
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Kuliah di Purwokerto, Kabupaten Banyumas ternyata bukan cuma soal mengejar gelar. Bagi mahasiswa rantau, memahami budaya lokal kadang lebih sulit daripada mengerjakan skripsi.
Ada satu hal yang belakangan bikin sebuah perguruan tinggi negeri di Banyumas sering dibicarakan.
Bukan karena mahasiswa demonya paling kreatif atau kantinnya paling murah, melainkan karena alumninya ramai-ramai mengisi kursi penting di pemerintahan hingga lembaga negara.
Barangkali, fenomena itu membuat Banyumas mulai dilirik calon mahasiswa dari berbagai daerah.
Dari Jakarta, Sumatera, sampai Indonesia timur, banyak yang rela merantau ke Purwokerto, Kabupaten Banyumas demi mengejar pendidikan.
Kalau dulu orang tua sering bilang, “kejarlah ilmu sampai ke negeri China,” mungkin sekarang candaan itu bisa dimodifikasi sedikit: “kejarlah ilmu sampai ke tanah Banyumas.”
Masalahnya, mengejar ilmu ternyata bukan tantangan terbesar. Yang lebih susah justru memahami Dialek Panginyongan.
Setelah lulus dan kembali ke daerah asal masing-masing, Keke (28) asal Sumatera dan Faiz (28) asal Jakarta masih mengingat jelas momen-momen ketika mereka pertama kali tinggal di Purwokerto.
Bagi Keke, pengalaman culture shock pertama bahkan datang sebelum masuk kelas, yakni soal makanan. Ia mengaku sempat kebingungan ketika pertama kali melihat mendoan.
“Yang pertama makanan tentu saja. Kayak mendoan kok tempenya belum mateng udah dijual,” kata Keke pada Jumat, (24/072026).
Kalau belum pernah melihat mendoan, komentar itu memang terdengar masuk akal.
Tempe yang hanya dicelup adonan tipis lalu digoreng sebentar memang terlihat seperti belum selesai dimasak. Padahal justru di situlah letak kenikmatannya. Bagi orang Banyumas, mendoan yang terlalu matang justru kehilangan identitas.
Teksturnya harus lembek, masih lentur, dan paling nikmat disantap saat masih panas dengan cabai rawit.
Bagi pendatang, butuh waktu untuk menerima bahwa makanan yang terlihat “setengah matang” ternyata memang sengaja dibuat seperti itu.
Culture shock berikutnya justru datang dari cara membeli makanan. Keke mengaku heran melihat antrean di pedagang kaki lima Purwokerto.
Menurutnya, pembeli biasanya menunggu sampai penjual bertanya sebelum menyebutkan pesanannya.
“Kalau di sana (Purwokerto) rapi. Dia nggak akan bilang pesanannya kalau belum ditanya sama penjual,” jelasnya.
Kalau dipikir-pikir, memang ada semacam budaya antre yang cukup santai di Purwokerto.
Tidak semua tempat tentu seperti itu, tetapi cukup banyak penjual yang melayani pembeli satu per satu tanpa harus saling bersahutan.
Bagi orang yang terbiasa dengan ritme kota besar atau daerah yang lebih ekspresif, suasana itu terasa terlalu tenang.
Keke juga mengaku cukup terkejut dengan karakter masyarakat Banyumas di jalan raya. Suatu hari ia hampir mengalami tabrakan dengan pengendara lain. Yang terjadi setelahnya ternyata jauh dari ekspektasinya.
“Pernah aku waktu itu hampir mau tabrakan, terus kita saling pandang, terus cuma senyum dan nganggukin kepala,” ujarnya.
Tentu pengalaman setiap orang bisa berbeda. Namun kesan bahwa masyarakat Banyumas cenderung lebih kalem memang cukup sering muncul dari cerita para perantau.
Bukan berarti tidak pernah marah. Hanya saja, banyak persoalan kecil yang lebih sering selesai dengan senyum dibanding adu mulut.
Meski ayahnya juga menggunakan Dialek Panginyongan, Keke ternyata tetap mengalami kebingungan bahasa. Masalahnya justru muncul karena ia mencampur berbagai dialek Jawa.
Suatu ketika, saat masih semester awal, ia mengajak teman-temannya bepergian. “Eh, nek motoran aja seru-seru,” ujarnya.
Yang terjadi justru semua temannya terdiam. Baru beberapa detik kemudian mereka tertawa. Rupanya, yang dimaksud Keke bukan “seru” dalam arti menyenangkan.
Ia sebenarnya ingin mengatakan “kencang-kencang”. Di kepalanya, kata “seru” berarti “banter”.
Sementara bagi teman-temannya, tentu maknanya berbeda.Belum selesai sampai situ. Ia juga pernah berkata, “klambine digawe disit.”
Teman-temannya kembali kebingungan. Dalam bahasa Jawa Timur, “digawe” memang bisa berarti dipakai.
Sementara dalam Dialek Panginyongan, “gawe” lebih dekat dengan makna membuat. Kalimat yang ingin ia sampaikan sebenarnya adalah, “Klambine dinggo disit.”
Sekilas terdengar sepele. Tetapi bagi mahasiswa rantau, salah memilih satu kata saja bisa langsung mengundang satu kelas tertawa.
Kalau Keke dibuat bingung oleh bahasa campuran, lain lagi cerita Faiz. Menurutnya, makanan di Banyumas tidak terlalu menjadi masalah.
“Bahasa jelas, tapi so far untuk makanan aman-aman aja ya. Kalau masih di Pulau Jawa kayaknya masuk-masuk aja,” kata Faiz pada Jumat, (24/072026).
Yang justru terasa berbeda adalah cara berkomunikasi. Ada satu hal yang sampai sekarang masih membekas. Saat bertanya alamat.
“Paling telek sih kalau nanya jalan ke orang,” katanya.
Penyebabnya sederhana. Orang Banyumas ternyata gemar memberi petunjuk menggunakan arah mata angin.
“Nunjukinnya pakai arah mata angin. Lama tuh gua buat mahamin itu,” pungkas Faiz.
Memang penunjuk terkait jalan atau tempat yang dipakai warga Banyumas adalah arah mata angin seperti lor (utara), kidul (selatan), wetan (timur), kulon (barat). Beda dengan warga Jakarta yang memberi petunjuk jalan dengan ke kanan atau ke kiri.
Penunjuk memakai arah mata angin itu mungkin terdengar biasa bagi warga Banyumas. Namun, bagi Faiz yang besar di Jakarta, kosakata seperti lor (utara), kidul (selatan), wetan (timur), dan kulon (barat) rasanya seperti sedang mengikuti kuis berhadiah: tahu jawabannya kalau hafal kosakata Jawa.
Akhirnya, sebelum benar-benar hafal, ia lebih sering mengandalkan Google Maps daripada mencoba menerjemahkan petunjuk dari warga.