
SERAYUNEWS – Setelah sempat mendapat sanksi akibat penerapan sistem open dumping, TPA Winong kini mulai berbenah.
Kawasan pengolahan sampah di Kabupaten Banjarnegara tersebut bertransformasi menjadi pusat pengolahan limbah berbasis ekonomi sirkular.
Jika sebelumnya identik dengan tumpukan sampah dan bau menyengat, TPA Winong kini menghadirkan inovasi pengolahan plastik menjadi bahan bakar minyak (BBM) melalui teknologi pirolisis, serta produksi kompos dari sampah organik.
Langkah ini menjadi jawaban atas persoalan klasik persampahan: menekan volume timbunan sekaligus menciptakan nilai ekonomi.
Kepala UPT TPA Winong, Andar Wahono, menjelaskan bahwa sampah anorganik, khususnya plastik, kini tidak lagi dibiarkan menumpuk di area pembuangan.
“Melalui mesin pirolisis, sampah plastik dipanaskan dalam suhu tinggi tanpa oksigen hingga terurai menjadi bahan bakar cair,” ujarnya.
Menurut Andar, selain plastik yang diolah menjadi energi alternatif, sampah organik tetap diproses menjadi pupuk kompos. Proses tersebut diawali dengan pemilahan sejak awal agar setiap jenis sampah bisa dimanfaatkan sesuai karakteristiknya.
“Untuk organik kami jadikan kompos. Sedangkan anorganik, terutama plastik, dimanfaatkan untuk mesin pirolisis yang menghasilkan BBM,” katanya.
Meski berpotensi besar mengurangi timbunan sampah plastik, operasional mesin pirolisis di TPA Winong belum berjalan optimal. Saat ini, mesin baru dapat dioperasikan tiga hari sekali.
Keterbatasan tenaga operasional masih menjadi kendala utama. Pengelola TPA masih membutuhkan tambahan sumber daya manusia agar mesin dapat dioperasikan setiap hari.
“Kami masih kekurangan personel untuk menjalankan mesin secara rutin,” ujarnya.
Di sisi lain, pengolahan sampah organik menjadi kompos terus diperkuat. Kepala Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup Banjarnegara, Herrina Andri Hastuti, mengatakan kompos produksi TPA Winong diarahkan untuk mendukung sektor pertanian dan kegiatan penghijauan.
“Ini bagian dari strategi besar pengurangan sampah menuju sistem yang lebih berkelanjutan,” ujarnya.
Kompos tersebut diharapkan menjadi alternatif pupuk ramah lingkungan bagi masyarakat sekitar, sekaligus mempertegas komitmen pengelolaan sampah berbasis pemanfaatan ulang.
Dengan kombinasi teknologi konversi energi dan produksi pupuk hijau, TPA Winong diproyeksikan menjadi percontohan pengelolaan sampah modern di Banjarnegara.
Model yang dikembangkan tidak lagi sekadar kumpul–angkut–buang, tetapi bertransformasi menjadi olah–manfaat–jual.
Sampah tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.
Pengelola berharap dukungan tambahan, baik dari sisi SDM maupun fasilitas, dapat segera terealisasi agar operasional mesin pirolisis berjalan maksimal.
Jika berjalan rutin, inovasi ini diyakini mampu menekan krisis sampah plastik sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Transformasi TPA Winong menjadi bukti bahwa inovasi lingkungan dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi daerah, selama dikelola secara konsisten dan berkelanjutan.