
SERAYUNEWS — Tradisi pembacaan kitab Barzanji di Dusun Bendagede, Desa Binangun, Kecamatan Bantarsari tampil dengan wajah baru.
Warga setempat mengkolaborasikan seni religi tersebut dengan wayang, calung, hadrah hingga musik tradisional dalam pertunjukan bertajuk “Sang Nabi: Musikalisasi Barzanji & Wayang Santri”.
Pementasan ini digerakkan berbasis komunitas warga dengan melibatkan kelompok perempuan, santri, tokoh agama hingga dalang muda di Dusun Bendagede, Kabupaten Cilacap.
Dalam pertunjukan tersebut, kelompok perempuan dari Fatayat Anak Ranting NU Dusun Bendagede berperan sebagai sinden. Sementara para kiai dan ulama pengasuh langgar menjadi pelantun Barzanji.
Para santri dan remaja dilibatkan sebagai pemain calung, hadrah dan penayagan wayang.
Produser Musikalisasi Barzanji & Wayang Santri, Muhammad Kharis mengatakan seluruh elemen seni dalam pertunjukan ini disatukan lewat narasi tentang riwayat Nabi Muhammad SAW yang bersumber dari kitab Barzanji.
“Kolaborasi lintas seni ini diikat oleh benang narasi mengisahkan riwayat Nabi Muhammad SAW. Narasi dikembangkan dalam rawi yang terhimpun di kitab Barzanji,” ujar Kharis, Senin (25/5/2026).
Pementasan tersebut merupakan bagian dari Program Penciptaan Karya Kreatif Inovatif Hasil Kelola Dana Abadi Kebudayaan 2026 dari Kementerian Kebudayaan, Dana Indonesiana dan LPDP.
Menurut Kharis, proses latihan dan workshop sudah berlangsung sejak Februari 2026.
“Saat ini kami tengah menyelesaikan tahap I kegiatan. Latihan-latihan sudah kami mulai sejak Februari kemarin,” ujarnya.
Proses latihan Musikalisasi Barzanji & Wayang Santri juga dikemas dalam bentuk workshop yang melibatkan seniman dan akademisi profesional.
Kelompok perempuan yang menjadi sinden mendapat pelatihan dari Riski Dwi Kemala. Sementara kombinasi calung dan hadrah yang dimainkan para santri dibimbing tokoh penayagan Banyumas, Suchedi dari Sanggar Ngudi Luwesing Salira.
Selain itu, proses kreatif di balik layar juga melibatkan perupa Nizar Zulmi Sapta sebagai pembuat wayang sadat serta Rida Purnama Sari yang merancang aset visual hingga karakter font pertunjukan.
Sutradara pertunjukan, Abdul Aziz Rasjid menjelaskan narasi utama pertunjukan akan mengikuti perjalanan rohani dua tokoh imajiner bernama Amongrasa dan Amongraga.
Kedua tokoh tersebut digambarkan sebagai santri pengelana yang menjalani perjalanan spiritual penuh simbol dan kisah mistis.
“Di antara lantunan Barzanji, santri kelana ini akan mendapat berbagai cerita tentang nabi Muhammad. Narasi ini mengadopsi gaya kisah-kisah perjalanan dalam hikayat Melayu lama. Seorang tokoh melaksanakan perjalanan melingkar yang bersifat rohani,” kata Aziz.
Dalam cerita, kedua tokoh wayang tersebut akan menjelajah negeri nyata hingga dunia antah berantah, bertemu makhluk dongeng, hingga berdialog dengan wali dan peneliti dari Barat.
Pelatih vokal sinden, Riski Dwi Kemala mengaku justru mendapatkan pengalaman baru saat berinteraksi dengan komunitas warga Bendagede.
“Kegiatan ini jadi saling mengisi, karena tumbuhnya saling kesadaran bahwa mereka tengah mengagungkan Nabi Muhammad lewat ekspresi seni. Di dusun ini, saya justru seperti sedang melakoni residensi. Bukan melatih,” ujar Riski yang akrab disapa Iki.
Di Dusun Bendagede, tradisi pembacaan kitab Barzanji memang telah menjadi bagian kehidupan masyarakat sehari-hari. Warga biasa membacakan Barzanji saat syukuran kelahiran anak hingga rutin menjelang Maulid Nabi.
Tradisi tersebut juga rutin digelar komunitas langgar, masjid, pesantren hingga organisasi masyarakat Islam dengan iringan hadrah setiap pekan.