
CILACAP, SERAYUNEWS – Ikan sidat selama ini dikenal sebagai salah satu komoditas perikanan dengan nilai ekonomi tinggi. Di Desa Sidamukti, Kecamatan Patimuan, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, potensi tersebut mulai diolah warga menjadi sumber penghasilan baru.
Bukan sekadar menjual sidat dalam kondisi segar, warga yang tergabung dalam kelompok pembudidaya ikan (Pokdakan) juga mengolahnya menjadi sejumlah produk bernilai tambah, mulai dari abon hingga sambal sidat.
Sidat yang dibesarkan warga berasal dari kawasan perairan Sungai Citanduy yang berada di wilayah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah. Bibit sidat kemudian dibesarkan di kolam pembesaran hingga mencapai ukuran yang memiliki nilai jual yakni satu kilogram berisi 4 ekor.
Ketua Pokdakan Pur 123 Indah Jaya, Misbah, mengatakan pengembangan sidat berawal dari keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Sidamukti yang sebagian besar bekerja sebagai buruh tani.
“Saya itu adalah orang yang tidak bisa. Karena warga saya itu warga masyarakat desa, khususnya Desa Sidamukti itu orangnya itu adalah petani buruh. Kehidupannya sengsara, sehingga kami akan berusaha,” tutur Misbah, Sabtu (22/8/2026).
Menurut Misbah, sidat memiliki siklus hidup yang unik. Ikan tersebut berasal dari laut dan kemudian bergerak menuju perairan sungai untuk tumbuh.
Potensi itu terlihat di kawasan Sungai Citanduy yang mengalir di wilayah perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Warga tidak melakukan pemijahan sidat secara mandiri. Bibit yang diperoleh kemudian dibesarkan melalui kolam pembesaran.
Misbah mengaku proses membesarkan sidat bukan perkara mudah. Terlebih ketika ikan masih dalam ukuran sangat kecil.
Namun, ketekunan warga mulai membuahkan hasil. Dengan dukungan fasilitas kolam, bibit yang semula sekitar 82 kilogram berhasil dikembangkan hingga mencapai 283 kilogram.
Hasil pembesaran sidat kemudian dapat dijual dalam bentuk ikan segar. Harga jualnya mencapai sekitar Rp165 ribu per kilogram. Bahkan produk sidat ini sangat diminati sejumlah negara salah satunya Jepang.
Namun, warga mulai menyadari bahwa menjual ikan segar bukan satu-satunya cara meningkatkan nilai ekonomi komoditas tersebut.
Sidat yang tidak terserap pasar segar kemudian diolah menjadi berbagai produk makanan.
“Jadi kalau sidat adalah satu, itu jadi abon sidat. Kedua, ada abon kayabaki. Yang ketiga, kepala sidat menjadi kerupuk sidat. Yang berikutnya menjadi sambal sidat,” kata Misbah.
Pengolahan tersebut memberikan peluang baru bagi warga. Ikan tidak hanya memiliki nilai saat masih berada di kolam, tetapi juga dapat menghasilkan nilai tambah setelah dipanen.
Bagi kelompok, langkah tersebut menjadi bagian dari upaya agar manfaat ekonomi sidat dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.
Pengembangan budidaya dan olahan sidat di Sidamukti turut mendapat dukungan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Lomanis.
Community Development Officer (CDO) di PT Pertamina Patra Niaga Fuel Terminal Lomanis, Ita Puspitasari mengatakan program tersebut dikembangkan karena melihat potensi alam sekaligus persoalan sosial masyarakat setempat.
“Dari program ini sendiri karena memang dulu di sini di Desa Sidamukti adalah termasuk desa miskin di Cilacap. Jadi hampir 34 persen waktu itu Desa Sidamukti warganya pengangguran dan juga terjerat dalam kemiskinan,” kata Ita.
Menurut dia, keberadaan Sungai Citanduy menjadi salah satu alasan sidat dipilih sebagai komoditas pemberdayaan masyarakat.
“Karena memang di sini dilalui Sungai Citanduy. Sungai Citanduy ini habitat di mana ikan sidat bertelur,” ujarnya.
Pada 2024, Pertamina memberikan fasilitas kolam pembesaran sekaligus pelatihan kepada masyarakat. Pendampingan dilakukan dengan menggandeng Koperasi Mina Sidat yang memiliki pengalaman dalam budidaya sidat.
“Sebelumnya itu masyarakat di sini sama sekali tidak tahu cara budidaya ikan sidat. Jadi dari Pertamina kita kasih fasilitas kolam, lalu kita kasih juga pelatihan,” jelas Ita.
Sidat memiliki masa pembesaran yang cukup panjang. Dalam kondisi tertentu, ikan baru bisa dipanen setelah sekitar sembilan bulan.
Berbeda dengan lele yang dapat dipanen sekitar tiga bulan, sidat membutuhkan ketelatenan lebih tinggi.
“Sembilan bulan sekali panennya. Enggak kayak lele, ya. Kalau lele kan 3 bulan sekali. Kalau sidat ini istimewa, 9 bulan sekali,” kata Ita.
Namun, lamanya proses pembesaran sebanding dengan nilai jualnya. Harga sidat yang dihasilkan kelompok mencapai Rp165 ribu per kilogram.
Dalam panen perdana, kelompok menghasilkan sekitar 250 kilogram. Hasil tersebut kemudian langsung dibeli oleh koperasi untuk dipasarkan.
“Karena kita kerja sama dengan koperasi, jadi hasilnya itu langsung diambil koperasi, langsung dibeli koperasi,” ujarnya.
Pertamina kemudian mendorong pengembangan program tidak berhenti pada budidaya. Pada 2025, warga mulai mengembangkan pengolahan hasil sidat.

Sidat kemudian diolah menjadi abon, sambal, hingga kerupuk. “Nah, tahun 2025 kami juga mengembangkan selain budidaya ikan sidat, kita pengolahannya juga. Pengolahannya itu ikan sidat kita jadikan abon, lalu kita jadikan sambal, dan juga kerupuk,” tutur Ita.
Produk olahan tersebut dinilai mampu memberikan nilai tambah dibandingkan sekadar menjual sidat dalam kondisi segar.
Untuk memperkuat kegiatan pengolahan, Pertamina juga merencanakan pembangunan rumah produksi. Selama ini pengolahan masih dilakukan di rumah-rumah warga.
“Nah, karena permintaan sangat banyak dan juga karena memang peminatnya banyak banget, gitu, jadi kita akhirnya membuatkan rumah produksi,” katanya.
Program tersebut juga dikembangkan dengan konsep ekonomi sirkular. Limbah organik dari proses pengolahan tidak langsung dibuang.
Sisa organik dimanfaatkan sebagai pakan maggot. Selanjutnya, maggot digunakan sebagai pakan lele.
“Jadi kalau pengolahan itu kan ada sampahnya organik, ya. Nah, sampah organik dari hasil pengolahan tadi kita gunakan untuk pakan maggot. Nanti pakan maggotnya sendiri kita gunakan untuk pakan lele. Jadi kayak circular economy, seperti itu,” jelas Ita.
Dengan pola tersebut, satu komoditas tidak hanya menghasilkan satu produk. Sidat dapat dijual sebagai ikan segar, diolah menjadi makanan, sementara sisa organiknya dimanfaatkan kembali untuk mendukung budidaya lain.
Bagi warga Sidamukti, pola tersebut membuka peluang ekonomi yang lebih panjang.
Dari bibit sidat yang diambil dari kawasan Sungai Citanduy, ikan kemudian dibesarkan di kolam, dipanen, dijual sebagai ikan segar, hingga diolah menjadi abon dan sambal.
Rantai usaha itulah yang kini diharapkan menjadi jalan baru bagi warga untuk meningkatkan pendapatan sekaligus mengembangkan potensi lokal Desa Sidamukti.
2. Angota kelompok menunjukkan hasil olahan sidat dan lele diolah menjadi abon dan sambal. (Ulul Azmi).