
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS – Gemericik daun pandan kering terdengar dari sebuah rumah sederhana di Dusun Mawangi, Desa Somawangi, Kecamatan Mandiraja, Kabupaten Banjarnegara. Di tempat itu, Mbah Wariem, nenek 70 tahun, bersama sejumlah perempuan lainnya masih tekun menganyam daun pandan menjadi tikar atau klasa.
Jemari mereka bergerak terampil, menyusun helai demi helai daun hingga membentuk tikar. Aktivitas tersebut bukan sekadar pekerjaan sambilan. Bagi warga Dusun Mawangi, menganyam tikar pandan merupakan tradisi yang diwariskan lintas generasi sekaligus menjadi salah satu sumber penghasilan keluarga.
Kerajinan tersebut diyakini memiliki kaitan dengan sejarah lokal dan cerita dalam Babad Banyumas. Namun, di balik upaya mempertahankan warisan leluhur itu, para perajin menghadapi persoalan yang tak kunjung selesai: harga jual rendah dan ketergantungan terhadap pengepul.
Kondisi geografis Dusun Mawangi yang kerap menghadapi kekeringan serta terbatasnya lapangan pekerjaan membuat sebagian warga menggantungkan penghasilan dari kerajinan tikar pandan tersebut.
Di sisi lain, para perajin belum memiliki posisi tawar yang kuat dalam menentukan harga. Sebagian masih bergantung kepada pengepul lokal, termasuk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Saat tidak memiliki uang untuk membeli kebutuhan pokok atau menghadapi kebutuhan mendesak, pengrajin dapat meminjam terlebih dahulu kepada pengepul. Pembayaran kemudian dilakukan menggunakan hasil produksi berupa tikar.
“Umpama ora duwe, ya nyilih dhisit. Mengko dituker karo klasa, (kalau belum punya uang yang pinjam dulu, nanti dibayarnya dengan tikar),” kata Mbah Wariem, Rabu (19/8/2026).
Pola tersebut memang membantu warga bertahan ketika membutuhkan uang secara cepat. Namun, pada saat yang sama, membuat perajin memiliki pilihan terbatas dalam menentukan kepada siapa produk mereka dijual.
Harga yang diterima perajin dinilai belum sebanding dengan proses panjang pembuatan tikar. Untuk menghasilkan satu tikar berukuran sekitar 125 x 175 sentimeter, bahan pandan harus melalui sejumlah tahapan. Mulai dari mencari atau membeli daun pandan, memotong, membesut atau menghaluskannya, menjemur hingga kering, kemudian menganyamnya secara manual.
Proses pembutaan tikar sendiri membutuhkan waktu hingga 3 hari, mulai dari menyiapkan bahan, hingga penganyaman menjadi sebuah tikar. Proses sebelum menganyam ini yang membutuhkan waktu, sementara jika bahan sudah siap, satu perajin yang terampil mampu menyelesaikan dua tikar dalam sehari.
Ironisnya, harga jual di tingkat pengrajin saat ini hanya sekitar Rp28.000 per lembar. Harga ini memang jauh dari harapan para perajin, namun mereka tetap bertahan karena kebutuhan dan bagian dari menjaga tradisi.
“Siki regane mung Rp28.000 selembar. Niku pun mentok,” kata Siswandi, Ketua RT setempat.
Harga bahan baku pandan juga tidak murah. Satu gulung bahan bisa mencapai Rp80.000 dan biasanya dapat menghasilkan sekitar enam hingga delapan lembar tikar. Dengan biaya bahan dan proses produksi yang panjang, ruang keuntungan bagi perajin menjadi sangat terbatas.
Upaya meningkatkan nilai ekonomi sebenarnya pernah dilakukan. Para perajin didorong mengembangkan pandan menjadi berbagai produk lain, seperti tas, dompet hingga tempat tisu. Produk tersebut berpotensi memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan tikar tradisional. Namun, persoalan baru muncul ketika produk selesai dibuat.
“Perajin kalau disuruh bikin produk lain sebenarnya bisa, tapi menjualnya yang tidak bisa. Pengepul tidak mau menampung selain tikar. Yang mengajari dulu tidak bertanggung jawab untuk akses pasarnya,” ujar Siswandi.
Keterbatasan akses pasar membuat inovasi tersebut tidak berlanjut. Tanpa pemasaran yang jelas, para perajin akhirnya kembali mengandalkan produk yang selama ini sudah memiliki pembeli, yakni tikar pandan.
Kondisi itu menunjukkan persoalan kerajinan Mawangi bukan semata-mata kemampuan produksi. Penguatan pemasaran, kelembagaan kelompok dan akses terhadap pasar yang lebih luas menjadi kebutuhan penting agar produk tidak berhenti di tingkat pengepul.
Kepala Desa Somawangi, Sigro Pranantyo, mengatakan pemerintah desa terus berupaya memfasilitasi keberlangsungan kerajinan tikar pandan dan pudak di wilayahnya. Kerajinan tersebut tidak hanya menjadi warisan leluhur, tetapi juga bagian dari identitas Desa Somawangi sekaligus sumber penghasilan bagi keluarga, terutama ibu rumah tangga di Dusun Mawangi.
“Kami bersyukur, roda ekonomi ini digerakkan oleh para pengepul lokal, warga kita sendiri, yang benar-benar memahami karakter, kerja keras, dan kebutuhan para pengrajin di lapangan. Sinergi yang erat ini menjadi kunci agar tradisi luhur ini tetap hidup, berdaya saing, dan tidak tergerus zaman,” katanya.
Pemdes juga berupaya agar keterampilan menganyam pandan tidak berhenti pada generasi sekarang. Pendampingan dan motivasi kepada generasi muda dinilai penting untuk menjaga keberlanjutan kerajinan tersebut.
Dari sisi pemerintah daerah, kerajinan tikar pudak atau pandan di Mawangi sebenarnya sudah pernah mendapatkan pembinaan.
Kepala Bidang Perindustrian Disperindagkop UKM Banjarnegara, Yusep Handoko, mengatakan pada 2022 pihaknya pernah memfasilitasi para perajin mengikuti kegiatan magang dan pelatihan selama tiga hari di Tasikmalaya.
Menurutnya, pemerintah daerah terbuka untuk kembali memberikan pendampingan apabila para pengrajin mengajukan permohonan.
“Kami sangat menyambut baik jika para perajin kembali mengajukan permohonan pendampingan. Prinsipnya, kami siap kembali membina dan memfasilitasi mereka, khususnya dalam penguatan kapasitas produksi, perluasan jejaring pemasaran, serta pelatihan lanjutan agar para perajin memiliki daya saing dan kemampuan pemasaran digital yang lebih baik,” ujarnya.
Pendampingan berkelanjutan dinilai penting agar kerajinan tikar pandan Mawangi tidak hanya bertahan sebagai produk tradisional, tetapi mampu berkembang menjadi komoditas bernilai ekonomi lebih tinggi.
Bagi para perajin, harapan mereka sederhana: tetap bisa menganyam, tetap mempertahankan warisan leluhur, tetapi dengan penghasilan yang lebih layak.
Sebab, jika akses pasar terbuka dan posisi tawar pengrajin semakin kuat, tikar pandan Mawangi bukan hanya akan menjadi cerita tentang tradisi yang bertahan, melainkan juga kisah tentang bagaimana warisan desa mampu menghidupi generasi yang menjaganya.