
BANYUMAS, SERAYUNEWS – Jejak panjang batik di Jawa Tengah memasuki babak baru. Sebanyak 17 pemilik arsip dari instansi pemerintah hingga perorangan berkolaborasi mengajukan khazanah arsip bertajuk “Arsip Batik Indonesia: Jaringan Dagang dan Budaya 1900–2023” dalam program Memori Kolektif Bangsa (MKB) 2026 yang digagas Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).
Usulan tersebut merekam perjalanan batik Indonesia selama lebih dari satu abad, mulai 1900 hingga 2023. Arsip yang dihimpun tidak hanya menunjukkan perkembangan batik sebagai produk budaya, tetapi juga mengungkap jaringan perdagangan, hubungan sosial lintas etnis, hingga nilai spiritual yang berkembang di tengah masyarakat.
Kolaborasi tersebut melibatkan pemilik arsip dari berbagai wilayah di Jawa Tengah. Dokumen yang dikumpulkan membentang dari kawasan pesisir utara hingga pedalaman Jawa, antara lain Pekalongan, Batang, Rembang (Lasem), Boyolali, dan Banyumas.
Koleksi tersebut memperlihatkan bahwa batik tidak sekadar berkembang sebagai busana tradisional. Arsip-arsip perdagangan juga menunjukkan posisi batik dalam rantai ekonomi yang menghubungkan berbagai daerah, komunitas, bahkan jaringan perdagangan global.
“Kolaborasi lintas daerah dan lintas komunitas ini menjadi salah satu kekuatan utama nominasi, tujuan dari bergotong royong adalah mengumpulkan arsip batik yang sangat jarang,” kata Koordinator Jaringan Lintas Daerah, Atik Fara dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Kabupaten Pekalongan, Sabtu (29/8/2026).
Khazanah arsip yang diajukan memiliki bentuk dan rentang waktu yang beragam. Koleksi tersebut antara lain mencakup:
Atik mengatakan, keberadaan arsip tekstual dan visual mengenai perjalanan batik jauh lebih sulit ditemukan dibandingkan kain atau motif batik yang masih tersimpan hingga kini.
“Kain batik dengan berbagai motif sepanjang sejarah perkembangannya masih mudah ditemukan di museum, kolektor atau diperjualbelikan. Namun arsip tekstual, video, foto terkait rantai nilai batik ini cukup langka,” kata Atik.
Kumpulan arsip tersebut juga membuka gambaran mengenai perjumpaan berbagai komunitas dalam perkembangan batik Indonesia. Jejaring sosial dan ekonomi itu melibatkan masyarakat Jawa, komunitas Islam, Tionghoa, India, dan Arab.
Jaringan tersebut bahkan terhubung dengan konsumen di berbagai wilayah Nusantara hingga mancanegara. Fakta itu memperlihatkan bahwa perjalanan batik tidak berdiri sendiri, melainkan berkembang melalui interaksi perdagangan dan budaya lintas wilayah serta kelompok masyarakat.
Langkah kolektif tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Kabupaten Banyumas. Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Daerah (Dinarpusda) Kabupaten Banyumas, Agus Anggraito AP M.Si, menegaskan kesiapan pemerintah daerah untuk memberikan dukungan sesuai kewenangannya.
Rumah Arsip Banjoemas menjadi salah satu kolaborator dari Kabupaten Banyumas dalam pengajuan khazanah arsip batik tersebut.
“Salah satu kolaborator dari Kabupaten Banyumas adalah Rumah Arsip Banjoemas. Jadi kami akan membantu semampu kami, misalnya terkait administratif yang menjadi kewenangan kami,” kata Agus dalam rapat koordinasi, pekan lalu.
Selain nilai ekonomi dan budaya, arsip batik yang dihimpun juga merekam aspek teologis dan sosial masyarakat.
Salah satunya terlihat pada motif batik Rifaiyah dari Batang. Motif tersebut menyimpan doa dan ajaran nilai agama yang diwariskan secara turun-temurun.
Sementara itu, dari kawasan tenggara Jawa Tengah, Lasem memberikan kontribusi penting melalui arsip yang merekam perkembangan perdagangan dan perjumpaan budaya di wilayah tersebut.
“Kami memiliki 259 lembar arsip statis. Ini bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan rekaman yang membuktikan betapa kuatnya jejaring ekonomi dan perjumpaan budaya di Lasem dan jaringan budaya batik Indonesia pada kurun 1900–1950. Lewat penominasian ini, kami ingin memastikan bahwa sejarah panjang kontribusi Lasem dalam kebudayaan batik Indonesia merupakan kontribusi komunal dan layak dilestarikan untuk keberlanjutan batik sebagai warisan budaya takbenda,” ujar Baskoro, perwakilan dari Yayasan Lasem Heritage.
Program Memori Kolektif Bangsa (MKB) merupakan program prioritas ANRI untuk menyelamatkan warisan dokumenter yang memiliki nilai sejarah tinggi. Program tersebut berjalan sejalan dengan standar Memory of the World UNESCO.
Pengajuan “Arsip Batik Indonesia: Jaringan Dagang dan Budaya 1900–2023” diharapkan dapat memperkuat upaya pelestarian arsip batik sekaligus memperluas pemahaman mengenai perjalanan batik Indonesia.
Lebih dari sekadar kain dan motif, arsip tersebut merekam perjalanan ekonomi, hubungan antarkomunitas, nilai keagamaan, serta pertukaran budaya yang membentuk sejarah batik selama lebih dari satu abad.
Jika ditetapkan dalam program MKB 2026, khazanah tersebut akan menjadi bagian penting dari upaya menjaga memori kolektif bangsa sekaligus menegaskan posisi batik sebagai warisan budaya yang memiliki keterkaitan dengan sejarah peradaban dunia.