
SERAYUNEWS– Kepulangan jemaah haji ke Tanah Air menjadi momen penuh syukur setelah menyelesaikan rukun Islam kelima di Tanah Suci. Namun para ulama mengingatkan bahwa kemabruran haji tidak berhenti ketika seseorang meninggalkan Makkah dan Madinah.
Ibadah haji yang diterima Allah SWT seharusnya melahirkan perubahan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Semangat ibadah, kedisiplinan, kejujuran, kepedulian sosial, serta kedekatan kepada Allah SWT menjadi tanda-tanda yang terus dijaga setelah kembali ke rumah.
Karena itu, menjaga kemabruran haji menjadi tugas sepanjang hayat. Berbagai amalan sunnah dan amal saleh dianjurkan untuk dilakukan agar nilai-nilai yang diperoleh selama berhaji tetap hidup dan memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun masyarakat sekitar. Melansir berbagai sumber, berikut Serayunews sajikan ulasannya:
Haji merupakan ibadah yang mengandung pengorbanan fisik, mental, waktu, dan biaya yang tidak sedikit. Karena itu, para ulama menjelaskan bahwa tanda haji mabrur bukan hanya terlihat saat berada di Tanah Suci, melainkan setelah kembali ke lingkungan asal.
Orang yang memperoleh haji mabrur akan menunjukkan perubahan akhlak yang lebih baik. Ia menjadi lebih rajin beribadah, lebih santun dalam berbicara, menjaga amanah, serta menjauhi perbuatan maksiat yang sebelumnya mungkin masih dilakukan.
Kemabruran juga tercermin dalam hubungan sosial. Seorang haji diharapkan lebih peduli kepada tetangga, keluarga, fakir miskin, serta aktif menebarkan manfaat bagi masyarakat.
Salah satu sunnah yang diajarkan Rasulullah SAW adalah membaca doa ketika kembali dari perjalanan jauh.
لَا إِلَهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ، آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ سَاجِدُوْنَ لِرَبِّنَا حَامِدُوْنَ
Artinya: “Tiada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan pujian. Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Kami kembali dengan bertaubat, beribadah, bersujud dan memuji Tuhan kami.”
Doa ini menjadi ungkapan syukur sekaligus pengingat bahwa perjalanan spiritual belum berakhir.
Setelah haji, seorang muslim dianjurkan memperbanyak istighfar. Taubat menjadi salah satu cara menjaga kebersihan hati dan menjauhkan diri dari dosa yang dapat mengurangi kemabruran.
Dalil Al-Qur’an
وَاسْتَغْفِرُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ
Artinya: “Mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 199)
Ayat ini juga termasuk ayat yang berkaitan dengan rangkaian ibadah haji dan mengajarkan pentingnya istighfar setelah menyelesaikan ibadah besar.
Salah satu tanda diterimanya ibadah adalah meningkatnya kualitas ibadah setelahnya. Karena itu, menjaga salat wajib tepat waktu menjadi amalan utama setelah pulang haji.
Selain salat wajib, umat Islam juga dianjurkan memperbanyak salat sunnah seperti salat dhuha, tahajud, dan witir.
Dalil Al-Qur’an
اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ
Artinya: “Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-Ankabut: 45)
Salat yang terjaga akan membantu mempertahankan kemabruran dan menjaga seseorang dari perbuatan yang tidak diridhai Allah.
Ketika berada di Tanah Suci, jemaah haji terbiasa mengisi waktu dengan zikir. Kebiasaan baik ini sebaiknya tetap dilanjutkan setelah pulang ke rumah.
Dalil Al-Qur’an
فَاذْكُرُوْنِيْٓ اَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْا لِيْ وَلَا تَكْفُرُوْنِ
Artinya: “Ingatlah kepada-Ku, niscaya Aku ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 152)
Zikir dapat dilakukan kapan saja, baik setelah salat, saat bekerja, maupun ketika beraktivitas sehari-hari.
Haji mengajarkan nilai kepedulian sosial dan persaudaraan umat Islam. Karena itu, salah satu amalan yang dianjurkan setelah haji adalah memperbanyak sedekah.
Orang yang memperoleh haji mabrur biasanya lebih ringan membantu orang lain, baik dalam bentuk materi, tenaga, maupun ilmu yang bermanfaat.
Dalil Al-Qur’an
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ
Artinya: “Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh bulir.” (QS. Al-Baqarah: 261)
Tujuan terbesar haji bukan hanya menyelesaikan rangkaian ritual, tetapi membentuk pribadi yang lebih baik. Karena itu, menjaga lisan, menahan amarah, jujur, dan menjauhi maksiat menjadi bagian penting dalam mempertahankan kemabruran.
Perubahan perilaku inilah yang sering dijadikan ukuran oleh masyarakat terhadap seorang yang baru pulang dari Tanah Suci.
Berikut beberapa tanda haji mabrur yang sering disebut para ulama:
1. Semakin rajin menjalankan salat.
2. Gemar membaca Al-Qur’an.
3. Menjaga kejujuran dalam pekerjaan.
4. Mudah membantu sesama.
5. Menjauhi perbuatan maksiat.
6. Lebih sabar menghadapi masalah.
7. Menjaga silaturahmi dengan keluarga.
8. Meningkatkan sedekah dan amal sosial.
9. Semakin cinta kepada masjid.
10. Konsisten dalam ibadah setelah haji.
Kemabruran dapat berkurang apabila seseorang kembali melakukan kebiasaan buruk yang dahulu ditinggalkan.
Beberapa hal yang sebaiknya dihindari antara lain:
1. Ghibah atau menggunjing.
2. Berbohong.
3. Mengabaikan salat.
4. Bermusuhan dengan keluarga.
5. Bersikap sombong karena gelar haji.
6. Menyakiti orang lain.
7. Lalai menjalankan kewajiban agama.
Haji yang mabrur bukan hanya menjadi kenangan indah selama berada di Tanah Suci, tetapi harus menjadi titik awal perubahan menuju kehidupan yang lebih baik. Kemabruran sejati tercermin dari akhlak, ibadah, dan manfaat yang terus dirasakan oleh orang-orang di sekitar.
Dengan menjaga salat, memperbanyak zikir, istighfar, sedekah, serta mempertahankan akhlak mulia, seorang muslim dapat merawat nilai-nilai haji sepanjang hidupnya. Itulah sebabnya para ulama menyebut bahwa pulang haji sesungguhnya adalah awal perjalanan baru menuju ketakwaan yang lebih sempurna.