
SERAYUNEWS- BPJS Kesehatan memperkuat layanan promotif dan preventif melalui program Skrining Gratis 14 Penyakit Kronis bagi peserta BPJS Kesehatan dalam skema Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).
Program ini memungkinkan peserta melakukan Skrining Riwayat Kesehatan BPJS Kesehatan secara mandiri guna mendeteksi risiko penyakit kronis sejak dini. Langkah ini menjadi strategi penting untuk mencegah penyakit berkembang ke tahap lanjut yang membutuhkan biaya pengobatan besar.
BPJS Kesehatan menilai kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini masih perlu ditingkatkan. Banyak warga baru memanfaatkan JKN ketika kondisi kesehatan sudah memburuk.
Fenomena tersebut mendorong digelarnya sosialisasi Program JKN di Kecamatan Kawunganten, Kabupaten Cilacap, Senin, 23 Februari 2026. Kegiatan ini merupakan kolaborasi BPJS Kesehatan Cabang Purwokerto bersama Komisi IX DPR RI.
Anggota Komisi IX DPR RI, Teti Rohatiningsih, menegaskan pihaknya terus mengawal pelaksanaan program kesehatan agar akses layanan menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk wilayah pelosok.
Menurutnya, setiap warga negara berhak memperoleh layanan kesehatan berkualitas tanpa diskriminasi. Di tengah kenaikan biaya medis, Program JKN menjadi solusi pembiayaan kesehatan nasional.
“Program ini melindungi masyarakat dari risiko biaya besar akibat penyakit berat seperti gagal ginjal, jantung, hingga kanker. Namun keberlanjutan JKN bergantung pada keseimbangan iuran dan klaim,” ujarnya.
Melalui Skrining Riwayat Kesehatan, peserta dapat mengidentifikasi risiko 14 penyakit kronis atau katastropik, antara lain: diabetes melitus, hipertensi, stroke, jantung, kanker serviks, kanker payudara, TBC, anemia, kanker paru, kanker usus, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), thalassemia, hipotiroid kongenital, dan hepatitis.
Peserta cukup menjawab pertanyaan seputar riwayat kesehatan pribadi dan keluarga, pola makan, aktivitas fisik, serta kebiasaan merokok. Sistem akan menganalisis jawaban dan memberikan gambaran tingkat risiko beserta rekomendasi tindak lanjut.
Jika risiko terdeteksi sejak awal, peserta dapat segera berkonsultasi di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) terdaftar sebelum kondisi berkembang menjadi komplikasi serius.
Program ini sekaligus menekan potensi pembiayaan besar untuk penyakit katastropik yang selama ini menyerap anggaran signifikan dalam skema JKN.
Untuk mempermudah layanan, BPJS Kesehatan menyediakan berbagai kanal digital. Peserta dapat melakukan skrining melalui:
Digitalisasi layanan ini membuat skrining bisa dilakukan kapan saja dan di mana saja tanpa harus datang ke kantor cabang.
Transformasi berbasis teknologi tersebut juga meningkatkan efisiensi, transparansi, dan kenyamanan peserta dalam mengakses layanan kesehatan.
BPJS Kesehatan menegaskan bahwa pencegahan jauh lebih murah dan efektif dibanding pengobatan tahap lanjut. Biaya terapi penyakit kronis seperti gagal ginjal atau penyakit jantung bisa mencapai ratusan juta rupiah per pasien dalam jangka panjang.
Karena itu, peserta JKN didorong untuk:
Upaya ini menjadi bagian dari strategi menjaga keseimbangan iuran dan klaim dalam sistem asuransi sosial berbasis gotong royong.
Kepala BPJS Kesehatan Cabang Purwokerto, Niken Sawitri, menekankan pentingnya edukasi dan partisipasi aktif peserta.
Menurutnya, JKN dibangun di atas prinsip gotong royong: peserta yang sehat membantu yang sakit, dan yang mampu membantu yang kurang mampu.
Pembayaran iuran secara rutin menjadi fondasi utama agar Program JKN tetap berjalan optimal dan mampu memberikan perlindungan kesehatan merata bagi masyarakat Indonesia.
Skrining Gratis 14 Penyakit Kronis menjadi langkah konkret BPJS Kesehatan dalam membangun budaya deteksi dini dan pencegahan penyakit katastropik.
Keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada kesadaran kolektif peserta untuk:
Dengan skrining yang kini semakin mudah lewat Mobile JKN dan PANDAWA 08118165165, tidak ada lagi alasan menunda deteksi dini. Mencegah lebih baik daripada mengobati dan kini, caranya semakin sederhana.