5 Catatan Menarik Debut Indonesia Melawan Ekuador Menurut FIFA

Potret Garuda Muda menyanyikan lagu Indonesia Raya saat pertandingan melawan Ekuador, Jumat (10/11/2023) malam di Stadion GBT Surabaya. FIFA menyoroti lima hal yang perlu di pelajari dari laga debut sang tuan rumah Piala Dunia U-17 2023. (Foto: fifa.com)

SERAYUNEWS – Debut Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia U17 2023, tidak begitu mengecewakan. Bertanding pada, Jumat (10/1/11) lalu di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya, hasil 1-1 dengan Ekuador menghiasi akhir laga.

Tuan rumah, tak tampil gugup di pertandingan pertama mereka. Pertandingan pembukaan itu, bertepatan dengan Hari Pahlawan yang sedang di peringati bangsa ini.

Kali ini FIFA melalui laman resminya, melihat ada 5 catatan menarik dari laga Indonesia vs Ekuador di Grup A Piala Dunia FIFA U-17 Indonesia 2023.

Serba Pertama untuk Indonesia

FIFA mengakui keikutsertaan Indonesia pertama kali, pada Piala Dunia 1938 ketika bernama Hindia Belanda. Ini menjadikan Indonesia, negara Asia pertama yang mengikuti Piala Dunia.

Penyerang Persis Solo, Arkhan Kaka Purwanto pun menjadi pencetak gol pertama bagi Indonesia di ajang Piala Dunia. Hal yang tak bisa di lakukan pemain Hindia Belanda, pada 85 tahun silam.

Riski Afrisal dan Ikram Al Giffari Mencuri Perhatian

Kecepatan, determinasi, olah bola mumpuni dari Afrisal, menjadi sosok penting yang memberikan umpan kepada Arkhan Kaka. Aksi keduanya ini, jadi momen bersejarah bagi Indonesia.

Selain Afrisal, kiper Ikram Al Giffari juga unjuk kebolehan dengan kepiawaiannya menghalau bola terutama di babak kedua.

Indonesia Kesulitan Mengembangkan Permainan

Meski di tekan Michael Bermudez dkk sejak menit pertama, pertahanan Indonesia yang di kapteni Iqbal Gwijangge, terbukti cukup tenang mengantisipasi serangan Ekuador.

Sempat unggul terlebih dahulu, tetapi di samakan melalui Allen Obando. Usai Ekuador menyamakan kedudukan, praktis Garuda Muda kesulitan mengembangkan permainan.

Skema Long Ball Tidak Efektif

Bertinggi 187 sentimeter, Arkhan Kaka menjadi Menara Gading yang di harapkan mampu menggetarkan jala lawan Indonesia, di Piala Dunia U-17 FIFA lewat sundulannya.

Sayangnya, suplai bola kepada penyerang Persis Solo ini masih jauh dari harapan. Skema long ball, belum berhasil diterapkan Bima Sakti. Sehingga, membuat Indonesia gagal menambahkan keunggulan.

Faktor Fisik Menjadi Masalah

Faktor fisik pemain, selalu menghantui tiap kali tim nasional Indonesia menjalani laga internasional di level apa pun.

Mali menggasak Argentina
Argentina Antiklimaks, Digebuk Mali

Dengan tensi pertandingan melawan tim asal Amerika Selatan, di tambah tekanan di event sebesar Piala Dunia, Garuda Muda mengalami sejumlah masalah fisik di lapangan.***