
PURBALINGGA, SERAYUNEWS-Dampak El Nino dirasakan warga Desa Karangjengkol Kecamatan Kutasari Kabupaten Purbalingga. Memasuki musim kemarau, sumur warga kering kerontang. Akibatnya mereka mengalami krisis air bersih.
Kepala Desa Karangjengkol Sutirah mengatakan, kekeringan tahun ini telah berlangsung sekitar dua bulan dan melanda Dusun I, II, dan III. Kondisi tersebut membuat sumur warga hampir tidak lagi memiliki cadangan air.“Sumur-sumur sudah kering, bisa diambil satu atau dua ember saja,” ungkap Sutirah.
Menurutnya, Desa Karangjengkol juga belum memiliki akses Pamsimas maupun sumber air yang memadai. Karena itu, warga berharap dropping air bersih dapat dilakukan hingga tiga kali dalam sepekan.
Bupati Purbalingga Fahmi Muhammad Hanif saat mengunjungi Desa Karangjengkol, Rabu (12/8/2026) mendorong solusi jangka panjang untuk mengatasi kekeringan yang setiap tahun melanda Desa Karangjengkol, Kecamatan Kutasari. Salah satunya melalui pembangunan sumur bor yang diusulkan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Bersaman dengan kunjungan tersebut dilakukan dropping air bersih dari BPBD Kabupaten Purbalingga kepada warga Dusun III.“Ke depan juga akan kita berikan solusi penyaluran air bersih secara berkala,” kata Bupati.
Menurut Bupati Fahmi, kebutuhan air bersih di Karangjengkol perlu ditangani tidak hanya melalui dropping air saat musim kemarau, tetapi juga dengan menyediakan sumber air yang lebih permanen. Pemkab Purbalingga bersama BPBD telah mengajukan bantuan pembangunan sumur bor kepada BNPB.
“Kita bersama BPBD juga sudah mengajukan ke BNPB untuk sumur bor karena setiap kemarau Desa Karangjengkol selalu kekeringan seperti ini. Kami sangat berharap jadi prioritas BNPB untuk mendapat bantuan sumur tersebut,” ujarnya.
Dalam kunjungan tersebut, Bupati tidak hanya berdialog dengan warga. Fahmi juga ikut membantu menuangkan air bersih dari truk tangki berkapasitas 5.000 liter ke ember dan jeriken yang telah disiapkan masyarakat.