
SERAYUNEWS — Bukan sekadar pajangan. Ribuan payung kertas yang memenuhi dinding aula Puhua School Purwokerto ini menyimpan pesan besar: tentang keberagaman, pendidikan, dan masa depan Indonesia.
Sebanyak 3.024 payung berkaligrafi Mandarin resmi mengantarkan sekolah tiga bahasa ini mencetak rekor di Museum Rekor-Dunia Indonesia, Sabtu (25/4/2026).
Rekor tersebut masuk dalam kategori “Payung Shufa Terbanyak” sebuah karya instalasi seni edukatif yang tak hanya besar secara jumlah, tapi juga kuat secara makna.
Perwakilan MURI, Ari Andriani, menyebut karya ini memenuhi seluruh unsur penting dalam pencatatan rekor.
“Ini bukan hanya superlatif dari sisi jumlah, tapi juga unik karena merupakan karya nyata pendidikan multikultural yang melibatkan partisipasi kolektif,” ujarnya.
Jika dilihat sekilas, instalasi ini tampak seperti dekorasi artistik biasa. Namun di baliknya, setiap payung berdiameter 20 cm itu membawa pesan.
Mulai dari tulisan “You Jiao Wulei” (Pendidikan Tanpa Perbedaan), “20 Tahun Puhua”, hingga “I Love Indonesia”.
Payung dipilih bukan tanpa alasan. Ia menjadi simbol naungan dan perlindungan, representasi sekolah sebagai ruang aman bagi semua siswa, tanpa memandang latar belakang.
Dan di sinilah letak kekuatannya: seni dijadikan medium untuk menyampaikan nilai toleransi.
Dibuat 8 Bulan, Dikerjakan Satu Komunitas
Yang membuat instalasi ini semakin spesial, prosesnya tidak instan.
Selama 8 bulan, seluruh ekosistem sekolah terlibat: siswa, guru, orang tua, alumni, hingga manajemen.
Dimulai dari konsep sejak Agustus 2025, dilanjutkan penulisan kaligrafi oleh guru native pada Maret 2026, hingga pemasangan instalasi di April.
Hasilnya? Sebuah karya kolosal yang disebut sebagai cerminan “Mini Indonesia”.
Direktur Puhua School, Chen Tao, menegaskan pencapaian ini bukan sekadar prestasi simbolik.
“Ini adalah deklarasi bahwa keberagaman adalah kekuatan untuk memajukan pendidikan Indonesia,” tegasnya.
Hal senada juga disampaikan Yudil Chatim, yang menyebut konsep tiga bahasa di Puhua sebagai model strategis bagi diplomasi budaya Indonesia.
“Saya melihat langsung bagaimana sistem ini bisa menjadi kekuatan global, bukan hanya lokal,” katanya.
Lebih dari sekadar perayaan ulang tahun ke-20, instalasi ini menjadi pernyataan sikap.
Bahwa di tengah tantangan bonus demografi dan persaingan global, pendidikan tidak cukup hanya pintar, tetapi juga harus inklusif dan adaptif.
Melalui integrasi Bahasa Indonesia, Mandarin, dan Inggris, Puhua School mencoba menjawab kebutuhan zaman tanpa kehilangan identitas nasional.
Dan dari ribuan payung itu, satu pesan terasa paling jelas:
Keberagaman bukan untuk diperdebatkan, tetapi untuk dirayakan.