
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS — Car Free Day (CFD) selama ini identik dengan aktivitas Minggu pagi di kawasan perkotaan, termasuk sekitar Alun-Alun Banjarnegara.
Namun, dalam beberapa waktu terakhir, fenomena serupa mulai tumbuh di sejumlah wilayah perdesaan di Banjarnegara.
Menariknya, ruang yang digunakan tidak selalu berupa jalan protokol. Jalan penghubung antardesa, ruas jalan di tengah persawahan, hingga jalur dengan panorama perbukitan mulai berubah menjadi ruang publik pada akhir pekan.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa CFD di Banjarnegara tidak lagi sekadar menjadi tempat berolahraga. Aktivitasnya berkembang menjadi perpaduan olahraga, rekreasi, kuliner, interaksi sosial, hingga kegiatan ekonomi masyarakat.
CFD di kawasan pusat Banjarnegara sendiri memiliki landasan kebijakan melalui Peraturan Daerah Kabupaten Banjarnegara Nomor 12 Tahun 2019 tentang Kawasan Hari Bebas Kendaraan Bermotor.
Regulasi tersebut menempatkan CFD sebagai ruang publik untuk olahraga, edukasi lingkungan, pengurangan emisi kendaraan, serta aktivitas masyarakat dan pelaku usaha.
Salah satu fenomena menarik muncul di Desa Kutayasa, Kecamatan Bawang, serta kawasan jalan di tengah hamparan persawahan di wilayah Kecamatan Kalibening.
Ruas jalan yang membelah persawahan dan menghubungkan sejumlah wilayah tersebut pada akhir pekan berubah menjadi tempat warga berjalan santai, berolahraga, sekaligus menikmati suasana pedesaan.
Hamparan sawah dan perbukitan menjadi daya tarik tersendiri. Warga tidak hanya datang untuk berolahraga, tetapi juga menikmati jajanan, membeli produk pertanian, dan berinteraksi dengan masyarakat sekitar.
Fenomena tersebut memperlihatkan perubahan cara masyarakat mencari ruang rekreasi. Mereka tidak harus datang ke objek wisata dengan tiket masuk. Cukup berjalan kaki di jalan desa, menghirup udara pagi, melihat hamparan tanaman, kemudian menikmati makanan yang dijajakan warga.
Kepala Dinas Indagkop dan UKM Banjarnegara Adi Cahyono mengatakan, menjamurnya aktivitas yang disebut CFD di sejumlah perdesaan menjadi model baru dalam pertumbuhan ekonomi kreatif.
Menurutnya, konsep CFD yang pada dasarnya memberikan ruang bagi masyarakat untuk beraktivitas tanpa gangguan kendaraan bermotor kini berkembang mengikuti kreativitas warga.
“Pagi hari di lokasi CFD dapat diisi dengan jalan sehat, bersepeda, senam, bermain bersama keluarga, hingga berburu kuliner. Ketika semakin banyak orang berkumpul, muncul pula peluang ekonomi,” katanya.
Pedagang makanan, petani yang menjual hasil kebun, pelaku UMKM, hingga warga yang menawarkan produk rumahan mendapatkan ruang untuk memperkenalkan dagangan secara langsung kepada konsumen.
“Artinya, CFD pedesaan berpotensi menciptakan rantai ekonomi kecil yang tumbuh dari aktivitas warga sendiri,” ujarnya.
Dengan demikian, jalan desa yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai jalur mobilitas dapat berubah menjadi ruang bertemunya produsen lokal dan konsumen pada waktu tertentu.
Pegiat Ekonomi Kreatif Banjarnegara Kristiono melihat fenomena tersebut dari perspektif berbeda.
Selama bertahun-tahun, istilah destinasi wisata lebih sering dikaitkan dengan objek yang memiliki daya tarik khusus, fasilitas, serta pengelolaan tertentu. Namun, kemunculan CFD di perdesaan menunjukkan bahwa sebuah jalan di tengah sawah pun dapat menjadi tujuan masyarakat.
Daya tariknya bukan semata-mata kondisi jalan, melainkan pengalaman yang ditawarkan.
Udara pagi, pemandangan persawahan, aktivitas petani, jajanan lokal, serta suasana tanpa kendaraan bermotor menciptakan pengalaman berbeda dibandingkan CFD di kawasan perkotaan.
“Inilah yang membuat CFD di sejumlah desa memiliki karakter tersendiri. Masyarakat datang bukan hanya untuk bergerak, tetapi juga mencari suasana,” ujarnya.
CFD di pusat Kota Banjarnegara tetap menjadi salah satu ruang aktivitas masyarakat. Pemerintah daerah membuka kegiatan CFD di kawasan antara Jalan Dipayuda hingga Alun-Alun Banjarnegara.
Aktivitasnya mencakup olahraga, interaksi masyarakat, bazar UMKM, hingga edukasi lingkungan.
Memasuki pertengahan 2026, aktivitas bebas kendaraan di kawasan pusat kota juga berkembang menjadi Car Free Night (CFN) yang berlokasi di Jalan Dipayudha hingga kawasan Alun-Alun Banjarnegara.
Di sisi lain, kemunculan lokasi-lokasi alternatif di wilayah desa menunjukkan bahwa kebutuhan masyarakat terhadap ruang publik semakin luas.
Masyarakat tidak selalu menunggu pemerintah membangun taman kota atau ruang publik khusus. Mereka dapat memanfaatkan ruang yang sudah tersedia dan menghidupkannya melalui aktivitas bersama.
Jika dikelola dengan baik, CFD perdesaan berpotensi berkembang lebih jauh dari sekadar tren akhir pekan.
Jalan desa dapat menjadi ruang promosi produk lokal. Petani bisa memperkenalkan hasil pertanian, UMKM menawarkan makanan khas, komunitas olahraga memperoleh ruang berkegiatan, sementara masyarakat mendapatkan alternatif rekreasi yang murah dan dekat dari rumah.
Konsep tersebut sejalan dengan tujuan penyelenggaraan CFD di Banjarnegara yang tidak hanya berkaitan dengan olahraga, tetapi juga ruang publik, aktivitas UMKM, lingkungan, dan interaksi masyarakat.
Namun, semakin ramai sebuah lokasi, semakin besar pula kebutuhan terhadap pengelolaan.
Aspek kebersihan, keselamatan pengunjung, akses warga setempat, parkir, lalu lintas di sekitar kawasan, hingga penataan pedagang perlu diperhatikan. Tanpa pengelolaan yang baik, aktivitas CFD justru berpotensi menimbulkan persoalan baru.
Menjamurnya CFD hingga ke perdesaan menunjukkan masyarakat Banjarnegara mulai menemukan cara baru dalam menikmati ruang di sekitarnya.
Jalan utama bisa menjadi ruang olahraga. Jalan di tengah sawah dapat menjadi tempat rekreasi. Lapak sederhana bisa menjadi pintu masuk produk UMKM kepada konsumen yang lebih luas.
Jika dikelola secara konsisten dan melibatkan masyarakat setempat, fenomena tersebut berpotensi berkembang menjadi wisata berbasis komunitas yang memiliki karakter khas Banjarnegara.
Sebab, daya tariknya bukan hanya pada istilah Car Free Day. Ada cerita yang lebih besar di baliknya.
Ketika jalan desa, sawah, kuliner lokal, olahraga, dan kebersamaan bertemu, ruang sederhana pun bisa berubah menjadi destinasi.
Setiap Minggu pagi, wajah Banjarnegara perlahan menunjukkan bahwa untuk menikmati akhir pekan, warga tidak selalu harus pergi jauh. Kadang, cukup berjalan kaki menyusuri jalan di antara hamparan sawah.