
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Sebanyak 2.722 Aparatur Sipil Negara (ASN) tercatat mengundurkan diri sepanjang semester I 2026. Data Badan Kepegawaian Negara (BKN) tersebut kembali memunculkan pertanyaan mengenai daya tarik profesi sebagai aparatur negara, terutama di tengah perubahan preferensi generasi muda terhadap dunia kerja.
Dari total tersebut, sebanyak 1.197 PNS, 1.146 PPPK paruh waktu, 227 PPPK, dan 152 CPNS tercatat mengundurkan diri.
Fenomena ini juga mengingatkan pada proses seleksi CPNS 2024. Saat itu, sebanyak 1.967 peserta memilih mundur setelah menghadapi persoalan optimalisasi dan penempatan lokasi kerja yang tidak sesuai dengan ekspektasi.
Lantas, apakah profesi PNS masih menjadi pekerjaan idaman anak muda?
Keputusan ASN untuk mengundurkan diri tentu memiliki latar belakang yang beragam. Faktor penghasilan, beban kerja, lokasi penempatan, hingga kondisi keluarga dapat memengaruhi keputusan seseorang meninggalkan status sebagai aparatur negara.
Salah satu persoalan yang kerap menjadi pertimbangan adalah kesesuaian antara penghasilan dengan beban pekerjaan. Bagi sebagian pegawai, penghasilan yang diterima dinilai belum sebanding dengan tuntutan pekerjaan di instansi tempat mereka bertugas.
Selain itu, lokasi penempatan juga menjadi faktor penting. Penugasan yang jauh dari tempat tinggal atau kampung halaman dapat menimbulkan konsekuensi finansial sekaligus psikologis.
Faktor keluarga turut berpengaruh. Kondisi seperti kebutuhan merawat orang tua, persoalan izin keluarga, hingga mendapatkan pekerjaan lain selama masa tunggu penetapan NIP dapat mendorong seseorang mengambil keputusan untuk mengundurkan diri.
Selama puluhan tahun, profesi PNS identik dengan pekerjaan idaman masyarakat Indonesia. Stabilitas penghasilan, jaminan hari tua, serta jenjang karier yang relatif jelas menjadi sejumlah daya tarik utama.
Namun, perubahan pasar kerja mulai menggeser cara generasi muda melihat karier.
Bagi sebagian anak muda dan fresh graduate, pekerjaan tidak lagi sekadar soal status dan keamanan jangka panjang. Mereka mulai mempertimbangkan fleksibilitas, besaran pendapatan, keseimbangan kehidupan dan pekerjaan atau work-life balance, lingkungan kerja, serta peluang mengembangkan minat dan kemampuan.
Artinya, stabilitas masih penting, tetapi bukan satu-satunya ukuran ketika anak muda menentukan pilihan karier.
Pandangan tersebut juga terlihat dari perspektif lulusan baru. Gita, seorang fresh graduate dari salah satu perguruan tinggi swasta di Purwokerto, mengatakan profesi PNS masih memiliki daya tarik, meski tidak lagi menjadi satu-satunya pilihan.
“Menurutku, PNS masih menjadi cita-cita yang diidamkan sampai sekarang, tapi mungkin enggak sekuat dulu. Sebagai fresh graduate, aku rasa PNS masih menarik karena menawarkan stabilitas, jenjang karier yang jelas, dan kayanya aman untuk jangka panjang. Apalagi sekarang ini dunia kerja cukup kompetitif ya”, ujar Gita.
Menurut Gita, perubahan orientasi karier juga mulai terlihat di kalangan anak muda. Mereka tidak hanya mengejar pekerjaan yang aman, tetapi mulai mencari pekerjaan yang sesuai dengan minat, memberikan kebebasan, menawarkan penghasilan kompetitif, dan memiliki lingkungan kerja yang mendukung.
“Tapi menurtku sekarang anak muda juga banyak yang enggak lagi cari pekerjaan yang aman saja, tapi juga mempertimbangkan passion, kebebasan, penghasilan dan lingkungan kerja, Jadi menurutku, sukses nggak harus jadi PNS. Pilihan seperti bekerja di perusahaan swasta, startup, menjadi entrepreneur, freelancer, atau bahkan bikin bisnis sendiri juga banyak diminati,” tambahnya.
Perubahan tersebut menunjukkan bahwa generasi muda mulai melihat karier secara lebih fleksibel. Status PNS tetap memiliki keunggulan, terutama dari sisi stabilitas dan kepastian jenjang karier.
Namun, pilihan karier kini semakin beragam. Perusahaan swasta, startup, kewirausahaan, pekerjaan lepas atau freelance, hingga membangun bisnis sendiri menjadi alternatif yang semakin dipertimbangkan.
Bagi generasi yang tumbuh dalam ekosistem digital, kesempatan untuk mengembangkan kemampuan dan menghasilkan pendapatan tidak lagi terbatas pada pekerjaan konvensional.
Gita sendiri tidak menutup peluang untuk mengikuti jalur karier sebagai PNS. Namun, ia tidak ingin menjadikan profesi tersebut sebagai satu-satunya tujuan.
“Aku enggak menutup kemungkinan untuk menjadi PNS, tapi aku juga enggak mau menjadikannya satu-satunya tujuan si. Aku lebih ingin cari pekerjaan yang bisa membuatku berkembang dan punya dampak.”
Pernyataan tersebut menggambarkan perubahan orientasi sebagian anak muda dalam memandang pekerjaan. Mereka tetap menghargai stabilitas, tetapi juga ingin mendapatkan ruang untuk bertumbuh, mengembangkan potensi, dan merasakan dampak dari pekerjaan yang dilakukan.
Fenomena 2.722 ASN yang mengundurkan diri sepanjang semester I-2026 tidak serta-merta menunjukkan bahwa profesi PNS kehilangan daya tarik. Data tersebut lebih tepat dibaca sebagai sinyal bahwa keputusan seseorang untuk bertahan dalam pekerjaan dipengaruhi banyak faktor.
Bagi generasi muda, pekerjaan ideal tidak selalu identik dengan status sebagai PNS. Stabilitas tetap menjadi nilai penting, tetapi kini harus berhadapan dengan tuntutan fleksibilitas, penghasilan, lingkungan kerja, kesempatan berkembang, dan makna pekerjaan.
Dengan demikian, PNS mungkin masih menjadi pekerjaan idaman, tetapi bukan lagi satu-satunya jalan menuju definisi sukses bagi anak muda.