
BANJARNEGARA, SERAYUNEWS-Persibara Banjarnegara memastikan absen di ajang sepak bola Liga 4 musim 2026-2027. Cerita ini menambah realitas kembang kempisnya sepak bola di Banyumas Raya.
Alasan utama Persibara Banjarnegara tidak mengikuti Liga 4 musim depan adalah karena alasan pendanaan. Kompetisi sekelas Liga 4 alias kasta terendah tetap membutuhkan biaya yang cukup besar. Biaya itu mulai dari pembentukan tim, administrasi, transportasi, akomodasi, hingga kebutuhan pertandingan selama satu musim kompetisi.
Selain itu, minimnya dukungan sponsor membuat Askab PSSI Banjarnegara memutuskan mengalihkan sumber daya organisasi untuk memperkuat program pembinaan usia muda yang dinilai lebih strategis bagi perkembangan sepak bola daerah.
Dalam tiga musim terakhir kasta terbawah kompetisi di Indonesia, tim dari Banyumas Raya memang kembang kempis. Misalnya saja, saat kompetisi kasta terbawah masih bernama Liga 3 di musim 2023-2024. Saat itu, Persibara Banjarnegara, Persibas Banyumas, dan Persibangga Purbalingga ikut serta. Sementara kala itu PSCS ada di Liga 2 alias kasta kedua.
Saat itu Persibangga bisa sampai final tapi kalah dari Persip Kota Pekalongan. Sementara Persibas dan Persibara hanya sampai fase grup.
Uniknya, sekalipun Persibangga berstatus sebagai runner up Liga 3 Jateng musim 2023-2024 di musim selanjutnya mereka malah absen. Saat itu, Liga 3 berubah nama menjadi Liga 4. Persibangga yang statusnya adalah runner up area Jawa Tengah di musim sebelumnya, memutuskan untuk absen.
Bukan hanya Persibangga, Persibas dan Persibara juga absen di Liga 4 Jateng musim 2024-2025. Satu-satunya wakil Banyumas Raya di ajang kali itu adalah Wijayakusuma FC Cilacap. Sementara PSCS Cilacap saat itu ada di Liga 3.
Lalu, di Liga 4 Jateng musim 2025-2026, Persibas, Persibangga, Persibara, Wijayakusuma FC berpartisipasi. Bahkan, Persibangga mampu menjadi juara Liga 4 Jateng dan bahkan mampu promosi ke Liga 3. Di musim itu PSCS yang akhirnya terdampar di Liga 4 Jateng memutuskan tidak mengikuti kompetisi.
Musim depan, Persibangga akan main di Liga 3. Sementara sejauh ini Persibara dipastikan tidak akan berpartisipasi di Liga 4 Jateng musim depan. Dari fenomena itu terlihat bagaimana tidak ada tim yang kontinu mengikuti kompetisi, setidaknya dalam empat musim terakhiir.
Memang Liga 4 Jateng hanya memakan waktu tidak sampai dua bulan. Namun, dana yang dibutuhkan gila-gilaan. Dana itu untuk menggaji pemain dan semua awak tim. Belum lagi dana untuk away dan jika menginap di hotel atau penginapan. Belum lagi pendanaan ketika menjadi tuan rumah.
Salah satu tim di Jawa Tengah yang musim lalu hanya bermain 4 kali dan langsung tersingkir, membutuhkan dana Rp750 juta. Bayangkan saja, hanya main 4 kali dengan dua kandang dan dua tandang, plus persiapan tim sebelum kompetisi, membutuhkan dana sampai Rp750 juta.
Maka jika tidak ada sponsor yang memadai, sangat sulit bagi sebuah tim untuk bisa berkompetisi bahkan untuk kasta terendah seperti Liga 4.