
BEKASI, SERAYUNEWS – Dunia maya baru- baru ini dihebohkan oleh sebuah unggahan viral yang memperlihatkan surat pengunduran diri (resign) seorang pekerja muda. Surat tersebut diduga ditulis oleh seorang Gen Z asal Bekasi bernama Abdul Adit Rohman.
Berbeda dengan surat formal pada umumnya yang dipenuhi kalimat diplomatis, surat resign secarik kertas ini ditulis dengan gaya bahasa yang sangat santai, jujur, dan ceplas-ceplos khas tongkrongan.
Unggahan yang viral di media sosial seperti Instagram ini langsung memicu perdebatan hangat di kalangan warganet. Banyak yang merasa terhibur dengan keberanian sang karyawan, namun tidak sedikit pula yang mempertanyakan etika profesionalitasnya di hadapan manajemen.
Dalam surat yang ditujukan kepada pihak HRD tersebut, Adit langsung menembak pada poin inti tanpa ada ucapan terima kasih yang klise ataupun permohonan maaf yang bertele-tele.
Ia menuliskan keluh kesahnya secara transparan mengenai kondisi lingkungan kerja yang selama ini ia rasakan.
Aksi nekat ini dinilai sebagai fenomena baru dalam dunia kerja modern, di mana generasi muda tidak lagi ragu untuk menyampaikan kritik secara terbuka saat memutuskan untuk hengkang.
Bagi sebagian besar warganet, surat ini dianggap sebagai representasi jujur dari kejenuhan (burnout) yang sering kali dipendam oleh para pekerja demi menjaga reputasi profesional. Isi Surat Resign yang Kritik Keras Manajemen Soal Lemburan
Bila ditelisik lebih dalam, isi surat dari pekerja asal Bekasi ini sebenarnya memuat kritik yang cukup menohok bagi pihak manajemen. Adit secara blak- blakan mengungkapkan alasannya mengundurkan diri, salah satunya karena ia telah mendapatkan pekerjaan baru.
“Alasannya… banyak dah. Saya ngundurin diri salah satunya saya dah dapat kerjaan baru, yang lebih danta. Lemburan diapresiasi kalo disini kan nggak (minimal mah makan ge atuh ini ora dapet) ama gajinya lebih gede dikit dah. Demikian surat pengunduran diri saya, sehat-sehat dah yak pada,” tulis Adit dalam suratnya.
Kritik mengenai tidak adanya uang makan atau apresiasi saat lembur menjadi poin krusial yang paling banyak disorot.
Hal ini membuktikan bahwa masalah kesejahteraan mendasar dan hak finansial sekecil apa pun tetap menjadi faktor penentu loyalitas seorang karyawan.
Salah satu daya tarik utama yang membuat surat pengunduran diri ini menjadi viral adalah penggunaan kata “danta” dan “ora danta”. Bagi masyarakat di luar wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek), istilah ini mungkin terdengar asing. Lalu, apa sebenarnya arti kata danta dalam bahasa gaul?
Dalam percakapan sehari- hari dan bahasa prokem remaja di wilayah Bekasi, kata danta memiliki arti jelas, pasti, beres, atau berfaedah. Kata ini kerap digunakan untuk menggambarkan suatu hal yang memiliki arah dan tujuan yang konkret.
Sebaliknya, kata ini sering dipakai dalam bentuk negatif dengan menambahkan kata “gak” atau “ora” (artinya tidak dalam bahasa Jawa/Betawi) menjadi “gak danta” atau “ora danta”. Arti kata ora danta atau gadanta adalah tidak jelas, tidak berfaedah, atau kacau.
Dalam konteks surat resign Adit, ia merasa perusahaan lamanya “ora danta” karena sistem lemburan yang tidak jelas, sehingga ia memilih pindah ke tempat baru yang dianggapnya lebih “danta”.
Nah itu dia arti kata danta yang sedang viral karena surat pengunduran diri seorang gen-z dari perusaahaan.***