
SERAYUNEWS- Keterbatasan ekonomi tidak pernah menjadi alasan bagi Rifki Romadhan untuk berhenti bermimpi.
Mahasiswa Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) itu berhasil membuktikan bahwa kerja keras mampu mengalahkan segala keterbatasan.
Berasal dari keluarga sederhana dengan ayah yang bekerja sebagai tukang kayu dan ibu rumah tangga di Desa Dagan Kecamatan Bobotsari, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, Rifki sukses menorehkan prestasi akademik luar biasa.
Pada Wisuda ke-161 Unsoed yang berlangsung di Graha Widyatama Prof. Rubijanto Misman, Rabu (17/6/2026), ia dinobatkan sebagai salah satu wisudawan terbaik setelah lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna 4,00.
Pencapaian tersebut menjadi bukti nyata bahwa latar belakang ekonomi bukanlah penghalang untuk meraih kesuksesan di dunia pendidikan. Rifki lulus dengan kategori cepat hanya tujuh semester.
Sejak kecil, Rifki sudah memahami perjuangan orang tuanya dalam memenuhi kebutuhan keluarga. Kesadaran itu justru menjadi bahan bakar yang mendorongnya untuk terus berkembang dan memanfaatkan setiap kesempatan yang ada.
Menurut Rifki, kondisi ekonomi keluarga memiliki pengaruh besar dalam perjalanan pendidikannya. Namun, situasi tersebut tidak membuatnya menyerah.
“Saya menyadari sejak awal bahwa orang tua harus bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Karena berasal dari keluarga sederhana, saya belajar menghargai setiap kesempatan dan berusaha memaksimalkan peluang yang ada untuk terus berkembang,” ujarnya.
Saat hendak melanjutkan pendidikan tinggi, Rifki sempat mencoba mendaftar program KIP Kuliah. Meski tidak lolos seleksi, ia tidak larut dalam kekecewaan. Sebaliknya, ia mencari berbagai alternatif beasiswa lain demi tetap bisa menempuh pendidikan di perguruan tinggi.
Ketertarikan Rifki terhadap dunia ekonomi tumbuh sejak masih duduk di bangku SMK. Ia gemar membaca berbagai isu ekonomi, terutama yang berkaitan dengan peran bank sentral dalam menjaga stabilitas ekonomi dan mendorong pembangunan nasional.
Semakin banyak mempelajari ekonomi, semakin besar pula rasa ingin tahunya terhadap berbagai kebijakan yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat.
“Semakin saya belajar, semakin tertarik memahami bagaimana kebijakan ekonomi memengaruhi kehidupan masyarakat secara luas. Karena itu saya memilih Program Studi Ekonomi Pembangunan agar bisa mempelajari isu-isu tersebut lebih mendalam,” katanya.
Di balik IPK sempurna yang diraihnya, Rifki mengakui bahwa tantangan terbesar selama kuliah adalah mengatur waktu. Selain fokus pada akademik, ia juga aktif mengikuti berbagai kompetisi nasional maupun internasional.
Meski memiliki banyak aktivitas, Rifki tetap menempatkan proses belajar sebagai prioritas utama. Ia selalu berusaha fokus saat mengikuti perkuliahan dan memahami materi yang disampaikan dosen sejak awal.
Strategi tersebut membuatnya lebih mudah menguasai materi ketika harus belajar kembali menjelang ujian atau menyelesaikan berbagai tugas akademik.
Bagi Rifki, keberhasilannya tidak lepas dari peran kedua orang tuanya yang selalu memberikan dukungan tanpa henti.
Ia mengaku banyak belajar tentang kerja keras dari sang ayah yang sehari-hari bekerja sebagai tukang kayu. Sementara itu, ibunya selalu hadir memberikan doa dan semangat ketika menghadapi berbagai tantangan.
“Ayah mengajarkan arti kerja keras dan tanggung jawab melalui tindakan nyata. Ibu selalu memberikan dukungan moral dan doa yang tidak pernah putus. Saat saya menghadapi kesulitan, ibu selalu menjadi orang pertama yang meyakinkan bahwa usaha sungguh-sungguh akan membuahkan hasil,” ungkapnya.
Salah satu momen paling membanggakan dalam perjalanan akademiknya adalah ketika berhasil menyelesaikan studi melalui jalur tugas akhir non-skripsi berbasis prestasi internasional.
Menariknya, Rifki menjadi salah satu mahasiswa yang menempuh jalur tersebut sekaligus satu-satunya di angkatannya yang berhasil menyelesaikan studi melalui mekanisme itu.
Saat mengetahui dirinya lulus dengan IPK sempurna 4,00, Rifki mengaku sangat bersyukur. “Bagi saya, angka 4,00 bukan sekadar hasil akademik, tetapi representasi dari proses panjang yang telah saya jalani selama kuliah,” ujarnya.
Berbagai pencapaian yang diraih Rifki tidak datang secara instan. Ia mengorbankan banyak waktu, tenaga, dan pikiran untuk terus berkembang.
Meski mengakui bahwa keberuntungan memiliki peran tertentu, Rifki percaya kerja keras tetap menjadi faktor utama dalam meraih kesuksesan.
Ia memegang teguh pepatah Jawa yang berbunyi, “Wong bejo kalah karo wong sing gelem nyambut gawe”, yang berarti orang yang beruntung akan kalah dengan orang yang mau bekerja keras.
Kisah hidup Rifki menjadi inspirasi bagi banyak mahasiswa bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah penghalang untuk berprestasi. Dengan tekad kuat, disiplin, dan kerja keras, setiap orang memiliki kesempatan untuk mengubah masa depan.
Prestasi yang berhasil diraih Rifki selama menempuh pendidikan di Unsoed terbilang sangat mengesankan, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Dengan total 14 prestasi nasional dan internasional serta IPK sempurna 4,00, Rifki Romadhan menjadi contoh nyata bahwa mimpi besar dapat diraih siapa saja, termasuk mereka yang berasal dari keluarga sederhana.
Kisahnya menjadi bukti bahwa kerja keras, ketekunan, dan dukungan keluarga mampu membuka jalan menuju kesuksesan.