
BANYUMAS, SERAYUNEWS– Pemerintah Kabupaten Banyumas resmi menguji coba Program SOLUSI, sebuah skema insentif pengelolaan sampah plastik berbasis masyarakat yang memungkinkan warga menukarkan sampah plastik dengan sembako, voucher makanan, hingga berbagai kebutuhan rumah tangga.
Program hasil kolaborasi Pemerintah Kabupaten Banyumas dan Konsorsium SOLUSI ini resmi diluncurkan di Aula Balai Desa Tambaknegara, Kecamatan Rawalo, Selasa (21/7/2026).
Peluncuran ditandai dengan peresmian dashboard digital serta penyerahan alat timbang kepada Bank Sampah Mandirancan dan Bank Sampah Jitu, dua bank sampah di kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Serayu yang menjadi lokasi uji coba.
Program SOLUSI merupakan kerja sama Pemerintah Indonesia melalui Bappenas dengan Pemerintah Jerman yang didukung pendanaan dari International Climate Initiative (IKI).
Pelaksanaan program melibatkan konsorsium yang terdiri dari GIZ Indonesia, Landscape Alliance, Yayasan KEHATI, dan SNV Indonesia. Program berlangsung selama periode 2024–2028 dengan wilayah implementasi di Jawa Tengah meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, dan Kebumen.
Melalui skema ini, masyarakat didorong untuk lebih aktif memilah dan mengumpulkan sampah plastik karena setiap sampah yang disetorkan memiliki nilai yang dapat ditukar dengan berbagai kebutuhan sehari-hari.
Program Manager SOLUSI dari SNV, Audrie Siahainenia, mengatakan sampah plastik dipilih sebagai fokus utama karena memiliki dampak besar terhadap lingkungan, terutama pada ekosistem sungai dan laut.
“Jika sampah plastik tidak dikelola dengan baik di daratan, ia akan terbawa aliran sungai dan bermuara ke laut, mengancam ekosistem pesisir dan biota laut,” ujar Audrie di sela-sela kegiatan.
Menurutnya, Desa Tambaknegara dan Desa Mandirancan dipilih sebagai lokasi percontohan berdasarkan keputusan Kelompok Kerja (Pokja) tingkat kabupaten yang disesuaikan dengan arah pembangunan daerah.
“Harapannya, jika model ini berhasil, pemerintah daerah dapat mereplikasinya ke desa-desa lain di Banyumas,” katanya.
Kepala Badan Perencanaan Pembangunan, Riset, dan Inovasi Daerah (Bapperida) Banyumas, Dedy Noerhasan, ST, MSi, menegaskan keberhasilan Program SOLUSI tidak hanya diukur selama masa proyek berlangsung, tetapi juga dari keberlanjutannya setelah program selesai.
“Kami akan terus mengawal dan mendampingi agar pengelolaan sampah di desa tetap berjalan. Program ini harus menjadi warisan yang terus hidup di masyarakat,” kata Dedy.
Ia menilai skema insentif melalui bank sampah mampu meningkatkan partisipasi masyarakat karena memberikan manfaat ekonomi sekaligus memperkuat kepedulian terhadap lingkungan.
“Yang terpenting adalah kesadaran. Nilai ekonomi itu bonus, tetapi dampak positif terhadap ekosistem adalah tujuan utamanya,” kata dia.
Melalui uji coba Program SOLUSI, Pemkab Banyumas berharap mampu membangun sistem pengelolaan sampah yang mandiri, berkelanjutan, dan berbasis partisipasi masyarakat.
Jika implementasi di Desa Tambaknegara dan Mandirancan berjalan sesuai harapan, model ini akan diperluas ke desa-desa lain di Banyumas dan berpotensi menjadi contoh pengelolaan sampah plastik bagi daerah lain di Indonesia.