
Banjarnegara, serayunews.com
Gerakan merdeka panen singkong di Desa Pucungbedug, Kecamatan Purwanegara ini, menjadi momentum membangkitkan semangat mengembangkan komoditas singkong.
Pj Bupati Banjarnegara, Tri harso Widirahmanto mengatakan, kegiatan ini menjadi tonggak awal kebangkitan ubi kayu di Banjarnegara yang semula inferior menuju ke superior.
“Kita berdayakan kembali ubi kayu ini dan jangan tergantung produk import. Banjarnegara bertekad mengangkat derajat ubi kayu, produk lokal yang akan mendunia,” katanya.
Potensi singkong di Kabupaten Banjarnegara, cukup besar. Bahkan dari luas wilayah yang mencapai 106.000 hektare, 3.666 hektare wilayah kering di Banjarnegara bagian selatan sudah tertanam ubi kayu.
“Sebagian besar lahan kering di Kecamatan Purwanegara, Mandiraja, Punggelan, Bawang, dan Rakit, ditanami ubi kayu,” ujarnya.
Singkong memang sempat mengalami keterpurukan, bahkan harganya pernah hanya Rp 300 per kilogram.
“Saat ini harga sudah mulai bagus, bahkan sudah mencapai Rp 1.500 per kilogramnya. Harga semakin baik, karena Banjarnegara sudah mulai mengembangkan produk olahan dari ubi kayu ini, sehingga memiliki nilai ekonomi yang lebih,” katanya.
Plt Kepala Dinas Pertanian Perikanan dan Ketahanan Pangan (Distankan KP) Banjarnegara, Herrina Indri Hastuti mengatakan, Gerakan Merdeka Panen Ubi Kayu di Desa Pucungbedug berawal dengan kegiatan panen bersama.
Selain itu juga ada bazar aneka produk olahan berbahan singkong. Kemudian, ada pencanangan komitmen bersama gerakan konsumsi ubi kayu sebagai bentuk dukungaan pengembangan produk olahan makanan berbahan singkong.
“Ada juga ekspose singkong varietas lokal Banjarnegara seperti varietas lanting, darma, samar, dan genjah rombyong,” katanya.