
SERAYUNEWS — Rentetan kecelakaan lalu lintas di jalur nasional Desa Ciberung (Ajibarang) hingga Desa Cikawung (Pekuncen), Kabupaten Banyumas, memicu keresahan warga.
Dalam sepekan terakhir, sejumlah insiden berujung korban jiwa terjadi di ruas Jalur Nasional Rute 6 yang menghubungkan Pantura Tegal dengan Cilacap.
Sebagai respons, masyarakat memilih melakukan istighosah atau doa bersama, sekaligus aksi nyata memperbaiki titik jalan yang dinilai membahayakan pengendara.
Kepala Desa Ciberung, Sigit Pramono, menyebut kegiatan tersebut merupakan bentuk solidaritas warga atas serangkaian kecelakaan yang terjadi berturut-turut.
“Acara hari ini digelar oleh masyarakat sebagai bentuk perhatian dan kepedulian terhadap kecelakaan beruntun yang terjadi dalam beberapa hari terakhir. Warga berinisiatif mengadakan doa bersama,” kata Sigit, saat dikonfirmasi, Senin (11/5/2026).
Ia menjelaskan, rangkaian kecelakaan bermula sejak malam Jumat di wilayah Cikawung. Setelah itu, insiden kembali terjadi hingga menelan korban dari warga Ciberung. Puncaknya, dalam satu hari terjadi dua kecelakaan di titik yang berdekatan.
“Kecelakaan pagi hari melibatkan dua ibu-ibu. Satu korban mengalami luka ringan, sedangkan satu lainnya mengalami patah tulang. Kemudian siangnya, ada anak sekolah yang meninggal dunia. Lokasinya hanya berjarak sekitar 150 meter dari lokasi kecelakaan sebelumnya,” katanya.
Menurut catatan desa, intensitas kecelakaan meningkat dalam sepekan terakhir. “Kalau tidak salah mulai Minggu lalu. Intinya dalam minggu kemarin itu cukup sering terjadi kecelakaan,” ujarnya.
Sigit menuturkan, secara fisik jalan nasional tersebut sudah dibeton dan tergolong baik. Namun, karakter jalur yang menjadi penghubung wilayah selatan–utara serta tingginya volume kendaraan besar membuat kawasan itu tetap rawan.
“Jalannya sebenarnya bagus. Tapi memang jalur ini padat, menjadi penghubung selatan dan utara. Kendaraan besar, truk, dan bus menuju Jakarta atau Cirebon banyak melintas di sini, terutama sore menjelang magrib,” ujarnya.
Ia juga menyoroti perbedaan tinggi antara badan jalan utama dan bahu jalan yang kerap menjadi faktor risiko bagi pengendara roda dua.
“Biasanya pengendara motor, terutama anak sekolah, menyalip lewat kiri saat ada kendaraan besar. Ketika hendak naik lagi ke badan jalan utama, sering kali kehilangan kendali karena kondisi jalan tidak rata,” jelasnya.
Tak ingin menunggu korban berikutnya, warga RW 3 Desa Ciberung melakukan perbaikan jalan secara mandiri dengan pengecoran manual pada titik yang dianggap membahayakan.
“Masyarakat RW 3 Ciberung swadaya menyemen bagian jalan yang tidak rata itu karena khawatir kembali memakan korban,” kata dia.
Aksi ini menjadi bentuk partisipasi warga dalam meningkatkan keselamatan lalu lintas di wilayah mereka.
Di tengah suasana duka, muncul isu liar di media sosial terkait dugaan hal mistis atau “tumbal” di lokasi kecelakaan. Namun, Sigit meminta masyarakat tidak memperbesar spekulasi tersebut.
“Ada yang cerita seperti itu, ada juga yang bilang ada yang menyebar uang atau bunga di lokasi kejadian. Tapi saya sendiri tidak pernah melihat langsung. Kadang cerita seperti itu berkembang dan dilebih-lebihkan,” katanya.