
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS-Grebeg Suran Sunan Geseng kembali digelar di Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara. Tradisi tahunan ini menghadirkan kirab budaya, jamasan pusaka, hingga rebutan gunungan sebagai bentuk syukur dan pelestarian warisan leluhur.
Grebeg suran berjalan penuh khidmat namun tetap semarak mewarnai kawasan Makam Sunan Geseng di Desa Gumelem Kulon, Kecamatan Susukan. Sejak pagi, masyarakat dari berbagai usia berdatangan untuk mengikuti Grebeg Suran Sunan Geseng yang telah menjadi tradisi tahunan sekaligus simbol rasa syukur atas limpahan nikmat dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Memasuki penyelenggaraan keenam, Grebeg Suran tidak hanya menjadi agenda budaya, tetapi juga ruang berkumpulnya masyarakat untuk merawat nilai-nilai gotong royong, mempererat persaudaraan, dan mengenalkan warisan leluhur kepada generasi muda.
Rangkaian acara diawali dengan prosesi Pendeman, yakni tradisi menguburkan kepala kambing di sekitar tugu prasasti sebagai simbol doa agar masyarakat diberi keselamatan, keberkahan, dan kemakmuran. Prosesi berlangsung dengan penuh kekhidmatan sebelum peserta kirab bergerak menuju kompleks Makam Sunan Geseng.
Di lokasi makam, warga bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat memanjatkan doa bersama. Suasana hening kemudian berlanjut dalam prosesi Jamasan Pusaka, tradisi membersihkan keris dan kain peninggalan leluhur yang selama ini menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Gumelem Kulon.
Tak hanya sarat makna spiritual, Grebeg Suran juga menghadirkan hiburan rakyat berupa kesenian embeg yang menghibur pengunjung. Puncak kemeriahan terjadi saat tradisi Rembutan Gunungan, ketika masyarakat berebut hasil bumi yang disusun menyerupai gunungan sebagai simbol berkah dan harapan akan rezeki yang melimpah.
Kepala Desa Gumelem Kulon, Arief Machbub, mengatakan Grebeg Suran lahir dari semangat masyarakat untuk menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun. Menurutnya, kegiatan tersebut merupakan ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas kesehatan, keselamatan, umur panjang, dan rezeki yang diberikan kepada masyarakat.
“Tradisi ini sudah memasuki pelaksanaan yang keenam. Kami berharap semangat melestarikan budaya terus tumbuh sehingga warisan leluhur tetap hidup dan dapat dikenal oleh generasi berikutnya,” ujarnya, Selasa (7/7/2026).
Arief menambahkan, terselenggaranya kegiatan tidak lepas dari semangat gotong royong warga serta dukungan berbagai pihak, termasuk Pemerintah Kabupaten Banjarnegara melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan.
Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, Tursiman, menilai Grebeg Suran memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar perayaan budaya. Tradisi tersebut, menurutnya, mencerminkan rasa syukur masyarakat atas berbagai perkembangan yang dirasakan, mulai dari kehidupan sosial, ekonomi, hingga terjaganya kerukunan antarwarga.
Ia menegaskan bahwa pelestarian budaya lokal menjadi salah satu bagian penting dalam menjaga identitas daerah sekaligus membuka peluang pengembangan sektor pariwisata berbasis budaya.
“Pemerintah daerah akan terus mendukung kegiatan seperti ini agar tradisi yang diwariskan para leluhur tetap lestari sekaligus mampu menjadi daya tarik wisata yang memperkuat citra Banjarnegara,” katanya.
Bagi masyarakat Gumelem Kulon, Grebeg Suran bukan sekadar ritual yang digelar setiap datangnya bulan Sura. Tradisi ini menjadi pengingat bahwa di tengah perubahan zaman, nilai kebersamaan, rasa syukur, dan penghormatan terhadap warisan leluhur tetap memiliki tempat yang penting dalam kehidupan. Selama semangat itu terus diwariskan, Grebeg Suran akan tetap menjadi denyut budaya yang hidup di Banjarnegara.