
SERAYUNEWS- Bulan Ramadan bukan hanya momentum menahan lapar dan dahaga, tetapi juga waktu emas untuk memanjatkan doa paling mustajab. Salah satu puncaknya adalah malam Lailatul Qadar yang disebut lebih baik dari seribu bulan.
Banyak umat Islam bertanya, siapa sebenarnya yang beruntung mendapatkan malam Lailatul Qadar? Apakah semua orang otomatis meraih keutamaannya, atau ada syarat tertentu menurut ulama?
Para ulama tafsir dan ahli hadis menjelaskan bahwa Lailatul Qadar bukan sekadar malam istimewa, tetapi momentum spiritual yang hanya diraih oleh hamba yang bersungguh-sungguh. Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya:
Melansir artikel di berjudul Ramadan Hadirkan Momentum Doa Mustajab, Senjata Dahsyat Umat yang Sering Dilupakan, Ramadan merupakan bulan di mana pintu rahmat dan ampunan dibuka selebar-lebarnya.
Doa orang yang berpuasa termasuk doa yang tidak tertolak. Apalagi jika dipanjatkan pada malam Lailatul Qadar, malam yang disebut dalam Al-Qur’an lebih baik dari seribu bulan.
Dalam Surah Al-Qadr dijelaskan bahwa malam tersebut dipenuhi keberkahan dan turunnya para malaikat hingga terbit fajar. Momentum inilah yang diyakini sebagai waktu paling mustajab untuk memohon ampunan, rezeki, hingga perubahan hidup.
adalah malam kemuliaan yang terjadi pada sepuluh malam terakhir Ramadan, terutama di malam-malam ganjil.
Para ulama menjelaskan bahwa waktu pastinya dirahasiakan agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah sepanjang sepuluh malam terakhir, bukan hanya fokus pada satu malam saja.
Rasulullah SAW sendiri meningkatkan ibadahnya secara luar biasa di penghujung Ramadan, membangunkan keluarga, dan menghidupkan malam dengan salat serta doa.
Dalil Ayat Al-Qur’an tentang Lailatul Qadar
1. QS. Al-Qadr ayat 1–5
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Artinya:
“Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.”
2. QS. Ad-Dukhan ayat 3
إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ
Artinya:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi.”
Hadis riwayat menyebutkan doa yang diajarkan Rasulullah kepada Aisyah RA ketika bertanya tentang doa terbaik di malam Lailatul Qadar:
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni”
(Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai maaf, maka maafkanlah aku).
Doa ini dinilai para ulama sebagai doa paling mustajab karena mencakup permohonan ampunan yang menjadi inti keselamatan dunia dan akhirat.
Ulama menjelaskan bahwa tidak semua orang otomatis mendapatkan keutamaan Lailatul Qadar. Ada syarat-syarat spiritual yang harus dipenuhi.
Berikut syarat menurut ulama agar termasuk golongan yang beruntung:
1. Beriman dengan penuh keyakinan kepada Allah SWT
2. Menghidupkan malam dengan salat dan ibadah (qiyamul lail)
3. Ikhlas dalam beramal tanpa riya
4. Memperbanyak doa dan istighfar
5. Menjauhi maksiat lahir dan batin
6. Mengharap pahala semata-mata dari Allah
7. Bersungguh-sungguh pada sepuluh malam terakhir
Syarat ini merujuk pada penjelasan para ulama yang menafsirkan hadis tentang keutamaan qiyam Lailatul Qadar dengan iman dan ihtisab (mengharap pahala).
Dalam Al-Qur’an digambarkan sebagai malam yang penuh ketenangan dan keberkahan. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Qadr ayat 4–5:
تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ
سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Artinya:
“Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Sejahteralah (malam itu) sampai terbit fajar.”
Kata “Salāmun hiya” (Sejahteralah malam itu) menjadi dalil bahwa malam Lailatul Qadar dipenuhi ketenangan, kedamaian, dan jauh dari gangguan. Sementara frasa “Hattā matla‘il fajr” (hingga terbit fajar) menunjukkan keberkahan malam itu berlangsung sampai pagi, yang oleh sebagian ulama dipahami selaras dengan riwayat tentang matahari terbit dalam keadaan lembut dan tidak menyilaukan.
Sebagian riwayat menyebutkan tanda malam Lailatul Qadar adalah suasana yang tenang, tidak panas dan tidak dingin berlebihan, serta matahari terbit keesokan harinya tampak lembut tanpa sinar menyilaukan.
Namun, para ulama mengingatkan agar umat tidak terlalu fokus mencari tanda fisik semata, melainkan memperbanyak ibadah sebagai bentuk kesiapan hati.
Agar tidak terlewat, berikut langkah yang bisa dilakukan:
1. Membuat jadwal ibadah khusus sepuluh malam terakhir
2. Mengurangi aktivitas duniawi yang tidak penting
3. Memperbanyak membaca Al-Qur’an
4. I’tikaf di masjid jika memungkinkan
5. Memperbanyak sedekah dan amal kebaikan
Kunci meraih Lailatul Qadar adalah kesungguhan dan konsistensi ibadah, bukan sekadar menunggu tanda-tanda tertentu.
Malam Lailatul Qadar disebut lebih baik dari seribu bulan atau setara lebih dari 83 tahun ibadah. Artinya, satu malam penuh ibadah dan doa memiliki nilai luar biasa di sisi Allah SWT.
Momentum ini menjadi kesempatan langka yang belum tentu terulang di tahun berikutnya. Karena itu, para ulama menganjurkan agar umat tidak menyia-nyiakan sepuluh malam terakhir Ramadan.
Malam Lailatul Qadar adalah hadiah istimewa bagi hamba yang bersungguh-sungguh. Doa yang dipanjatkan dengan iman dan keikhlasan berpeluang besar dikabulkan.
Dengan memenuhi syarat-syarat yang dijelaskan ulama, setiap Muslim memiliki kesempatan menjadi golongan yang beruntung dan meraih malam penuh kemuliaan tersebut.