
SERAYUNEWS — Talkshow literasi keuangan bertajuk “Financial Literation On The Way: Finansial Mandiri Dimulai Hari Ini” di The Gade Creative Lounge Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Purwokerto, Jawa Tengah, Kamis (25/6/2026) sukses digelar.
Acara yang berlangsung mulai pukul 09.00 WIB ini menyasar mahasiswa serta generasi muda sebagai kelompok yang rentan terjerat pinjaman online (pinjol) ilegal dan investasi bodong.
Deputi Bisnis Pegadaian Area Purwokerto, Yuly Arsianty, mengatakan kegiatan ini merupakan bagian dari program “goes to campus” yang menyasar langsung mahasiswa.
Pasalnya, mahasiswa menjadi kelompok yang dinilai paling berisiko terjebak praktik keuangan ilegal.
“Mungkin karena iseng-iseng coba-coba, mereka akhirnya tidak agak mengabaikan dengan sisi legalitas. Mungkin mereka tetap dengan imbal hasilnya. Oh, imbal hasilnya besar,” kata Yuly.
Ia menambahkan, program edukasi ini masuk dalam payung tema Environment, Social, dan Governance (ESG) yang menjadi dasar pelaksanaan rangkaian kegiatan goes to campus tersebut.
Senada dengan itu, Kepala OJK Purwokerto, Dinavia Tri Riandari, menyatakan edukasi keuangan kepada generasi muda perlu ditekankan pada pembentukan kebiasaan berinvestasi sejak dini, bukan sekadar menabung dari sisa pengeluaran.
“Kalau kami kan sesuai tema ya. Ini kan karena generasi muda yang kita mengedukasi kembali bahwa baiknya itu mengajarkan sejak awal itu mengisikan ya. Bukan menyisakan. Kita berinvestasi. Dan juga waspada terkait,” ujar Dinavia.
Dinavia juga mengingatkan risiko yang menyertai kemudahan akses digital yang dinikmati generasi muda saat ini.
“Terus misalnya kita ingetin juga. Karena itu terus uangnya kan habis. Makanya sisikan-sisakan untuk menyisikan investasi ke depan. Salah satunya, ini kan kolaborasinya pegadaian acara ini dengan tabungan mas. Tapi bisa juga sebenarnya investasi yang lain. Terus waspada juga terkait investasi bodong dan lain-lain ya. Waspada jangan asal. Macam-macam scam kan sekarang marak juga. Anak-anak muda sekarang kan jangan sampai klik-klik-klik. Contohnya ya menawarkan pekerjaan atau belanja dana online dan lain-lain ternyata penipuan. Mengingatkan itu aja,” katanya.
Sementara itu, kondisi harga emas yang fluktuatif dan cenderung turun belakangan ini, Yuly Arsianty menjelaskan bahwa tren penurunan harga justru dapat dimanfaatkan sebagai momentum membeli, bukan menjual.
“Kita kan harus berusaha membaca pasar. Kalau misalnya harga turun, kenapa enggak mulai dari sekarang? Karena kan harganya lagi aman ya. Istilahnya kalau orang bilang tuh saatnya kita nyerok,” kata Yuly.
“Maksudnya kita nabung emas, karena harganya lagi turun. Jadi dengan kembali ke pada tadi, kita tuh sebenarnya bukan menyisakan. Tapi memang mengalokasikan dananya untuk investasi atau dana darurat lah,” lanjutnya.
Ia menyebut emas sebagai instrumen yang likuid dan cocok dijadikan dana darurat.
“Dan emas itu sebagai alternatifnya untuk dana darurat. Karena dia dengan sifatnya yang gampang cair ya. Gampang dijual dan gampang dalam sehari itu juga,” ujar Yuly.
“Itu menjadi salah satu pilihan. Karena emas juga kan istilahnya pengelolaannya sendiri ya. Jadi kita bisa langsung mengeksekusi. Kita mau beli atau kita mau jual. Jadi biasanya kita lihat harga ini kalau lagi naik, ya mungkin kalau yang memang mencari profit, ya kita jual. Tapi ketika harga turun, saatnya kita beli,” tambahnya.
Yuly menekankan bahwa strategi investasi emas semestinya tidak ditentukan oleh momen harga naik atau turun, melainkan oleh tujuan keuangan jangka panjang.
“Jadi kembali ke kita, bagaimana kita mengelola keuangan itu sendiri. Kembalikan nanti ke tujuan. Jadi kita tujuannya apa nih? Apakah 3 tahun ke depan kita mau buka usaha, kita butuh berapa sih dananya? Nah itu kita konversikan lah ke dalam emas artinya,” paparnya.
“Jadi mulai natas setiap bulannya kita nabung empat, 3 tahun ke depan emas tersebut kita jual, kita buka usaha. Jadi lebih tetap. Bukan masalah kita beli pas harga tinggi atau pas harga turun,” lanjut Yuly.
Ia juga mengingatkan agar dana yang digunakan untuk investasi emas merupakan dana yang memang dialokasikan untuk tujuan tersebut, bukan dana kebutuhan harian.
“Tapi saat inilah, pas kita punya dana, jadi yang digunakan itu uang dingin loh ya. Jadi bukan uang dapur. Nanti kalau misalnya beli emas pakai uang dapur nggak makan. Jadi sebenarnya pakai uang dingin untuk menyisikan investasi. Apalagi sekarang dimudahkan kan dengan aplikasi Tring,” kata Yuly.
Ia menutup penjelasannya dengan menyebut kemudahan transaksi emas digital saat ini.
“Jadi nggak mesti datang ke outlet, dan cukup dengan klik di aplikasi itu kita bisa jual, kita bisa beli, kita bisa depositasi,” pungkasnya.