
PURBALINGGA, SERAYUNEWS — Kabupaten Purbalingga di Jawa Tengah tidak hanya menyimpan keindahan alam di kaki Gunung Slamet, tetapi juga ragam kekayaan kuliner tradisional yang sarat akan nilai sejarah.
Salah satu ikon kuliner tersohor yang senantiasa memikat selera warga lokal maupun wisatawan adalah Sate Blater.
Berasal dari Desa Blater, Kecamatan Kalimanah, Kabupaten Purbalingga, sajian sate ayam ini menyajikan cita rasa unik yang membedakannya secara signifikan dari jenis sate ayam pada umumnya di Tanah Air.
Kelezatan Sate Blater bukan sekadar hasil olahan resep biasa, melainkan warisan panjang yang menyimpan jejak akulturasi budaya dengan metode memasak Eropa pada masa kolonial Belanda.
Berdasarkan catatan sejarah lokal dan publikasi Pemerintah Kabupaten Purbalingga, teknik pengolahan daging Sate Blater terinspirasi dari standar memasak kolonial yang sangat memperhatikan keempukan, higienitas, serta keawetan bahan pangan.
Pada masa lalu, terdapat aturan tradisional ketat di mana para pedagang sate hanya diperbolehkan berjualan di area Desa Blater.
Praktik ini diduga berkaitan erat dengan regulasi ekonomi dan tata kelola pemukiman pada era kolonial. Seiring berjalannya waktu, aturan tersebut mulai melonggar, memungkinkan hidangan legendaris ini tersebar luas dan menjadi maskot kuliner khas Purbalingga yang kerap dihadirkan dalam festival budaya serta jamuan resmi.
Hal utama yang menjadi identitas pembeda Sate Blater terletak pada tahapan pra-pemasakan yang disebut dengan istilah lokal disekel. Seperti yang dijelaskan oleh Lukman, salah satu pengelola warung sate legendaris di Purbalingga, proses disekel merupakan tahapan merebus daging ayam hingga matang atau setengah matang sebelum ditusuk dan dibakar.

“Perbedaannya kalau di Sate Blater itu dagingnya disekel dulu (direbus dulu). Habis direbus entar tinggal dirawis (diiris), terus dikasih bumbu. Setelah itu baru dibakar,” jelas Lukman.
Racikan bumbu marinasi Sate Blater memanfaatkan perpaduan kaya rempah seperti bawang putih, ketumbar, kemiri, serta bumbu halus lainnya. Komposisi ini memiliki keidentikan dengan bumbu semur ala Belanda (smoor).
Proses penyerapan bumbu yang meresap hingga ke serat daging membuat Sate Blater memiliki ketahanan alami hingga tiga hari tanpa bahan pengawet.
Dahulu, proses pembakaran Sate Blater identik menggunakan sabut kelapa yang menghasilkan aroma asap (smoky) khas.
Namun, seiring perkembangannya waktu dan modernisasi, penggunaan sabut kelapa ini mulai tergerus. Saat ini, sebagian besar pedagang telah beralih menggunakan arang kayu biasa karena kepraktisan dan ketersediaannya di pasaran.
Kendati media pemanggangnya telah menyesuaikan zaman, kekhasan rasa gurih-manis dari bumbu marinasi Sate Blater tetap terjaga.
Berbeda dengan sate madura atau sate solo yang umumnya langsung dibakar dalam keadaan mentah, Sate Blater disajikan dengan balutan saus kacang istimewa. Bumbu kacangnya dibuat dari kacang tanah tumbuk yang diracik bersama cabai, kunyit, dan gula merah, menciptakan harmoni rasa gurih, sedikit pedas, dan dominan manis yang pas di lidah Jawa Tengah.
Menurut Antik, salah satu penikmat Sate Blater, keunggulan Sate Blater khususnya dari kedai legendaris Pak Indra, terletak pada ukuran potongannya yang memuaskan dan tekstur dagingnya yang tetap kenyal namun empuk.
“Sate Blater ini dagingnya besar-besar, teksturnya empuk karena direbus dulu, dan rasanya cenderung manis gurih. Dari dulu favorit sate di Purbalingga ya Sate Blater Pak Indra,” tutur Antik.
Sate Blater sangat cocok dinikmati untuk porsi perorangan, santapan keluarga, maupun sajian acara besar seperti pesta pernikahan dan arisan.
Pembelian sate dapat disesuaikan dengan jumlah tusukan yang diinginkan.
Berikut adalah patokan harga per tusuk Sate Blater Pak Indra:
10 Tusuk: Rp 17.000
15 Tusuk: Rp 25.500
20 Tusuk: Rp 34.000
25 Tusuk: Rp 42.500
30 Tusuk: Rp 51.000
35 Tusuk: Rp 59.500
40 Tusuk: Rp 68.000
45 Tusuk: Rp 76.500
50 Tusuk: Rp 85.000
Sate Blater bukan sekadar hidangan pemuas lapar, melainkan warisan seni kuliner Purbalingga yang memadukan kearifan lokal dengan teknik olah pangan era kolonial.
Kombinasi teknik disekel dan marinasi rempah mendalam menjadikan sate ini destinasi kuliner wajib bagi siapa saja yang berkunjung ke Kabupaten Purbalingga.