
SERAYUNEWS – Praktik pengobatan mandiri atau self-medication masih menjadi kebiasaan di tengah masyarakat untuk menangani keluhan kesehatan ringan. Meski terlihat sederhana, penggunaan obat tanpa pengetahuan yang cukup berpotensi menimbulkan dampak yang tidak diinginkan. Kondisi inilah yang mendorong mahasiswa Universitas Harapan Bangsa (UHB) menggelar kegiatan edukasi bertema Safe Self-Medication bagi anak-anak Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) di Desa Pageraji, Kecamatan Cilongok.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program kerja individu Kuliah Kerja Nyata (KKN). Melalui program ini, mahasiswa berupaya memberikan pemahaman dasar tentang penggunaan obat yang aman dan bertanggung jawab, khususnya kepada anak-anak. Edukasi sejak usia dini dinilai penting mengingat masih adanya anggapan bahwa obat dapat dikonsumsi secara bebas tanpa pengawasan orang dewasa.
Program edukasi ini dijalankan oleh Rifqina Rachmanita Salsabila, mahasiswa Universitas Harapan Bangsa Program Studi S1 Farmasi. Berbekal latar belakang keilmuan di bidang farmasi, ia menginisiasi kegiatan tersebut sebagai bentuk kontribusi nyata kepada masyarakat selama menjalankan KKN di Desa Pageraji. Pemilihan tema Safe Self-Medication dinilai relevan dengan kebutuhan edukasi kesehatan dasar di lingkungan desa.
Anak-anak TPA dipilih sebagai sasaran utama dalam kegiatan ini karena mereka berada pada fase pembentukan pola pikir dan kebiasaan. Mahasiswa UHB menilai bahwa membangun kesadaran mengenai keamanan penggunaan obat perlu dilakukan lebih awal agar tertanam pemahaman yang benar.
Dalam penyampaian materi, konsep safe self-medication diperkenalkan secara sederhana, termasuk contoh keluhan ringan seperti demam atau sakit kepala yang sering terjadi di lingkungan rumah. Anak-anak juga diberikan penekanan bahwa penggunaan obat tidak boleh dilakukan tanpa izin dan pengawasan orang tua atau orang dewasa.
Selain itu, dijelaskan pula bahwa tidak semua kondisi sakit dapat ditangani secara mandiri. Dalam situasi tertentu, bantuan tenaga kesehatan tetap diperlukan untuk memastikan penanganan yang tepat. Pesan ini menjadi salah satu poin penting agar anak-anak memahami batasan dalam praktik pengobatan mandiri.
Kegiatan edukasi berlangsung dalam suasana hangat dan penuh interaksi. Penyampaian materi dilakukan dengan pendekatan komunikatif agar lebih mudah diterima anak-anak. Cerita sederhana yang dekat dengan keseharian mereka digunakan sebagai pengantar materi, kemudian dilanjutkan dengan simulasi ringan dan sesi kuis.
Pendekatan tersebut membuat suasana belajar terasa menyenangkan. Anak-anak terlihat antusias mengikuti setiap sesi, terutama saat diajak berdiskusi dan menjawab pertanyaan. Interaksi dua arah membantu mereka menyerap informasi dengan cara yang lebih efektif.
Dengan metode ini, pesan kesehatan tidak hanya disampaikan secara teoritis, tetapi juga dipahami melalui contoh situasi nyata. Anak-anak diajak membayangkan apa yang harus dilakukan ketika merasa sakit, sehingga mereka memiliki gambaran langkah yang tepat.
Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terkait penggunaan obat secara aman. Anak-anak mulai menyadari bahwa mengambil atau mengonsumsi obat sendiri bukanlah tindakan yang diperbolehkan.
Mereka memahami pentingnya melapor kepada orang tua atau orang dewasa ketika merasa tidak sehat. Kesadaran ini menjadi langkah awal dalam membentuk perilaku yang lebih aman terkait penggunaan obat di lingkungan keluarga.
Perubahan pola pikir tersebut diharapkan dapat mengurangi risiko kesalahan penggunaan obat yang sering terjadi akibat kurangnya informasi. Edukasi sederhana namun tepat sasaran menjadi fondasi penting dalam membangun budaya kesehatan yang lebih baik.
Pelaksanaan kegiatan Safe Self-Medication mendapat respons positif dari pengelola TPA maupun masyarakat Desa Pageraji. Kehadiran mahasiswa KKN dinilai memberikan kontribusi nyata dalam mendukung edukasi kesehatan anak di tingkat desa.
Selain memberikan manfaat bagi peserta, kegiatan ini juga menjadi sarana pembelajaran langsung bagi mahasiswa dalam menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan. Interaksi dengan masyarakat membantu mengasah kepekaan sosial serta kemampuan komunikasi dalam menyampaikan informasi kesehatan secara efektif.
Melalui kegiatan ini, kesadaran mengenai penggunaan obat yang aman diharapkan dapat tertanam sejak dini. Penanaman pemahaman kepada anak-anak menjadi langkah awal untuk menciptakan lingkungan keluarga yang lebih peduli terhadap keamanan pengobatan mandiri.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat dikembangkan dengan melibatkan peran orang tua agar pemahaman yang diperoleh anak dapat diterapkan secara berkelanjutan di rumah. Edukasi kesehatan yang konsisten dan terarah menjadi bagian penting dalam membangun literasi kesehatan masyarakat, dimulai dari lingkungan desa.***