
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS – Menjadi pahlawan tidak selalu harus melakukan hal besar. Bagi Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Banjarnegara, setetes darah dari seorang pendonor bisa menjadi harapan bagi pasien yang membutuhkan transfusi.
Pesan tersebut disampaikan PMI Banjarnegara saat menyambangi SMKN 1 Bawang, Senin (10/8/2026). Ribuan siswa sekolah tersebut mendapatkan edukasi mengenai donor darah sekaligus diajak membangun kepedulian terhadap sesama.
Kegiatan tersebut menyasar generasi Z yang dinilai memiliki peran penting dalam keberlanjutan gerakan kemanusiaan di masa depan.
Sekretaris PMI Kabupaten Banjarnegara, Titho Agus Wigono, mengatakan generasi Z merupakan calon penggerak perubahan di masa depan.
Karena itu, mereka perlu mendapatkan pemahaman mengenai pola hidup sehat sekaligus kepedulian sosial sejak usia sekolah.
Menurut Titho, donor darah menjadi salah satu bentuk nyata kepedulian terhadap sesama yang dapat dikenalkan kepada generasi muda.
“Generasi Z merupakan agen masa depan yang perlu mendapat sentuhan agar dapat berperilaku hidup sehat. Salah satunya dengan menjadi relawan donor darah yang secara tidak langsung akan berdampak luas terhadap lingkungan dan kesehatan bagi pendonor,” ujarnya.
Titho juga mengapresiasi jajaran SMKN 1 Bawang, terutama anggota Palang Merah Remaja (PMR), yang selama ini aktif bersinergi dengan PMI dalam berbagai kegiatan kemanusiaan.
Ia berharap edukasi donor darah tidak berhenti pada sosialisasi. PMI ingin kegiatan tersebut berkembang menjadi gerakan donor darah rutin di lingkungan sekolah.
“Kami berharap donor darah nantinya menjadi kegiatan rutin di SMKN 1 Bawang yang digawangi teman-teman PMR di bawah arahan pembina atau orang dewasa,” katanya.
Titho menambahkan, pembentukan karakter generasi muda tidak hanya berlangsung melalui kegiatan akademik.
Menurutnya, berbagai aktivitas positif yang menumbuhkan kepedulian, solidaritas, dan semangat kerelawanan juga penting untuk membangun sumber daya manusia yang tangguh.
Donor darah dapat menjadi salah satu kegiatan yang mempertemukan nilai kesehatan dengan kepedulian sosial. Melalui kegiatan tersebut, siswa diperkenalkan pada pentingnya membantu orang lain sekaligus memahami peran relawan dalam kegiatan kemanusiaan.
Humas dan Rekrutmen Donor PMI Banjarnegara, M. Alwan Rifai, mengatakan PMI terus mencari berbagai cara untuk memperluas basis pendonor darah.
Salah satu sasaran utama adalah generasi muda. Karena itu, PMI mendekatkan edukasi donor darah ke lingkungan sekolah dengan pendekatan yang lebih sesuai dengan karakter Gen Z.
“Berbagai upaya untuk menumbuhkan dan merekrut pendonor darah terus dilakukan dengan berbagai metode. Salah satunya melalui sosialisasi yang kali ini kami lakukan dengan terjun langsung di tengah-tengah Gen Z,” kata Alwan.
Menurut Alwan, edukasi sejak usia sekolah penting agar donor darah tidak hanya dipahami sebagai kegiatan kemanusiaan sesaat. Kebiasaan positif tersebut diharapkan dapat tumbuh hingga para siswa memenuhi persyaratan untuk menjadi pendonor.
Bahkan, PMI berharap donor darah dapat menjadi bagian dari gaya hidup positif generasi muda.
“Donor darah diharapkan menjadi gaya hidup atau tren bagi Gen Z sehingga menjadi generasi yang sehat dan menjadi agen perubahan perilaku masa depan,” ujarnya.
Alwan menilai generasi muda memiliki peran strategis bagi keberlangsungan gerakan kemanusiaan PMI.
Mereka diharapkan tidak hanya menjadi pendonor darah, tetapi juga dapat berkembang menjadi relawan sekaligus mitra PMI pada masa mendatang.
“Ini penting karena Gen Z merupakan penerus dan menjadi harapan untuk menjadi relawan masa depan yang diharapkan menjadi mitra PMI,” katanya.
Melalui edukasi di sekolah, PMI ingin memperkenalkan kegiatan kemanusiaan sejak dini sekaligus membangun pemahaman bahwa kebutuhan darah merupakan persoalan yang membutuhkan partisipasi masyarakat secara berkelanjutan.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan informasi mengenai donor darah, mulai dari pemahaman dasar hingga manfaat donor bagi pendonor maupun pasien yang membutuhkan transfusi.
Antusiasme siswa terlihat dari banyaknya pertanyaan yang disampaikan selama sosialisasi.
Sejumlah pertanyaan bahkan membahas informasi dan rumor seputar donor darah yang sering beredar di media sosial.
Alwan menilai antusiasme tersebut menjadi kesempatan untuk meluruskan informasi yang belum tentu benar.
“Menjadi menarik karena peserta sangat antusias dengan melemparkan berbagai pertanyaan yang selama ini menjadi rumor atau sering dijumpai di platform media sosial,” katanya.
Interaksi tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya literasi kesehatan bagi generasi muda agar informasi mengenai donor darah tidak hanya diperoleh dari media sosial, tetapi juga dari sumber yang kompeten.
Pembina PMR SMKN 1 Bawang, Agnes Dwi Cahyani, menyambut positif kegiatan edukasi donor darah tersebut.
Ia berharap pengetahuan yang diperoleh siswa dapat ditindaklanjuti dengan aksi nyata melalui kegiatan donor darah secara berkala di lingkungan sekolah.
“Lewat sosialisasi tersebut kami berharap dapat memberikan pengetahuan dan khasanah baru bagi siswa agar nantinya bergerak menjadi relawan donor darah,” ungkap Agnes.
Dengan edukasi sejak bangku sekolah, PMI Banjarnegara berharap semakin banyak generasi muda yang tidak hanya sehat dan produktif, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan kemanusiaan.
Bagi pasien yang membutuhkan transfusi, setetes darah dari seorang pendonor dapat menjadi harapan yang sangat berarti.