Jumat, 24 September 2021

Saat Awal Cetuskan Bank Sampah, Warga Cilacap Ini Diancam Pakai Golok, Begini Ceritanya

Nurhidayat saat menerima penghargaan Kalpataru. (dok istimewa)

Niat baik seseorang nyatanya belum tentu disambut baik pula oleh orang lainnya. Hal itu seperti dialami Mohamad Nurhidayat (40), seorang perintis lingkungan di Cilacap, tepatnya di RW 10 Kelurahan Kebonmanis Cilacap Utara. Saat itu Nurhidayat memprakarsai dibentuknya suatu unit bank sampah mandiri pada tahun 2011 di sekitar tempat tinggalnya.


Cilacap, serayunews.com

Saat itu, Nurhidayat malah mendapat kecaman dari para tetangganya. Bahkan sampai ada yang membawa golok sembari memarahinya. Karena apa yang menjadi rencananya itu dianggap akan mencemari lingkungan, lantaran dikhawatirkan akan banyak sampah yang menumpuk.

“Dulu waktu awal pembentukan bank sampah memang luar biasa penolakannya. Banyak yang marah karena dianggap mencemari lingkungan. Bahkan ada yang sampai bawa golok datang ke saya, karena memang zaman itu orang belum tahu apa bank sampah, apalagi manfaatnya,” kata Nurhidayat saat ditemui di rumahnya, Rabu (14/7/2021).

Setahun berjalan, atau tepatnya di tahun 2012 ia memberanikan diri untuk membuka unit bank sampah mandiri tersebut. Namun dengan skala yang kecil, dengan harapan masyarakat di tempat tinggalnya akan memahami manfaat dari keberadaan bank sampah.

Terbukti, lambat laun anggota dari bank sampah yang digagas Nurhidayat ini kian bertambah. Bahkan saat ini sudah mencapai 350 orang. Namun karena jarak rumah dari setiap anggota tidak semuanya berada di lingkungan tempat Nurhidayat tinggal, sehhingga ia juga mendorong anggota lainnya untuk membentuk unit bank sampah baru. Harapannya, agar mempermudah mobilitas anggotanya dalam menabung sampah.

“Memang untuk yang jauh kita bikinkan unit baru, pengelolaanya juga dibina. Karena mengelola bank sampah harus mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi dan kerja sosial. Jadi memang harus pelan-pelan, agar ada hasilnya,” tuturnya.

Aktifitas bank sampah mandiri. (irfan Miftah Ramadhan)

Ia menjelaskan, dengan adanya bank sampah maka limbah rumah tangga yang tadinya tidak memiliki nilai, menjadi ada harganya. Terbukti saat ini masyarakat sekitar sudah menikmati hasilnya, karena sampah organik diolah menjadi makanan maggot yang berfungsi sebagai pakan ikan lele. Serta sampah anorganik juga dijual ke tempat loak.

“Alhamdulillah sekarang sudah menghasilkan, bahkan minyak jelantah (sisa penggorengan) juga dijual dengan harga Rp 3.000 per liter, dan bisa ditukar atau dibelanjakan di 5 warung yang bekerjasama dengan kita,” ujarnya.

Berkat kegigihannya, Nurhidayat pernah mendapatkan penghargaan Kalpataru tingkat Provinsi Jawa Tengah pada 2019 lalu. Selain itu, menjadi juara dua bank sampah tingkat Provinsi Jawa Tengah di Tahun 2021 ini.

Tak cukup sampai di situ, Nurhidayat juga mendedikasiskan dirinya dengan menjadi pendamping di berbagai tempat pengolahan sampah desa, dan di tempat pengelolaan sampah binaan berbagai CSR perusahaan.

Berita Terkait

Berita Terkini