
SERAYUNEWS- Kisah perjuangan dan dedikasi mahasiswa pecinta alam atau Mapala Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto kembali menjadi sorotan.
Unit Pandu Lingkungan Mahasiswa Pecinta Alam (UPL MPA) Unsoed terlibat aktif dalam operasi Search and Rescue (SAR) mandiri untuk mencari pendaki yang dilaporkan hilang di Gunung Slamet, atas nama Syafiq Ridhan Ali Razan (18).
Operasi kemanusiaan ini menjadi bukti nyata kontribusi mahasiswa dalam situasi darurat, sekaligus cerminan pengamalan Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek pengabdian kepada masyarakat.
Operasi SAR mandiri tahap pertama berlangsung pada 6–8 Januari 2026. Dalam fase awal ini, UPL MPA Unsoed berkolaborasi dengan Wanadri Bandung, salah satu organisasi pecinta alam senior di Indonesia.
UPL MPA Unsoed mengerahkan lima relawan sebagai Search and Rescue Unit (SRU) yang bertugas menyisir jalur Gunung Malang, salah satu jalur ekstrem di Gunung Slamet. Kelima relawan tersebut adalah:
1. Dimas Wishal Al-Ghifari (FEB) – Elang Kelabu
2. Habib Manarul Huda (Faperta) – Igir Samudra
3. Indra Kurnia Wicaksono (Fakultas Hukum) – Elang Kelabu
4. Ali Sabab Izzul Abi (FPIK) – Elang Kelabu
5. Zebi Femi Ibrahim Aryanto (Faperta) – Igir Samudra
Mereka bertugas melakukan pencarian lapangan di medan berat dengan risiko tinggi, menghadapi cuaca ekstrem dan kontur gunung yang sulit diprediksi.
Memasuki operasi SAR mandiri tahap kedua yang dimulai pada 10 Januari 2026, UPL MPA Unsoed kembali mengirimkan personel tambahan, yaitu:
1. Abdul Kholik Djaelan – Banyu Mandala
2. Agus Ariyanto – Cakra Bayu
Operasi lanjutan ini dilakukan setelah Wanadri memperoleh informasi penting dari rekan pendaki survivor sebagai bahan asesmen lanjutan pencarian.
Pada tahap ini, UPL MPA Unsoed tergabung dalam Tim Gabungan SAR, yang terdiri dari berbagai unsur pecinta alam dan komunitas relawan, antara lain:
1. Wanadri
2. APGI
3. OPA Mayapada Purwokerto
4. UPL MPA Unsoed
5. Wikupala
6. Mapala Kanpas
7. Mapala Batik
8. Komunitas RAPI
Tim Gabungan memanfaatkan sejumlah peralatan dan perlengkapan milik Unsoed, dengan dukungan penuh dari pihak kampus.
Keterlibatan UPL MPA Unsoed dalam operasi SAR ini tidak lepas dari dukungan institusi Universitas Jenderal Soedirman.
Dukungan tersebut menjadi bentuk komitmen kampus dalam mendorong mahasiswa berkontribusi langsung pada persoalan sosial dan kemanusiaan.
Langkah ini menegaskan peran perguruan tinggi tidak hanya sebagai pusat akademik, tetapi juga sebagai agen perubahan di tengah masyarakat.
Setelah melalui proses pencarian panjang selama 17 hari, tim SAR akhirnya menemukan Syafiq Ridhan Ali Razan dalam kondisi meninggal dunia pada Rabu, 14 Januari 2026, pukul 10.49 WIB.
Jenazah ditemukan di lereng selatan Gunung Slamet, tepatnya di antara jalur Gunung Malang dan Baturraden, lokasi yang dikenal memiliki medan terjal dan vegetasi rapat.
Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Unsoed, Prof. Norman Arie Prayogo menyampaikan duka cita mendalam sekaligus apresiasi tinggi kepada mahasiswa yang terlibat dalam misi SAR tersebut.
“Kami menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya Almarhum Syafiq Ridhan Ali Razan. Semoga Almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa dan keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan serta keikhlasan,” ujarnya.
Keterlibatan mahasiswa UPL MPA Unsoed dalam operasi SAR ini merupakan kontribusi nyata dan berdampak bagi masyarakat. “Kami mengapresiasi kegigihan, keberanian, dan ketulusan mereka dalam misi kemanusiaan ini,” jelasnya.
UPL MPA Unsoed juga menyampaikan belasungkawa mendalam atas wafatnya Syafiq Ridhan Ali Razan. Organisasi ini menegaskan bahwa misi kemanusiaan akan selalu menjadi ruh perjuangan mereka dalam setiap langkah pengabdian.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa solidaritas, kepedulian, dan keberanian mahasiswa mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas, bahkan dalam situasi paling sulit sekalipun.