat kejatuhan rial di pasar terbuka.
Krisis ekonomi memicu gelombang demonstrasi besar sejak akhir Desember. Ratusan orang dilaporkan tewas dan ribuan lainnya ditahan.
Pemerintah Iran merespons dengan pemutusan akses internet dan komunikasi, memperburuk kekhawatiran dunia internasional.
Ketidakstabilan sosial ini menjadi faktor tambahan yang memperlemah kepercayaan investor terhadap masa depan ekonomi Iran.
Situasi semakin genting ketika ancaman invasi dan serangan militer mulai mencuat. AS dan Israel disebut tengah menyiapkan berbagai skenario, mulai dari serangan siber hingga operasi militer langsung.
Ketidakpastian geopolitik ini membuat pasar semakin panik, mendorong pelemahan rial ke titik terendah sepanjang sejarah.
Jika rial terus terdepresiasi, Iran berpotensi menghadapi hiperinflasi, kelangkaan barang impor, dan runtuhnya sistem keuangan domestik.
Transaksi informal bisa menggantikan mata uang resmi, seperti yang pernah terjadi di beberapa negara gagal ekonomi.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengancam keutuhan sosial dan politik negara.
Al-Qur’an telah mengingatkan tentang kehancuran akibat ketidakadilan dan kerusakan sistem ekonomi:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia.”
(QS. Ar-Rum: 41)
Ayat ini menegaskan bahwa krisis ekonomi bukan sekadar faktor eksternal, melainkan akumulasi kebijakan dan tindakan manusia sendiri.
Allah SWT juga berfirman:
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
(QS. Al-A’raf: 56)
Ayat ini relevan dengan kondisi Iran, di mana konflik, sanksi, dan ketegangan politik menciptakan ketidakseimbangan ekonomi yang merugikan rakyat.
Stabilisasi nilai rial hanya mungkin terjadi jika Iran mampu menurunkan inflasi, memulihkan kepercayaan pasar, serta membuka kembali jalur diplomasi internasional. Tanpa perubahan mendasar, tekanan terhadap mata uang nasional akan terus berlanjut.
Krisis ini menjadi pengingat global bahwa ekonomi dan geopolitik saling terkait erat, dan dampaknya selalu kembali ke rakyat.