
JAKARTA, SERAYUNEWS — Jagat media sosial Threads dihebohkan oleh unggahan seorang pasien pengguna BPJS Kesehatan. Pasien dengan akun @yurizaltrich tersebut mengeluhkan lambatnya pelayanan rumah sakit tempatnya berobat. Melalui unggahannya, ia menceritakan pengalamannya harus menunggu hingga berjam-jam tanpa kepastian mendapatkan ruang perawatan.
Namun, alih-alih mendapatkan simpati atas situasi kritis tersebut, unggahan tersebut justru memicu gelombang komentar bernada sinis dan merendahkan dari sejumlah oknum tenaga medis di platform tersebut.
Tak lama setelah unggahan tersebut tular, kabar duka menyelimuti sang pasien yang dilaporkan telah meninggal dunia.
Sorotan pada Komentar Pedas Oknum Dokter LPDP dan Lulusan FKUI
Kritik tajam dari publik memuncak ketika warganet menelusuri latar belakang para oknum yang memberikan komentar bernada merendahkan di Threads.
Salah satu komentar yang paling menyita perhatian berasal dari dr. Elda Putri Rahardini melalui akun @erudarahaadini. Oknum dokter yang diketahui merupakan penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) ini mempertanyakan kapasitas berpikir pemilik akun pasien dengan nada merendahkan.
”PP nya kaya orang Have tapi aslinya Haven’t kah? Haven’t some brain cells,” tulisnya dalam kolom komentar.
Sikap serupa ditunjukkan oleh dr. Benny C. Sihombing melalui akun @bennychrstn. Dokter alumni Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) ini melontarkan tanggapan bernada sarkastis terkait keterbatasan ruang perawatan rumah sakit.
”Kalo full, mau dipindahkan kemana? mau di lantai? Gk ada hubungannya sama BPJS atau nggak… Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong,” tumpah dr. Benny dalam unggahannya.
Tanggapan-tanggapan sinis dari kalangan dokter berpendidikan tinggi ini lantas memicu kecaman luas dari masyarakat yang menilai adanya krisis empati mendasar pada sebagian tenaga medis di Indonesia.
Reaksi dan Tanggapan Menkes Terkait Evaluasi Layanan Kesehatan
Menanggapi kontroversi dan potret buram krisis empati tenaga medis di balik sengkarut layanan BPJS Kesehatan ini, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin memberikan pernyataannya.
Menkes menekankan pentingnya komitmen untuk mengupayakan layanan terbaik bagi masyarakat agar angka harapan hidup pasien dapat terus ditingkatkan.
”Kok teman-teman kita itu ada yang meninggal muda. Jadi harusnya memang kita usahakan memberikan layanan terbaik agar mereka bisa usianya lanjut sampai ke 76,” ujar Menkes merespons fenomena tersebut.
Menkes juga mengakui bahwa masih terdapat berbagai kekurangan dalam sistem kesehatan nasional yang perlu dibenahi secara menyeluruh. Evaluasi dan perbaikan tidak hanya menyasar sarana fisik, tetapi juga sumber daya manusianya.
”Kekurangan itu ada, yang harus kita perbaiki. Baik di fasilitas kesehatannya, di alat-alat kesehatannya maupun SDM kesehatannya. Tolong bantu juga teman-teman untuk terus memberikan masukan agar itu kita bisa laksanakan,” pungkas Menkes.
Isu ini menjadi tamparan keras bagi dunia kesehatan Indonesia, memicu desakan publik agar instansi terkait melakukan pembenahan etika profesi serta peningkatan mutu layanan kesehatan secara substantif.