
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) atau pekerja migran di luar negeri kerap menjadi pilihan realistis keluarga untuk meningkatkan kondisi ekonomi.
Remitansi yang dikirim ke kampung halaman dapat membantu memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk pendidikan dan kehidupan sehari-hari.
Namun, di balik manfaat ekonomi tersebut, keluarga juga menghadapi konsekuensi lain. Ketidakhadiran orang tua secara fisik, terutama ibu, dapat memengaruhi tumbuh kembang anak, mulai dari kondisi psikologis, kehidupan sosial, hingga prestasi akademik.

Dosen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Dr. Tri Wuryaningsih, M.Si., mengatakan anak yang ditinggal orang tua bekerja di luar negeri menghadapi persoalan yang kompleks.
Menurutnya, kebutuhan finansial keluarga mungkin menjadi lebih baik, tetapi anak kehilangan kehadiran, pengawasan, serta kehangatan emosional orang tua dalam kehidupan sehari-hari.
“Kebutuhan finansial mungkin tercukupi, tetapi anak-anak ini kehilangan pengawasan dan kehangatan emosional langsung dari orang tuanya. Ini yang kerap memicu persoalan psikologis,” ujar Triwur, sapaan akrabnya.
Kondisi tersebut dapat membuat anak menghadapi rasa kehilangan yang tidak selalu terlihat secara langsung. Sapaan, pelukan, perhatian, hingga interaksi sederhana bersama orang tua menjadi bagian dari keseharian yang tidak dapat sepenuhnya digantikan oleh kiriman uang.
Triwur mengatakan dampak yang paling dominan dapat muncul pada aspek emosional. Anak yang tumbuh tanpa kehadiran langsung orang tua berpotensi mengalami kesepian, kecemasan, hingga rasa tidak aman.
“Secara psikologis, anak rentan merasa tidak aman atau insecure, rasa rendah diri dan anggapan bahwa mereka tidak dipedulikan juga bisa muncul,” ujarnya.
Persoalan tersebut semakin kompleks ketika anak memasuki masa remaja. Pada fase tersebut, anak mulai mencari identitas dan membutuhkan pendampingan untuk memahami perubahan dalam dirinya maupun lingkungan sosial.
Ketika orang tua bekerja di luar negeri, pengasuhan anak umumnya beralih kepada kakek, nenek, atau kerabat dekat. Pergantian pengasuh tersebut dapat menghadirkan dinamika baru dalam kehidupan anak.
Triwur menilai perbedaan generasi antara anak dan pengasuh pengganti dapat menjadi salah satu tantangan. Pola pengasuhan yang diterapkan belum tentu selalu sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak saat ini.
“Kakek dan nenek sering kali kesulitan mengimbangi energi dan dinamika tumbuh kembang anak zaman sekarang. Akibatnya, kontrol sosial melonggar dan anak rentan terpengaruh lingkungan yang kurang baik,” tambah Tri Wur.
Longgarnya pengawasan dapat membuat anak lebih mudah mencari ruang di luar rumah. Jika tidak mendapat pendampingan yang memadai, kondisi tersebut berpotensi memengaruhi perilaku dan pergaulan anak.
Tanpa pendampingan orang tua yang kuat, anak dapat lebih rentan terlibat dalam berbagai perilaku berisiko, seperti bolos sekolah, merokok pada usia dini, hingga kebiasaan keluar rumah pada malam hari.
“Apalagi anak-anak yang menginjak usia remaja, dimana rasa penasarannya tinggal, mereka ingin mencari jati diri. Dampak yang parahnya, mereka bisa menjadi korban dan pelaku kekerasan seksual,” kata dia.
Meski demikian, kondisi tersebut bukan berarti seluruh anak pekerja migran pasti mengalami persoalan psikologis maupun perilaku. Faktor lingkungan, pola pengasuhan, kualitas komunikasi dengan orang tua, serta kemampuan anak beradaptasi turut menentukan dampaknya.
Triwur juga melihat adanya sisi positif dari kondisi tersebut. Sebagian anak justru dapat berkembang menjadi pribadi yang lebih mandiri dan tangguh karena terbiasa mengurus kebutuhan dirinya sejak usia lebih dini.
Namun, kemandirian tersebut tetap membutuhkan dukungan dari lingkungan sekitar. Anak tetap membutuhkan figur yang dapat memberikan rasa aman, perhatian, arahan, sekaligus ruang untuk menyampaikan persoalan yang mereka hadapi.
Karena itu, keberadaan pengasuh pengganti tidak hanya berfungsi memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mereka juga memiliki peran penting dalam memastikan kondisi emosional dan perkembangan anak tetap terpantau.
Triwur menekankan pentingnya komunikasi intensif antara orang tua yang bekerja di luar negeri dengan anak di kampung halaman.
Jarak geografis, menurutnya, tidak seharusnya membuat hubungan emosional antara orang tua dan anak ikut terputus. Teknologi komunikasi dapat dimanfaatkan untuk menjaga kedekatan sekaligus memantau perkembangan anak.
“Kalau bisa, selalu diusahakan tetap membangun komunikasi yang hangat dan intens. Sehingga tetap tetap memantau tumbuh kembang anak dan menjaga perasaan anak,” katanya.
Komunikasi tersebut tidak sebatas menanyakan aktivitas atau prestasi anak. Orang tua juga perlu membangun percakapan yang membuat anak merasa didengar, diperhatikan, dan tetap memiliki tempat untuk bercerita.
Selain komunikasi dengan orang tua, Triwur menilai pengawasan terhadap anak pekerja migran membutuhkan keterlibatan keluarga besar, sekolah, dan lingkungan sosial.
Kolaborasi tersebut penting agar perubahan perilaku anak dapat dikenali lebih dini. Pengasuh, guru, serta lingkungan sekitar dapat menjadi pihak yang membantu memastikan anak tetap berada dalam lingkungan yang aman dan mendukung.
“Peran keluarga brsar juga perlu, termasuk lingkungan sekitar, yang mendukung anak untuk tetep dalam koridornya artinya tidak menyimpang ke hal negatif,” kata dia.
Pada akhirnya, keputusan bekerja di luar negeri memang dapat memberikan manfaat ekonomi bagi keluarga. Namun, kesejahteraan anak tidak hanya ditentukan oleh terpenuhinya kebutuhan material.
Kehadiran emosional, komunikasi, pengawasan, serta dukungan lingkungan tetap menjadi bagian penting dalam tumbuh kembang anak.
Karena itu, ketika orang tua harus bekerja jauh dari rumah, membangun sistem pengasuhan yang kuat menjadi kunci agar peningkatan ekonomi keluarga tidak harus dibayar dengan hilangnya perhatian terhadap kebutuhan psikologis anak.