
PURBALINGGA, SERAYUNEWS – Festival Gunung Slamet (FGS) 2026 tidak hanya menghadirkan hiburan dan pertunjukan seni, tetapi juga menjadi ruang pelestarian tradisi masyarakat lereng Gunung Slamet.
Pada hari kedua pelaksanaan, Sabtu (4/7/2026), ribuan pengunjung menyaksikan prosesi pengambilan air Tuk Sikopyah, ritual Merti Bumi, hingga kirab budaya yang sarat makna sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas berkah alam dan hasil panen.
Berbeda dengan agenda hiburan pada malam hari, rangkaian prosesi adat tersebut menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan karena memperlihatkan kekayaan budaya yang telah diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Desa Serang.
Prosesi ini sekaligus menjadi identitas khas Festival Gunung Slamet yang terus dipertahankan hingga penyelenggaraan kesembilan tahun ini.
Prosesi Merti Bumi diawali dengan pengambilan air dari Tuk Sikopyah yang berada di lereng Gunung Slamet.
Air kemudian dikirab menuju lokasi utama festival sebagai simbol kehidupan sebelum digunakan dalam prosesi adat.
Risma, warga Desa Serang yang juga meneliti sejarah Tuk Sikopyah dalam tesisnya, menjelaskan bahwa Merti Bumi merupakan tradisi yang telah berlangsung jauh sebelum Festival Gunung Slamet diselenggarakan.
Menurutnya, ritual tersebut merupakan ungkapan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil panen yang melimpah sekaligus doa agar diberikan keselamatan dan keberhasilan pada musim tanam berikutnya.
“Merti Bumi itu seperti ucapan syukur atas penyertaan Tuhan, atas panen yang melimpah, sekaligus doa memohon keselamatan dan hasil panen yang lebih baik di tahun berikutnya,” jelas Risma.
Ia menuturkan, Festival Gunung Slamet memang baru memasuki penyelenggaraan yang kesembilan.
Namun tradisi doa dan ritual adat tersebut sebenarnya sudah dilakukan masyarakat sejak lama sebagai bagian dari kehidupan warga Desa Serang.
Selain prosesi adat, perhatian pengunjung juga tertuju pada Tuk Sikopyah yang menjadi sumber air utama dalam ritual tersebut.
Menurut Risma, Tuk Sikopyah merupakan satu-satunya sumber mata air dingin yang berada di lereng Gunung Slamet. Mata air itu memiliki sejarah yang masih dipercaya masyarakat hingga sekarang.
Ia menjelaskan nama Tuk Sikopyah berasal dari kisah seorang penyebar agama Islam yang singgah untuk berwudu sebelum melaksanakan salat. Setelah melanjutkan perjalanan, kopiah yang dikenakannya tertinggal di sekitar mata air tersebut sehingga masyarakat kemudian menyebutnya sebagai Tuk Sikopyah.
“Kalau Tuk Sikopyah memang satu. Itu satu-satunya sumber mata air dingin di lereng Gunung Slamet. Nama Sikopyah berasal dari cerita seorang penyebar agama Islam yang meninggalkan kopiahnya setelah berwudu di tempat itu,” ujarnya.
Risma juga mengatakan debit air Tuk Sikopyah dipercaya tidak pernah surut sepanjang tahun. Karena itulah masyarakat mengenalnya pula sebagai bagian dari Kali Urip atau sungai kehidupan, yang menjadi simbol harapan agar sumber kehidupan masyarakat tetap terjaga.
Selain ritual air, Festival Gunung Slamet juga menghadirkan kirab budaya dengan membawa gunungan hasil bumi yang berisi berbagai komoditas pertanian unggulan Desa Serang.
Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif mengatakan gunungan tersebut bukan sekadar hiasan, tetapi memiliki filosofi kebersamaan, rasa syukur, dan keberkahan bagi masyarakat.
“Gunungan sayuran mencerminkan kebersamaan, keberkahan, rasa syukur masyarakat dan Desa Serang. Air juga menjadi simbol sumber kehidupan yang harapannya membawa kebaikan bagi kita semua ke depan,” kata Bupati Fahmi.
Ia menambahkan, hasil bumi yang diarak dalam kirab sekaligus menunjukkan potensi pertanian dataran tinggi yang menjadi kekuatan ekonomi masyarakat Desa Serang.
Momentum festival tersebut diharapkan dapat memperkenalkan produk pertanian lokal kepada wisatawan sekaligus memberikan nilai tambah bagi petani.
Menurut Fahmi, Pemerintah Kabupaten Purbalingga juga berharap Festival Gunung Slamet mampu memberikan dampak ekonomi yang semakin besar.
Tahun lalu, festival ini berhasil menarik sekitar 50 ribu pengunjung selama tiga hari dengan estimasi perputaran ekonomi mencapai Rp3,5 miliar. Pemerintah optimistis capaian tersebut dapat meningkat pada penyelenggaraan tahun ini.
Selain kegiatan adat, Festival Gunung Slamet 2026 masih menghadirkan berbagai agenda lain, termasuk Parade Hujan atau Festival Kabut Lembut pada malam hari yang menjadi puncak acara. Pemerintah Kabupaten Purbalingga juga terus mendorong pengembangan kawasan Desa Wisata Serang (D’Las) sebagai salah satu destinasi unggulan yang diharapkan mampu memperkuat sektor pariwisata daerah melalui perpaduan wisata alam, budaya, dan tradisi masyarakat setempat.