
SERAYUNEWS- Malam 1 Muharram menjadi momen istimewa bagi umat Islam di berbagai daerah.
Selain memperbanyak doa dan ibadah, sebagian masyarakat juga menjalankan tradisi minum susu putih sebagai bentuk harapan akan datangnya tahun baru yang penuh keberkahan.
Tradisi ini semakin dikenal karena diwariskan oleh ulama besar keturunan Rasulullah SAW, Abuya Sayyid Muhammad Alawy Al Maliki.
Amalan tersebut tidak hanya menjadi simbol spiritual, tetapi juga mengandung pesan optimisme dalam menyambut pergantian tahun Hijriah. Melansir laman NU Online, berikut Serayunews sajikan ulasan selengkapnya:
Dalam Islam, bulan Muharram termasuk salah satu bulan yang dimuliakan Allah SWT. Bulan ini menandai awal tahun dalam kalender Hijriah dan menjadi momentum bagi umat Islam untuk memperbaiki diri serta memperbanyak amal saleh.
Selain menjalankan ibadah sunnah, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak doa kepada Allah SWT. Doa merupakan bentuk penghambaan sekaligus sarana memohon kebaikan, keselamatan, kesehatan, serta keberkahan hidup.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tiada sesuatu yang paling mulia dalam pandangan Allah selain berdoa kepada-Nya ketika berada dalam keadaan lapang.” (HR Al-Hakim).
Karena itu, memasuki tahun baru Islam menjadi waktu yang tepat untuk memperbanyak doa dan harapan baik kepada Allah SWT.
Tradisi minum susu putih pada malam 1 Muharram berasal dari amalan yang diajarkan oleh Abuya Sayyid Muhammad Alawy Al Maliki, seorang ulama terkemuka asal Makkah yang dikenal sebagai keturunan Rasulullah SAW.
Menurut beliau, susu putih melambangkan kesucian, kebersihan, dan kebaikan. Warna putih pada susu menjadi simbol harapan agar perjalanan selama satu tahun ke depan dipenuhi keberkahan, kemudahan, serta perlindungan dari Allah SWT.
Tradisi ini kemudian menyebar ke berbagai kalangan umat Islam dan menjadi salah satu amalan yang dilakukan saat pergantian tahun Hijriah.
Susu putih dipilih bukan tanpa alasan. Dalam berbagai tradisi Islam, warna putih sering dikaitkan dengan kesucian hati dan kebersihan jiwa.
Melalui amalan ini, umat Islam diajak untuk memulai tahun baru dengan niat yang bersih, memperbaiki diri dari kesalahan masa lalu, serta menanamkan harapan agar kehidupan di masa mendatang dipenuhi kebaikan.
Tradisi tersebut juga menjadi bentuk tafa’ul, yaitu sikap optimistis dan berharap kebaikan kepada Allah SWT.
Amalan minum susu putih dapat dilakukan setelah waktu Maghrib pada malam 1 Muharram hingga sebelum masuk waktu Subuh.
Pelaksanaannya cukup sederhana:
1. Siapkan segelas susu putih hangat.
2. Duduk dengan tenang dan niatkan sebagai bentuk doa serta harapan baik kepada Allah SWT.
3. Bacalah doa sebelum meminum susu.
4. Minumlah susu dengan penuh rasa syukur.
Tradisi ini dapat dilakukan secara individu maupun bersama keluarga, santri, murid, dan masyarakat sekitar.
Sebelum meminum susu, dianjurkan membaca doa berikut:
اللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ
Allahumma baarik lanaa fiihi wazidnaa minhu
Artinya:
“Ya Allah, berkahilah kami di dalam air susu ini dan tambahkanlah keberkahan kepada kami darinya.”
Doa tersebut berisi permohonan agar Allah SWT melimpahkan keberkahan melalui rezeki yang diberikan serta menjadikan tahun yang baru lebih baik daripada tahun sebelumnya.
Tidak hanya meminum susu putih, Abuya Sayyid Muhammad Alawy Al Maliki juga memiliki kebiasaan membagikan susu kepada para santri dan muridnya.
Melalui tradisi berbagi tersebut, beliau berharap keberkahan dapat dirasakan bersama oleh seluruh umat Islam. Nilai kebersamaan, kepedulian sosial, dan doa bersama menjadi bagian penting dalam menyambut datangnya tahun baru Hijriah.
Tradisi minum susu putih pada malam 1 Muharram bukanlah kewajiban dalam agama, melainkan amalan yang mengandung nilai simbolis dan spiritual.
Esensinya terletak pada doa, rasa syukur, serta harapan agar Allah SWT memberikan kebaikan sepanjang tahun yang akan datang.
Dengan memulai tahun baru Hijriah melalui doa dan optimisme, umat Islam diharapkan semakin dekat kepada Allah SWT serta mampu menjalani kehidupan dengan lebih baik, penuh keberkahan, dan manfaat bagi sesama.