
PURWOKERTO, SERAYUNEWS – Di tengah menjamurnya kedai kopi kekinian di Purwokerto, Distrik Kobar hadir dengan cerita yang berbeda. Kedai kopi ini bukan sekadar tempat menikmati secangkir kopi, tetapi juga menjadi ruang berkumpul, bertukar informasi, hingga memperluas relasi bagi anak muda dan komunitas di Purwokerto.
Yang membuat Distrik Kobar semakin menarik, kedai ini berdiri di rumah peninggalan keluarga. Deka Azka Rizky, pemilik Distrik Kobar, memilih merawat rumah milik sang kakek dengan mengubahnya menjadi ruang usaha sekaligus ruang sosial.
Bagi Deka, rumah tersebut menyimpan kenangan keluarga yang membuatnya merasa perlu mempertahankan dan merawatnya bersama para cucu lainnya.
“Rumah sendiri, Alhamdulillah. Kebetulan ini rumah kakek, peninggalan kakek, terus dirawat sama cucu-cucunya,” ujar Deka saat ditemui pada Senin (17/8/2026).
Keputusan Deka mengembangkan rumah keluarga menjadi kedai kopi tidak terlepas dari pengalamannya saat masih kuliah. Ia pernah bekerja sebagai barista sekaligus merasakan pengalaman bekerja di usaha milik orang lain.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi bekal bagi Deka untuk membangun usaha sendiri.
“Waktu saya kuliah, saya punya pengalaman jadi barista dan kerja di tempat orang juga. Berbekal pengalaman itu, saya buat usaha sendiri,” katanya.
Namun, Distrik Kobar tidak langsung hadir sebagai kedai kopi seperti sekarang. Sebelum berganti konsep, tempat tersebut sempat digunakan sebagai warung makan Indomie atau warmindo.
Warmindo itu dikelola oleh adik Deka bersama seorang temannya selama sekitar satu tahun. Setelah itu, Deka mengubah konsepnya menjadi kedai kopi yang hingga kini telah berjalan sekitar dua tahun.
Sejak awal, Deka tidak ingin Distrik Kobar hanya dikenal sebagai tempat membeli kopi. Ia ingin kedai tersebut menjadi ruang yang memungkinkan pengunjung bertemu orang baru, bertukar informasi, dan membangun relasi secara natural.
“Aku bikin Distrik ini sebenarnya fokusnya bukan cuma soal kopi, tapi gimana caranya Distrik ini bisa jadi tempat pertukaran informasi, kenal teman baru, terus kita juga bisa saling tolong,” imbuhnya.
Konsep tersebut kemudian berkembang melalui interaksi para pengunjung. Orang-orang yang datang dengan latar belakang berbeda dapat bertemu dan membangun koneksi dalam suasana yang lebih santai.
Bagi Deka, relasi yang terbentuk secara organik justru menjadi salah satu kekuatan Distrik Kobar.
Untuk memperkuat fungsi Distrik Kobar sebagai ruang sosial, pengelola juga rutin menggelar berbagai acara komunitas. Salah satunya berupa pertunjukan musik.
Hampir setiap bulan, Distrik Kobar menghadirkan gigs maupun penampilan DJ. Agenda tersebut menjadi daya tarik tersendiri bagi pengunjung sekaligus membuka ruang pertemuan bagi anak muda Purwokerto dari berbagai komunitas.
Kehadiran acara musik membuat Distrik Kobar tidak hanya berfungsi sebagai tempat menikmati kopi. Kedai ini berkembang menjadi ruang berkumpul yang mempertemukan orang-orang dengan minat dan latar belakang berbeda.
Kisah Distrik Kobar menunjukkan bahwa warisan keluarga tidak selalu harus dipertahankan dalam bentuk bangunan yang hanya menyimpan kenangan.
Di tangan Deka, rumah peninggalan kakek justru dihidupkan kembali menjadi tempat yang memiliki fungsi sosial dan ekonomi. Rumah tersebut menjadi ruang bagi orang-orang untuk bertemu, berbincang, bertukar informasi, hingga membangun relasi baru.
Perjalanan Distrik Kobar juga memperlihatkan bahwa membangun usaha tidak selalu harus dimulai dari modal materi yang besar.
Pengalaman bekerja sebagai barista, keberadaan rumah keluarga, serta keberanian untuk mencoba menjadi modal awal yang kemudian dikembangkan secara bertahap.
Bagi generasi muda, kisah tersebut menjadi contoh bahwa warisan keluarga dapat diberi kehidupan baru tanpa kehilangan nilai emosionalnya.
Rumah yang dahulu menjadi bagian dari cerita keluarga, kini berkembang menjadi ruang yang menghadirkan cerita baru bagi banyak orang di Purwokerto. (Reza Nugraha)